Liga 2
Pegadaian Liga 2 2024/2025 Berakhir dengan Senyuman Bahagia, Pelaku UMKM Memanen Untung
Pegadaian Liga 2 2024/2025 berakhir dengan senyum, tidak hanya suporter PSIM yang merayakan tim kesayangan mereka yang juara, tetapi juga pelaku UMKM.
Penulis:
Muhammad Nursina Rasyidin
Editor:
Sri Juliati
“Kalau untuk Liga 2 di musim kompetisi 2024/2025 ini kalau kami melihat secara penyelenggaraan kompetisi sudah banyak kemajuan, baik dalam format kompetisi dan sebagainya,” kata EVP Marketing PT Pegadaian, Yudi Sadono dari video wawancara yang diterima pada Kamis (27/2/2025).
“Sampai final ini dengan antusias semua penonton yang sama-sama kita lihat (Stadion Manahan full suporter PSIM) menjadi sebuah kebanggaan bagi kita. Penyelenggaraan tahun ini lebih baik di mana seluruh tim peserta kompetisi Liga 2 juga memberikan penampilan yang terbaik untuk bisa naik kasta,” sambungnya.
Yudi mengungkapkan, Pegadaian ingin berperan serta memajukan sepak bola Indonesia serta meningkatkan pendapatan dari pelaku UMKM. Dengan hadir sebagai sponsor, ia berharap ajang ini menjadi wadah untuk mendekatkan Pegadaian yang kini holding dengan BRI dan PNM di sektor Ultra Mikro (UMi) memenuhi kebutuhan pelaku usaha dan dapat memberikan pelayanan seefisien mungkin.
“Pegadaian ingin berperan serta untuk meningkatkan pendapatan dari UMKM yang tersebar di setiap kompetisi (pertandingan) yang dilakukan. UMKMnya pasti bergerak dengan adanya kumpulan-kumpulan dari suporter atau masyarakat yang ingin menyaksikan pertandingan sepak bola,” ungkapnya.
Sinergi
Mengambil potongan kata Yudi soal kemajuan kompetisi, hal yang diperlukan agar semua berjalan baik dan berkembang tentu sebuah sinergi.
Pelaku UMKM membutuhkan pihak-pihak tertentu untuk mengembangkan produk dan dagangan mereka. Bisa dalam bentuk permodalan, proses produksi, packaging, hingga pemasaran yang bisa mencakup skala lebih besar bahkan internasional.
Menurut Founder Creative Space Solo, Joko Purwono yang intens bergerak di bidang UMKM kota Solo, industri sepak bola dengan pelaku UMKM sangat berkorelasi.
Pelaku UMKM yang terlibat di dalamnya tidak hanya dari bidang makanan, tetapi bisa melebar ke bidang fashion.
“Sangat berkorelasi sebenarnya. Di UMKM ini kan ada industri yang bergerak di bidang fashion, kerajinan, dan makanan. Seperti sepak bola di Stadion Manahan itu ada stand-stand kulinernya yang sebelumnya sudah dikurasi, kemudian teman-teman UKM bisa menyediakan merchandise-nya, seperti shall. Kemudian bisa kaos dan jaket,” ungkap Joko ketika dikonfirmasi Tribunnews.
“Kalau UKM kerajinan bisa menyediakan suvenirnya. Jadi memang sangat terkorelasi,” sambungnya.
Atau misalkan ada tamu atau suporter yang ingin berwisata di daerah tersebut, juga bisa menyediakan jasa porter untuk membawa mereka ke tempat wisata, kuliner, dan tempat oleh-oleh.
Jadi, selain kompetisi yang maju dengan meningkatkan animo Masyarakat untuk datang ke stadion, tetapi juga meningkatkan perekonomian daerah karena akan terjadi transaksi.
Joko berharap, Lembaga, pemerintahan, dan pelaku UMKM ke depannya dapat bersinergi dengan baik sehingga bisa memperluas jangkauan terhadap produk yang diperjual belikan. Tidak hanya di Solo, tetapi juga daerah-daerah lainnya yang menjadi venue kompetisi pertandingan.
“Harapan saya ke depan tentu sinergi ini semakin dikembangkan, semakin diperluas. Bahkan tidak hanya di Kota Solo, tetapi juga melebar ke daerah lainnya,” bebernya.
Joko mencontohkan, Solo yang ditopang oleh beberapa kabupaten, di seperti Karanganyar sudah menjadi aglomerasi Solo Raya. Jadi, bisa lebih banyak melibatkan UMKM dan stakeholder terkait untuk membantu UKM tersebut.
Sumber: TribunSolo.com
Artikel ini merupakan bagian dari Lestari KG Media, sebuah inisiatif untuk akselerasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Selengkapnya
A member of

Follow our mission at www.esgpositiveimpactconsortium.asia
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.