Perankan Aktivis di Film The Bell, Shalom Razade Tertantang Dialog Bahasa Belitung
Shalom Razade harus memastikan dialog berbahasa Belitung yang diucapkan terdengar natural, bukan sekadar hafalan ketika proses syuting berjalan.
Ringkasan Berita:
- Shalom Razade membintangi film The Bell: Panggilan untuk Mati
- Shalom mengungkapkan bahwa tantangan terbesar yang ia hadapi selama proses syuting bukan pada adegan atau suasana horor, melainkan harus fasih bahasa Belitung
- Film The Bell: Panggilan untuk Mati sendiri merupakan produksi Sinemata Buana Kreasindo yang mengangkat kisah horor dari mitos lokal Belitung tentang sosok Penebok, hantu tanpa kepala yang menjadi teror utama dalam cerita
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Aktris Shalom Razade membagikan pengalaman menantang saat memerankan karakter Isabella dalam film The Bell: Panggilan untuk Mati.
Dalam film ini, Shalom tidak hanya berperan sebagai tokoh dengan latar berbeda dari karakter lain, tetapi juga dituntut menguasai bahasa Belitung agar terlihat meyakinkan di layar.
Shalom mengungkapkan bahwa tantangan terbesar yang ia hadapi selama proses syuting bukan pada adegan atau suasana horor, melainkan harus fasih bahasa Belitung.
“Tantangannya ya soal bahasa Belitong ya," ungkap Shalom Razade di kawasan Cikini Jakarta Pusat, Selasa (7/4/2026).
"Sebisa mungkin orang, penonton percaya kalau, ‘wah ini fasih banget bahasanya’ dan itu sangat sulit,” ujar Shalom.
Menurutnya, membangun kepercayaan penonton menjadi hal krusial, terutama karena karakter Isabella digambarkan sangat lekat dengan latar lokal.
Ia harus memastikan dialog yang diucapkan terdengar natural, bukan sekadar hafalan ketika proses syuting berjalan.
Meski demikian, Shalom mengaku proses produksi secara keseluruhan berjalan nyaman berkat dukungan dari para pemain dan kru. Ia merasa suasana kerja yang solid membuat tantangan terasa lebih ringan.
“Selain itu, challenge-nya apa ya? Mungkin nggak selain bahasa itu nggak ada, karena mungkin kolaborasi kita semua saling mendukung, apalagi pas reading,” katanya.
Dalam film ini, Isabella bukan sekadar karakter biasa. Shaloom menyebut tokoh yang ia perankan adalah seorang aktivis yang memperjuangkan hak-hak pribumi di masanya, dengan latar waktu yang berbeda dari karakter lain di cerita.
“Oh iya, dan Isabella itu adalah seorang aktivis. Aktivis yang membela hak-hak pribumi pada masa yang berbeda dengan mereka semua, jadinya aku timeline-nya beda dengan cast yang lain,” jelasnya.
Film The Bell: Panggilan untuk Mati sendiri merupakan produksi Sinemata Buana Kreasindo yang mengangkat kisah horor dari mitos lokal Belitung tentang sosok Penebok, hantu tanpa kepala yang menjadi teror utama dalam cerita.
Film The Bell berkisah tentang sebuah lonceng keramat di Belitung yang dipercaya mampu mengurung roh-roh jahat dicuri oleh sekelompok YouTuber demi konten.
Tanpa mereka sadari, tindakan tersebut justru membebaskan Penebok sosok entitas mengerikan yang telah terkurung selama ratusan tahun.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/Shalom-Razade-1-07042026.jpg)