Speak Up Soal Child Grooming, Aurelie Moeremans Kaget Banyak yang Cerita Mengalami Hal Serupa
Child Grooming sendiri merupakan praktik manipulasi yang dilakukan orang dewasa terhadap anak. Umumnya berujung pelecehan dan eksploitasi.
Ringkasan Berita:
- Aurelie Moeremans mengungkap pengalamannya sebagai korban child grooming dalam memoar berjudul Broken Strings.
- Memoar tersebut viral dan diperbincangkan di media sosial.
- Sekira 12 tahun silam sebetulnya Aurelie pernah speak up soal pengalamannya tersebut. Tapi tidak menuai respons seperti sekarang
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Aurelie Moeremans mengaku pernah mencoba bersuara mengenai yang dialaminya sebagai korban child grooming.
Saat itu, ceritanya diabaikan. Publik menganggap itu bukan suatu masalah. Hingga akhirnya 2026, kisahnya yang ia rangkum dalam buku berjudul Broken Strings, viral.
Butuh waktu sekira 12 tahun hingga suara Aurelie dapat diterima secara lebih luas oleh publik.
Lewat unggahan di kanal siaran instagram pribadinya, Aurelie mengulas kembali berbagai upaya yang pernah ia lakukan di masa lalu.
Baca juga: KPAI: Child Grooming Bukan Relasi Suka Sama Suka, Korban Tak Sadar dalam Bahaya
"Topik ini masih tabu di Indonesia (saat itu). Aku tahu, karena aku pernah coba speak up. Tahun 2014 aku diserang. Tahun 2020 aku coba lagi, tipis-tipis, tidak ada hasil," tulis Aurelie, dikutip Minggu (18/1/2026).
Aurelie menilai kondisi sosial di Indonesia saat ini telah mengalami perubahan yang cukup besar.
Ketika ia merilis buku digital berjudul Broken Strings pada awal 2026, respons yang diterimanya jauh berbeda dibandingkan satu dekade sebelumnya, tanpa serangan victim blaming yang masif.
"Sekarang 2026, walaupun niat awalnya cuma journaling, akhirnya didengar tanpa victim blaming yang masif," ungkapnya.
Istri Tyler Bigenho tersebut menegaskan bahwa keputusannya untuk menerbitkan memoar itu bukanlah bentuk pembuktian dirinya adalah sosok yang paling kuat.
Ia menjelaskan, langkah tersebut diambil atas dasar kepedulian dan empati terhadap para penyintas lain yang mungkin masih memendam luka dan merasa sendirian dengan trauma yang mereka alami.
"Buku ini aku berani publish bukan karena aku paling kuat, tapi karena aku enggak mau ada satu orang pun yang merasa sendirian atau merasa semua ini salah mereka," jelas Aurelie.
Ia mengaku tak menyangka melihat banyaknya pesan langsung (direct message/DM) yang diterimanya dari para pembaca.
Beragam pesan tersebut menunjukkan bahwa pengalaman child grooming ternyata dialami oleh begitu banyak orang, namun selama ini dipendam tanpa pernah diungkapkan.
"Setiap aku buka DM, aku selalu kaget. Ternyata benar ya, sebanyak ini orang yang pernah mengalami child grooming, dan selama ini mereka simpan sendiri," jelasnya.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/Kondisi-Aurelie-Moeremans-pasca-gegar-otak.jpg)