Waspada Gula Darah Turun Drastis, Simak Panduan Penyesuaian Obat Diabetes Jelang Puasa
Dengan perencanaan yang tepat, pasien diabetes dapat menjalani puasa dengan lebih tenang dan terkontrol.
Ringkasan Berita:
- Dokter spesialis penyakit dalam dr. Helmi Fakhruddin, Sp.PD, menegaskan bahwa kontrol kesehatan bagi penderita diabetes sebelum Ramadan tidak boleh ditunda
- Setiap jenis obat yang dikonsumsi penderita diabetes memiliki risiko efek samping yang berbeda saat puasa
- Bagi pasien yang biasa minum obat tiga kali sehari, jadwal tersebut tidak memungkinkan saat puasa, sehingga harus disesuaikan menurut anjuran dokter
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – Perubahan jam makan selama Ramadhan membuat penderita diabetes perlu perhatian ekstra dalam mengatur obat.
Tanpa penyesuaian yang tepat, risiko efek samping seperti gula darah turun drastis bisa meningkat.
Karena itu, persiapan sebelum puasa menjadi langkah penting agar ibadah tetap aman.
Dokter spesialis penyakit dalam dr. Helmi Fakhruddin, Sp.PD,, menegaskan bahwa kontrol kesehatan sebelum Ramadan tidak boleh ditunda.
“Jadi, kita memang menganjurkan kalau bisa paling lambat itu 4 minggu sebelum Ramadan, pasien-pasien ini sudah mulai kontrol ke dokter masing-masing,” ujar dr. Helmi Fakhruddin, Sp.PD pada talkshow kesehatan virtual yang diselenggarakan oleh Kementerian Kesehatan, Kamis (12/2/2026).
Baca juga: Batasan Aman Puasa Ramadan untuk Penderita Diabetes
Berikut tips spesifik yang perlu diperhatikan penderita diabetes berdasarkan penjelasan dr. Helmi:
1. Kontrol ke Dokter Minimal 4 Minggu Sebelum Ramadhan
Pasien diabetes dianjurkan melakukan pemeriksaan 4–8 minggu sebelum Ramadan, atau paling lambat 1 bulan sebelumnya.
Waktu ini dibutuhkan dokter untuk menyiapkan strategi terapi selama puasa.
Melalui kontrol ini, dokter akan mengevaluasi obat yang sedang dikonsumsi serta menyesuaikan rencana pengobatan agar aman dijalani selama Ramadhan.
2. Evaluasi Jenis Obat yang Dikonsumsi
Pasien diabetes memiliki jenis terapi yang beragam, mulai dari obat minum hingga insulin suntik.
Setiap jenis obat memiliki risiko efek samping yang berbeda saat puasa.
Dokter akan menilai obat yang sebelumnya digunakan pasien, terutama obat yang berisiko tinggi menimbulkan efek samping selama Ramadhan. Evaluasi ini menjadi dasar untuk menentukan perubahan terapi.