Mendengar Masa Depan dari Bibir Generasi Muda, Public Speaking Bisa Mengguncang Dunia
Panggung Perpustakaan Nasional RI, Jakarta, mendadak riuh oleh energi positif dan tepuk tangan yang membahana.
Ringkasan Berita:
- Usia bukanlah batasan untuk mengguncang dunia lewat kata-kata melalui ucapan di depan publik (Public Speaking).
- Generasi muda bukan lagi sekadar pemanis, melainkan sebuah kebutuhan untuk berani berbicara.
- Pesan kuat inilah yang menggema dalam ajang Public Speaking Championship (PSC) 2026.
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Panggung Perpustakaan Nasional RI, Jakarta, mendadak riuh oleh energi positif dan tepuk tangan yang membahana.
Di sinilah, suara-suara muda dari berbagai penjuru Indonesia berkumpul untuk membuktikan bahwa usia bukanlah batasan untuk mengguncang dunia lewat kata-kata.
Ada kekuatan luar biasa ketika seorang anak atau remaja berdiri di depan mikrofon, menatap ratusan pasang mata, dan menyuarakan isi kepalanya tanpa ragu.
Di tengah dunia yang sedang menghadapi berbagai tantangan global—mulai dari krisis lingkungan hingga ketidakpastian ekonomi—suara generasi muda bukan lagi sekadar pemanis, melainkan sebuah kebutuhan.
Baca juga: Literasi Nggak Kenal Waktu, Tapi Kenapa Perpustakaan di Indonesia Jarang Buka Sampai Malam?
Pesan kuat inilah yang menggema dalam ajang Public Speaking Championship (PSC) 2026.
Mengusung tema besar “Shout Your Thoughts & Be Heard from Afar”, kompetisi yang diinisiasi oleh Indonesia Intelektual Akademi dan Ingatan Gajah serta dikurasi oleh Pusat Prestasi Nasional ini menjadi bukti nyata: ketika anak muda diberi panggung, mereka siap mengguncang dunia dengan gagasan mereka.
"Ajang ini dihadirkan sebagai wadah bagi generasi muda Indonesia untuk berani bersuara, menyampaikan ide, merangkai gagasan, dan menembus batas keraguan," tegas Rizka Alvina Hasni, Ketua Pelaksana PSC 2026.
Lebih dari Kompetisi: Mengapa Dunia Perlu Mendengar Suara Muda?
Mengapa kemampuan public speaking dan keberanian berpendapat sejak dini begitu krusial? Kompetisi ini memotret tiga manfaat utama dari suara-suara muda yang lahir di atas panggung:
1. Menghidupkan Solusi Kritis untuk Isu Global
Pada Kategori Remaja Speech yang mengusung tema Peran Remaja dalam Sustainability, para peserta tidak hanya berpidato, tetapi juga menawarkan perspektif segar tentang bagaimana generasi mereka memandang masa depan bumi.
Garuda Langit Oscar Luigy (SMP Al-Azhar Syifa Budi Cibubur) yang meraih Juara 1, bersama finalis lainnya, membuktikan bahwa remaja hari ini peduli dan memiliki solusi kritis terhadap keberlanjutan lingkungan.
Begitu pula di kategori News Reading bertema Economic Growth, di mana Faza Naura Hanifah (SMPIT Al Furqon Palembang) berhasil membawa narasi pertumbuhan ekonomi dengan ketegasan yang memukau. Ini adalah sinyal bahwa isu makro pun sudah mampu dicerna dan dikritisi oleh cara pandang muda.
2. Merawat Identitas Bangsa Lewat Dongeng
Melalui Kategori Anak Story Telling berbertema The Wonderful Indonesian Folklore, anak-anak seperti Myesha Shakila Harahap (SD Khalifa IMS Tegal) yang meraih Juara 1, menjadi penjaga estafet budaya. Suara polos namun penuh imajinasi milik mereka adalah cara paling ampuh untuk memastikan kekayaan tradisi Indonesia tidak tenggelam digerus zaman.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/Perpustakaan-Nasional-1-02062026.jpg)