Liga Inggris
Berkaca Kasus Roman Abramovich, Presiden Manchester City Didesak Pergi dari Inggris
Berkaca pada kasus Roman Abramovich di Chelsea, Presiden Manchester City didesak tinggalkan Inggris imbas konflik di Sudan.
Ringkasan Berita:
- Pemerintah Inggris didesak menyelidiki dan mempertimbangkan sanksi terhadap Sheikh Mansour bin Zayed Al-Nahyan terkait dugaan hubungan dengan konflik kemanusiaan di Sudan.
- Organisasi HAM menilai sanksi terhadap Mansour bisa membuatnya didiskualifikasi dari kepemilikan Manchester City berdasarkan aturan Premier League.
- Kasus ini dibandingkan dengan situasi Roman Abramovich pada 2022, ketika pemerintah Inggris membekukan asetnya hingga memaksa penjualan klub Chelsea.
TRIBUNNEWS.COM - Pemerintah Inggris didesak untuk mempertimbangkan pemberian sanksi terhadap pemilik Manchester City, Sheikh Mansour bin Zayed Al-Nahyan, di tengah memanasnya konflik kemanusiaan yang terus berlangsung di Sudan.
Desakan tersebut muncul di saat Manchester City sendiri masih berada dalam proses penyelidikan terkait lebih dari 115 dugaan pelanggaran aturan financial fair play (FFP) Premier League.
Meski demikian, pihak klub terus menegaskan bahwa mereka tidak bersalah atas seluruh tuduhan yang dialamatkan.
Sheikh Mansour, yang mengambil alih Manchester City pada tahun 2008 melalui dukungan investasi dari Uni Emirat Arab (UEA), menjadi sosok penting di balik transformasi besar-besaran klub asal Manchester tersebut.
Di bawah kepemilikannya, Manchester City menjelma menjadi salah satu kekuatan dominan di sepak bola Inggris dan Eropa dengan koleksi delapan gelar Premier League, satu trofi Liga Champions, tiga Piala FA, serta tujuh trofi Carabao Cup.
Tidak hanya mengubah prestasi di atas lapangan, investasi Mansour juga berdampak besar terhadap pembangunan kawasan Eastlands, Manchester.
Proyek regenerasi tersebut mencakup pengembangan kembali Stadion Etihad beserta area sekitarnya.
Beberapa fasilitas modern seperti Co-Op Live Arena, National Cycling Centre, Velodrome, hingga National Squash Centre turut dibangun di kawasan yang sama dan menjadi bagian dari proyek jangka panjang City Football Group.
Namun di balik kesuksesan tersebut, nama Sheikh Mansour kini terseret dalam isu geopolitik dan konflik kemanusiaan di Sudan.
Konflik yang pecah di Sudan dilaporkan telah menewaskan sedikitnya 150 ribu orang berdasarkan estimasi sejumlah lembaga bantuan internasional dan pemerintah Amerika Serikat.
Baca juga: Arsenal vs West Ham, Pep Guardiola Berharap Magis Musim Lalu: Come on, Irons!
Menurut laporan The Athletic, pemerintah Inggris kini mendapat tekanan dari organisasi hak asasi manusia bernama FairSquare untuk menyelidiki dugaan keterlibatan Mansour terkait dukungan pemerintah UEA terhadap kelompok paramiliter Rapid Support Forces (RSF).
Kelompok tersebut dituduh melakukan berbagai kejahatan perang selama konflik berlangsung di Sudan.
Meski demikian, pemerintah UEA dengan tegas membantah bahwa mereka terlibat dalam konflik tersebut ataupun memberikan dukungan kepada pihak tertentu.
FairSquare menilai bahwa apabila pemerintah Inggris benar-benar menjatuhkan sanksi kepada Sheikh Mansour, maka pemilik Manchester City itu secara otomatis dapat didiskualifikasi dari kepemilikan klub berdasarkan aturan Premier League.
Organisasi tersebut juga mengklaim telah menyampaikan laporan dan keluhan resmi mereka kepada pihak Premier League serta Regulator Sepak Bola independen yang baru dibentuk di Inggris.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/presiden-uea-sheikh-mohamed-bin-zayed-al-nahyan-l-berbicara-dengan-pemilik-man-city-sheikh-mansour.jpg)