Pekerja dengan Jam Kerja Berlebihan dan Gaya Hidup yang Buruk Rentan Sakit Jantung
Kelelahan akibat kurangnya keseimbangan antara pekerjaan dan kehidupan pribadi dapat mengganggu metabolisme tubuh. Itu memicu kenaikan tekanan darah.
Program ini mengombinasikan teknik sayatan minimal, pemanfaatan teknologi modern, visualisasi presisi tinggi, serta pendekatan pemulihan cepat, sehingga pasien diharapkan dapat menjalani proses penyembuhan lebih optimal.
Dengan meningkatnya risiko serangan jantung pada usia produktif, kombinasi antara kesadaran masyarakat untuk melakukan deteksi dini dan kesiapan fasilitas kesehatan menjadi faktor krusial.
Upaya preventif dan inovasi layanan diharapkan mampu menekan dampak penyakit jantung sekaligus mempercepat penanganan bagi pasien yang membutuhkan tindakan lebih lanjut.
"Program ini dirancang untuk meminimalkan trauma operasi, memperpendek lama rawat inap, mengurangi nyeri, mempercepat mobilisasi pasien, menurunkan risiko komplikasi, serta meningkatkan kualitas hidup pascaoperasi," jelas jelas dr. Ronald Reagan, MM., MARS, Direktur Mitra Keluarga Kelapa Gading.
"Pasien bypass jantung tidak lagi harus menghadapi ketakutan akan operasi besar dan masa pemulihan yang panjang seperti pada metode konvensional," lanjutnya.
Adapun di Indonesia penyakit jantung hingga kini masih menempati posisi teratas sebagai penyebab kematian.
Tren ini terus meningkat seiring perubahan pola hidup masyarakat serta bertambahnya usia harapan hidup penduduk.
Sebagai informasi tambahan, sebelumnya Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI juga mengingatkan risiko penyakit jantung pada pekerja dengan jam kerja berlebihan.
Data Survei Angkatan Kerja Nasional (Sakernas) menunjukkan 25,47 persen penduduk bekerja lebih dari 49 jam per minggu.
Direktur Penyakit Tidak Menular Kemenkes RI dr. Siti Nadia Tarmizi menjelaskan, kelelahan akibat kurangnya keseimbangan antara pekerjaan dan kehidupan pribadi dapat mengganggu metabolisme tubuh.
Kondisi ini berpotensi memicu kenaikan tekanan darah dan gula darah yang dalam jangka panjang meningkatkan risiko penyakit jantung dan stroke.
(Tribunnews.com/ M Alivio Mubarak Junior)