Berlari dengan Cancer Warrior: Simbol Perjuangan dan Pentingnya Deteksi Dini Kanker
Bagi 165 penyintas yang ikut berlari, kegiatan ini adalah perayaan atas perjuangan mereka sekaligus doa agar mereka terus sehat dan bahagia.
Salah satu di antaranya adalah Deayu, seorang ibu muda yang baru saja menyelesaikan kemoterapi. Berlari bersama suami dan anak-anaknya, ia berbagi kisahnya dengan penuh emosi.
"Awalnya saya merasa sendirian dalam perjuangan ini. Tapi dukungan suami dan ketiga anak saya menjadi kekuatan terbesar saya untuk terus bangkit. Hari ini, perhatian dan kepedulian kalian semua adalah sumber harapan bagi kami para pejuang kanker," ujarnya.
Hal yang senada juga disampaikan anggota komunitas pejuang kanker Samudera Kasih, Lolita (49).
Penyintas kanker payudara ini mengatakan, kehadiran komunitas sebagai support system untuk tempat saling berbagi penyintas dan pasien kanker.
Ia mengatakan, kehadiran komunitas menjadi wadah untuk saling memberi semangat kepada sesama pejuang.
Saat terdiagnosa kanker, komunitas mendorong pasien untuk menjadikan pengobatan medis menjadi hal yang utama.
“Kami tidak merasa sendiri dengan acara seperti ini membuktikan kepada teman-teman yang sehat, bahwa kami ini fine, kami ini bisa, kami sehat juga bisa sembuh. Medis adalah utama. Tolong ikuti step-step yang dianjurkan oleh dokter Kalaupun ada efek-efek. Tetap semangat being a cancer warrior, Cancer survivor itu is a gift dari Allah bahwa kami semua pribadi-pribadi yang mampu dan yang kuat,” kata Lolita.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/Peserta-ajang-lari-MRCCC-Run-For-Hope-2025-menempel-foto.jpg)