Bukan Menuntut Sempurna, Ade Fitrie Kirana Tekankan Ketulusan Ibu Mendidik Karakter Anak
Ade mendorong para orang tua untuk menciptakan atmosfer ibadah yang menyenangkan dan jauh dari kesan kaku.
Ringkasan Berita:
- Dalam sebuah diskusi hangat bersama komunitas ibu dan pendidik, Ade menekankan bahwa sosok ibu adalah kompas moral utama bagi anak.
- Ade mengingatkan para orang tua agar tidak berkecil hati jika anak belum sepenuhnya memahami konsep agama yang rumit.
- Pendekatan yang sabar dan tulus akan membantu anak mengelola emosi dan membentuk karakter yang kokoh di masa depan.
TRIBUNNEWS.COM - Di tengah gempuran informasi era digital, tantangan mendidik anak kini semakin kompleks. Anak-anak sering kali terpapar ritual ibadah secara mekanis tanpa memahami esensi nilai di dalamnya.
Fenomena inilah yang mendorong aktris, pebisnis, sekaligus aktivis sosial, Ade Fitrie Kirana, untuk berbagi pesan mendalam kepada para ibu mengenai pentingnya literasi agama sejak dini.
Dalam sebuah diskusi hangat bersama komunitas ibu dan pendidik, Ade menekankan bahwa sosok ibu adalah kompas moral utama bagi anak.
Ia menyoroti fakta bahwa anak-anak adalah pengamat yang ulung, mereka lebih banyak belajar dari apa yang mereka lihat ketimbang apa yang mereka dengar.
Baca juga: Wisata Edukasi Kampung Batik Laweyan Solo, Cara Unik Pelatihan Membatik dengan Media Kipas Kain
“Ibu-ibu, anak itu meniru hati kita, bukan sekadar ucapan kita. Ketika mereka melihat ibunya menjalankan ibadah dengan kesungguhan, mereka akan menangkap maknanya, bukan sekadar mengikuti ritualnya,” ungkap Ade Fitrie Kirana.
Bagi Ade, membangun literasi agama pada anak bukanlah perlombaan untuk menjadi sempurna.
Fokus utamanya adalah bagaimana menanamkan nilai-nilai moral, empati, dan ketulusan hati dalam setiap tindakan sehari-hari.
Ia percaya bahwa pendekatan yang sabar dan tulus akan membantu anak mengelola emosi dan membentuk karakter yang kokoh di masa depan.
Ade mengingatkan para orang tua agar tidak berkecil hati jika anak belum sepenuhnya memahami konsep agama yang rumit.
Menurutnya, yang paling membekas di memori anak adalah konsistensi dan rasa damai yang ditunjukkan orang tua saat beribadah.
“Jangan khawatir jika anak belum mengerti sepenuhnya. Yang penting, tunjukkan kesabaran. Mereka akan menyerap nilai-nilai itu pelan tapi pasti, dan itu akan tertanam seumur hidup,” jelas aktivis yang konsisten memperjuangkan hak perempuan dan anak ini.
Lebih lanjut, Ade mendorong para orang tua untuk menciptakan atmosfer ibadah yang menyenangkan dan jauh dari kesan kaku.
Ia menyarankan agar makna doa, puasa, hingga sedekah disampaikan melalui pengalaman praktis sehari-hari dan komunikasi yang terbuka. Dengan begitu, anak merasa didengar dan dihargai dalam proses belajarnya.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/Ade-Fitrie-Kirana-1-13112025.jpg)