Dari Phishing hingga Ransomware, Indonesia Perlu Strategi Proaktif Hadapi Ancaman Siber
Untuk memperkuat ekosistem siber nasional, Fortinet menjalankan NSE Training Institute dan program Academic Partner.
Penulis:
Hasiolan Eko P Gultom
Editor:
Erik S
Hasiolan EP/Tribunnews.com
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Peringatan Hari Kemerdekaan setiap 17 Agustus biasanya menjadi momentum refleksi perjuangan bangsa merebut kedaulatan.
Namun, di era digital, kedaulatan juga ditentukan oleh kemampuan menjaga ruang siber dari ancaman serangan yang semakin kompleks.
Dunia digital kini menopang hampir seluruh aspek kehidupan, mulai dari sistem keuangan, infrastruktur, hingga layanan publik.
Baca juga: Bangun Kultur Baru Birokrasi, Aparatur Sipil Negara Didorong Manfaatkan Kecerdasan Buatan
Sayangnya, perkembangan ini diiringi lonjakan ancaman siber yang semakin canggih dengan pemanfaatan kecerdasan buatan (AI).
“Seperti halnya para pendiri bangsa berjuang untuk kemerdekaan, menjaga kedaulatan digital hari ini membutuhkan kewaspadaan, strategi proaktif, serta pertahanan yang solid dari phishing, ransomware, hingga serangan berbasis AI,” ujar Edwin Lim, Country Director Fortinet Indonesia.
Ancaman Siber Meningkat Tajam
Fenomena Cybercrime-as-a-Service (CaaS) membuat pelaku dengan kemampuan minim dapat menyewa alat serangan canggih.
Survei IDC-Fortinet mencatat 54 persen organisasi di Indonesia mengalami serangan berbasis AI setahun terakhir, dengan lebih dari sepertiga meningkat hingga tiga kali lipat.
Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN) juga mencatat lonjakan signifikan: kasus phishing naik dari 2,4 juta pada 2023 menjadi 26,8 juta di 2024 (melonjak lebih dari 1.000%). Hingga pertengahan 2025, tercatat 5,8 juta aktivitas ransomware dan 9,3 juta serangan Advanced Persistent Threats (APT).
Pilar Ketahanan Siber: Teknologi, Proses, dan Manusia
Edwin Lim menjelaskan, pihaknya menekankan bahwa ketahanan siber hanya bisa terwujud jika dibangun secara menyeluruh melalui tiga aspek utama.
Pertama, dari sisi teknologi, organisasi perlu mengadopsi platform keamanan terpadu yang mampu mengintegrasikan perlindungan pada endpoint, jaringan, cloud, hingga operational technology (OT) dengan dukungan otomatisasi cerdas.
Baca juga: Peluang Pemanfaatan Kecerdasan Buatan di Sektor Industri Dinilai Masih Menjanjikan
Kedua, dari sisi proses, keamanan harus menjadi bagian dari budaya organisasi melalui pemantauan berkelanjutan, kepatuhan pada regulasi, serta penyelarasan dengan tujuan bisnis.
Ketiga, dari sisi manusia, peningkatan kesadaran dan pelatihan berkelanjutan menjadi krusial agar individu tidak mudah tereksploitasi, terutama melalui rekayasa sosial yang kerap menjadi pintu masuk serangan siber.
Indonesia Cyber Forum Bahas Isu Keamanan Siber di Sektor Bisnis dan Digital |
![]() |
---|
Penguasaan Sistem Sertifikasi Digital Nasional Dinilai Penting untuk Kedaulatan Siber Indonesia |
![]() |
---|
Ponsel Pintar Oppo Reno 14 Series Resmi Debut di Indonesia, Ini Spesifikasi dan Harganya |
![]() |
---|
Dari Phising hingga Undian Bodong, Kenali Modus Penipuan di Era Digital |
![]() |
---|
Pertandingan Sepak Bola Robot AI Pertama di China, Ada yang Jatuh dan Harus Ditandu 'Medis' |
![]() |
---|
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.