Tips Atur Makan dan Komposisi Gizi Pasien Diabetes selama Ramadan
Setelah seharian berpuasa, pasien diabetes perlu menghindari makan berlebihan saat berbuka.
Ringkasan Berita:
- Bagi pasien diabetes, pola makan saat sahur, berbuka, dan makan malam harus dirancang secara sadar
- Sahur menjadi fondasi utama karena menentukan kestabilan energi sepanjang hari
- Pasien diabetes dianjurkan sahur mendekati waktu imsak, sekitar 30 menit sebelumnya, agar cadangan energi bertahan lebih lama
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – Mengatur makan selama Ramadan menjadi tantangan tersendiri bagi pasien diabetes.
Bukan hanya soal memilih makanan, tetapi juga mengatur waktu makan, komposisi gizi, dan dukungan keluarga agar gula darah tetap stabil selama berpuasa.
Bagi pasien diabetes, pola makan saat sahur, berbuka, dan makan malam harus dirancang secara sadar.
Sahur menjadi fondasi utama karena menentukan kestabilan energi sepanjang hari.
“Ya, jadi memang paling penting saat bulan puasa atau bulan Ramadan, sahur itu merupakan kunci dari keberhasilan kita menjalani Ramadan. Jadi saat kita berpuasa, ya memang niatnya harus sahur. Jadi harus pakai sahur,"ungkapnya pada talkshow kesehatan virtual yang diselenggarakan oleh Kementerian Kesehatan, Kamis (12/2/2026).
Sahur Jadi Kunci Pengaturan Makan
Sahur yang terlalu dini atau bahkan dilewatkan meningkatkan risiko hipoglikemi dan lonjakan gula darah.
Karena itu, pasien diabetes dianjurkan sahur mendekati waktu imsak, sekitar 30 menit sebelumnya, agar cadangan energi bertahan lebih lama.
Dari sisi gizi, total kalori saat puasa harus tetap sama dengan kebutuhan harian sebelum Ramadan.
Baca juga: Waspada Gula Darah Turun Drastis, Simak Panduan Penyesuaian Obat Diabetes Jelang Puasa
Komposisi umumnya mencakup karbohidrat 45–50 persen, protein 20–30 persen, dan lemak kurang dari 35 persen, disertai asupan serat yang cukup.
Saat sahur, pilihan utama adalah karbohidrat kompleks dengan indeks glikemik rendah seperti ubi, kentang, dan nasi merah.
Protein rendah lemak seperti dada ayam tanpa kulit atau daging tanpa lemak juga dianjurkan. Buah dan sayuran tinggi serat membantu menjaga gula darah tetap stabil.
“Nah, dianjurkan pada saat sahur, itu konsumsi karbohidrat yang kompleks dan indeks glicemicnya rendah. Misal contoh bisa pakai ubi jalar, bisa pakai kentang, nasi merah, dan lainnya,"lanjutnya.
Selain makanan, hidrasi menjadi bagian penting dari pengaturan makan.
Pola minum yang sering digunakan adalah dua gelas saat sahur, dua gelas saat berbuka, dan empat gelas pada malam hari, meski kebutuhan cairan tiap orang dapat berbeda.
Kontrol Porsi Saat Berbuka
Setelah seharian berpuasa, pasien diabetes perlu menghindari makan berlebihan saat berbuka.
Konsumsi makanan sebaiknya dilakukan bertahap dengan porsi kecil dan rendah gula agar kenaikan gula darah terjadi secara perlahan.
Minuman manis, karbohidrat sederhana seperti nasi putih, serta makanan tinggi lemak jenuh dan gorengan perlu dibatasi.
Kebiasaan makan berlebihan saat berbuka justru bisa menyebabkan berat badan naik selama Ramadan.
“Jadi pasien-pasien diabetes ini penting sekali untuk memerhatikan. Kalau buka puasa ini enggak boleh mungkin yang manis-manis sama goreng-gorengan,"imbuhnya.
Pengaturan makan pasien diabetes selama puasa tidak hanya bergantung pada individu, tetapi juga dukungan keluarga dalam menyiapkan menu sehat.
Dengan strategi makan yang tepat sejak sahur hingga berbuka, pasien diabetes tetap dapat menjalani Ramadhan dengan aman dan nyaman.
(Tribunnews.com/ Aisyah Nursyamsi)
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.