Tantowi Yahya: Musik Tak Hanya Menghibur, Tapi Juga Menumbuhkan Empati dan Harapan
Pesan itulah yang disampaikan Tantowi Yahya melalui konser amal Romancing The Past yang digelar di Ballroom Djakarta Theatre, Jakarta Pusat.
Ringkasan Berita:
- Konser amal Romancing The Past menghadirkan Tantowi Yahya, Trio Libels, dan sejumlah musisi untuk memadukan nostalgia dengan aksi kemanusiaan
- Melalui musik, Tantowi mengajak masyarakat menumbuhkan empati dan berbagi harapan bagi mereka yang sedang berjuang melawan penyakit
- Acara yang dihadiri lebih dari 400 penonton itu juga mendukung program sosial Yayasan Lions Indonesia
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – Bagi Tantowi Yahya, musik bukan sekadar hiburan yang membangkitkan kenangan masa lalu.
Di tangan yang tepat, musik juga dapat menjadi jembatan yang menghubungkan kepedulian, empati, dan harapan bagi mereka yang sedang menghadapi masa-masa sulit dalam hidup.
Pesan itulah yang ingin disampaikan melalui konser amal Romancing The Past yang digelar di Ballroom Djakarta Theatre, Jakarta Pusat belum lama ini.
Dalam acara yang memadukan lagu-lagu nostalgia dengan aksi sosial tersebut, Tantowi tidak hanya tampil sebagai host dan pengisi acara, tetapi juga mengajak masyarakat melihat bahwa kenangan indah dapat diubah menjadi energi untuk membantu sesama.
Baca juga: 6 Alasan Orang Indonesia Pilih Berobat ke Penang Malaysia Diungkap Tantowi Yahya: Cepat dan Murah
Menurut Tantowi, kekuatan sebuah lagu tidak hanya terletak pada melodi atau liriknya, tetapi juga pada kemampuannya menyentuh emosi dan menghadirkan rasa kebersamaan.
Melalui konser yang menghadirkan Trio Libels, Putri Ayu, Alfred Ayal, Il Bido, serta sejumlah tamu spesial seperti Wakil Menteri Kebudayaan Giring Ganesha, Fryda Luciana, dan Andre Hehanussa, para penonton diajak kembali mengingat berbagai fase kehidupan melalui lagu-lagu yang pernah populer di radio, film, maupun televisi.
Namun bagi Tantowi, malam itu memiliki makna yang lebih dalam daripada sekadar bernostalgia.
"Harapannya masyarakat lebih mengenal berbagai program kemanusiaan yang ada dan tergerak untuk menjadi bagian dari gerakan membantu sesama, terutama bagi mereka yang sedang berjuang menghadapi penyakit dan berbagai keterbatasan," ujarnya.
Konser amal tersebut diselenggarakan Yayasan Lions Indonesia sebagai bagian dari upaya menghimpun dukungan bagi berbagai program kemanusiaan, termasuk pembangunan Rumah Singgah Lions untuk anak-anak penderita kanker dan pengembangan fasilitas Klinik Hemodialisa Lions.
Ketua Badan Pengurus Yayasan Lions Indonesia, Peter C, mengatakan kegiatan ini juga menjadi momentum memperkenalkan berbagai program sosial yang telah dijalankan yayasan selama puluhan tahun.
"Acara ini memperkenalkan Yayasan Lions Indonesia kepada masyarakat luas dan menggalang dana bagi Rumah Singgah Lions serta Klinik Hemodialisa Lions, termasuk dukungan dari kalangan non-Lions," kata Peter C.
Sementara itu, Ketua Panitia Romancing The Past, Wenni Arsianty, menjelaskan bahwa konsep konser sengaja dikemas dengan nuansa nostalgia agar dapat menghadirkan hiburan sekaligus menggerakkan kepedulian sosial.
"Bukan hanya untuk menghibur para hadirin dengan musik bernuansa nostalgia, tetapi sekaligus menjadi momentum untuk menghimpun dukungan masyarakat bagi gerakan kemanusiaan," ujarnya.
Antusiasme masyarakat terlihat dari seluruh tiket yang terjual habis. Lebih dari 400 penonton memadati ballroom dan bertahan selama hampir tiga jam menikmati 32 lagu yang dibawakan para musisi dengan iringan Thomshell Big Band.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/Tantowi-Yahya-1-17062026.jpg)