Selasa, 5 Mei 2026

Thomas dan Uber Cup

Juara Thomas Cup 2026 Bukti Ambisi Saja Tak Cukup, Mental dan Pengalaman yang Berbicara

Duel final Thomas Cup 2026 jadi bukti bahwa ambisi saja tak cukup membawa pulang piala, mentalitas dan pengalaman yang berbicara.

Tayang:
Ringkasan Berita:
  • China berhasil mengamankan gelar juara Thomas Cup ke-12 setelah melewati perlawanan sengit dari tim Prancis
  • Shi Yu Qi menunjukkan mentalitas juara dunia dengan mengalahkan Christo Popov meski sedang dalam kondisi pemulihan sakit
  • Prancis secara resmi mengukuhkan posisi mereka sebagai kekuatan baru bulu tangkis dunia lewat performa yang sangat kompetitif

TRIBUNNEWS.COM - Perhelatan final Thomas Cup 2026 yang telah rampung menyisakan sorotan soal bentrokan dua kubu yang kontras antara sang penguasa lama yang mapan melawan kekuatan baru.

Di satu sisi, ada tim yang sudah sangat akrab dengan podium juara, diperkuat barisan pemain yang menjadi bukti sahih betapa digdayanya sistem pembinaan mereka selama berdekade-dekade.

Di sisi lain, dunia menyaksikan lahirnya kekuatan baru dengan wajah-wajah segar yang membawa pendekatan berbeda dalam permainan bulu tangkis.

Dalam duel final kemarin, pengalaman akhirnya berbicara lebih keras daripada ambisi. China sukses mengunci gelar ke-12 mereka setelah menundukkan perlawanan sengit Prancis dengan skor 3-1.

Namun, skor akhir tersebut tidak benar-benar menggambarkan betapa tipisnya jarak antara kemenangan dan kekalahan dalam laga ini.

Badminton Lovers kini hanya bisa berandai-andai terkait apa yang akan terjadi jika Christo Popov dan Toma Junior Popov berhasil mengonversi keunggulan tipis mereka di poin-poin kritis saat menghadapi Shi Yu Qi dan Weng Hong Yang?

Untuk saat ini, Prancis terpaksa pulang dengan membawa ribuan kata "seandainya". Padahal, armada Les Bleus telah mengerahkan segala kemampuan, bahkan melampaui batas limit mereka.

lihat fotoSHI YU QI - Pebulu tangkis tunggal putra China Shi Yu Qi mengembalikan kok ke arah pebulu tangkis tunggal putra Denmark Anders Antonsen dalam babak final Kapal Api Indonesia Open 2024 di Istora Senayan, Jakarta, Minggu (9/6/2024). Pebulu tangkis tunggal putra China Shi Yu Qi berhasil menjuarai Kapal Api Indonesia Open 2024 setelah mengalahkan Anders Antonsen dengan skor 21-9, 12-21 dan 21-14.?TRIBUNNEWS/IRWAN RISMAWAN
SHI YU QI - Pebulu tangkis tunggal putra China Shi Yu Qi mengembalikan kok ke arah pebulu tangkis tunggal putra Denmark Anders Antonsen dalam babak final Kapal Api Indonesia Open 2024 di Istora Senayan, Jakarta, Minggu (9/6/2024). Pebulu tangkis tunggal putra China Shi Yu Qi berhasil menjuarai Kapal Api Indonesia Open 2024 setelah mengalahkan Anders Antonsen dengan skor 21-9, 12-21 dan 21-14.?TRIBUNNEWS/IRWAN RISMAWAN

Mentalitas Baja Sang Kapten

Penampilan Prancis di final ini menegaskan bahwa mereka bukan lagi tim kuda hitam, melainkan kekuatan elit yang mampu meladeni pemain-pemain terbaik dunia.

Tidak ada rasa gentar terhadap reputasi mentereng lawan. Prancis bertarung habis-habisan dalam tiga partai pembuka.

Duel pembuka antara Christo Popov melawan Shi Yu Qi adalah perwujudan dari apa yang sering disebut sebagai partai impian di Thomas Cup 2026.

Shi Yu Qi, yang sejatinya belum pulih total dari infeksi gastroenteritis yang dideritanya sejak awal turnamen, tampak sangat kepayahan di sela-sela reli.

Tapi begitu shuttlecock melambung, ia seolah bertransformasi menjadi monster.

Baca juga: Daftar Juara Thomas Cup Sepanjang Masa: China Back to Back, Indonesia Masih yang Paling Digdaya

Christo sempat memberikan tekanan hebat. Ia bahkan memimpin 16-14 di gim penentuan. Namun, Shi Yu Qi secara ajaib mampu membalikkan keadaan.

Kemampuannya dieksekusi dengan kontrol dan presisi sempurna setelah satu jam bertarung dalam kondisi fisik yang lemah.

"Saya tahu meskipun saya unggul atas Shi Yu Qi, dia adalah pemain yang sangat hebat dalam melakukan comeback. Dia bangkit di saat yang tepat, dan pada akhirnya, ini hanya soal detail kecil, dia lebih tajam dalam menyerang daripada saya," aku Christo Popov mengutip BWF.

"Terkadang, meskipun saya sudah melakukan lift yang baik, dia tetap bisa menghasilkan poin kemenangan. Dia lebih baik dari saya, terutama di gim ketiga saat dia bangkit, ditambah beberapa kesalahan dari sisi saya yang membuat saya kalah."

Christo menambahkan betapa berartinya momen ini bagi kariernya.

"Pengalamannya sungguh luar biasa. Saya benar-benar ingin menang hari ini (red: di final). Saya sudah sangat dekat dengan kemenangan, tetapi beberapa kesalahan di akhir harus dibayar mahal," tegasnya.

Shi Yu Qi pun tak segan melempar pujian bagi lawannya.

"Dia menunjukkan performa yang sangat, sangat tinggi, dan kami berdua bermain dengan sangat cerdas. Itu adalah pertandingan yang sangat sulit."

"saya mencoba yang terbaik untuk menang agar bisa menyemangat rekan tim saya. Saya ingin memberikan motivasi kepada mereka," kata Shi Yu Qi.

Skenario yang Nyaris Sempurna

lihat fotoCHRISTO POPOV - Christo Popov dari Prancis melakukan pukulan balasan saat final tunggal putra melawan Shi Yuqi dari Tiongkok di BWF World Tour Finals 2025 di Hangzhou, Provinsi Zhejiang, Tiongkok timur, 21 Desember 2025. (Xinhua/Jiang Han)
CHRISTO POPOV - Christo Popov dari Prancis melakukan pukulan balasan saat final tunggal putra melawan Shi Yuqi dari Tiongkok di BWF World Tour Finals 2025 di Hangzhou, Provinsi Zhejiang, Tiongkok timur, 21 Desember 2025. (Foto Arsip 21 Desember 2025). (Xinhua/Jiang Han)

Harapan terbaik Prancis untuk menyapu bersih tiga partai tunggal sempat terjaga. Alex Lanier menunjukkan kelasnya dengan meluluhlantakkan Li Shi Feng melalui skor telak 21-13, 21-10, sekaligus memperpanjang napas timnya.

Drama mencapai puncaknya saat Weng Hong Yang berhadapan dengan Toma Junior Popov. Sebuah duel yang benar-benar berada di ujung tanduk.

Hanya satu poin yang memisahkan keduanya pada menit ke-96. Saat menghadapi servis Toma di kedudukan 19-20, Weng melepaskan sebuah return tipuan yang sangat cantik, membuat Toma terpaku tak berdaya di posisinya.

Kemenangan kedua di sektor tunggal bagi China ini seolah memadamkan api semangat Prancis.

Meski Eloi Adam dan Leo Rossi telah mengerahkan segalanya saat melawan He Ji Ting dan Ren Xiang Yu, pasangan China tersebut memiliki "senjata" yang lebih mematikan dan menyudahi perlawanan dalam waktu 38 menit.

Prancis mungkin kalah dalam papan skor, namun kombinasi dari visi, kemampuan, dan kerja keras telah membantu mereka menjadi bintang utama dalam sebuah laga klasik yang akan selalu dikenang sebagai salah satu final Thomas Cup terbaik sepanjang masa.

(Tribunnews.com/Niken)

Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved