Sabtu, 30 Agustus 2025

Dari Phishing hingga Ransomware, Indonesia Perlu Strategi Proaktif Hadapi Ancaman Siber

Untuk memperkuat ekosistem siber nasional, Fortinet menjalankan NSE Training Institute dan program Academic Partner.

Editor: Erik S
Tribunnews.com/HO
ARTIFICIAL INTELLIGENCE - Ilustrasi Survei IDC-Fortinet mencatat 54% organisasi di Indonesia mengalami serangan berbasis AI setahun terakhir, dengan lebih dari sepertiga meningkat hingga tiga kali lipat. 

Hasiolan EP/Tribunnews.com

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Peringatan Hari Kemerdekaan setiap 17 Agustus biasanya menjadi momentum refleksi perjuangan bangsa merebut kedaulatan.

Namun, di era digital, kedaulatan juga ditentukan oleh kemampuan menjaga ruang siber dari ancaman serangan yang semakin kompleks.

Dunia digital kini menopang hampir seluruh aspek kehidupan, mulai dari sistem keuangan, infrastruktur, hingga layanan publik.

Baca juga: Bangun Kultur Baru Birokrasi, Aparatur Sipil Negara Didorong Manfaatkan Kecerdasan Buatan

Sayangnya, perkembangan ini diiringi lonjakan ancaman siber yang semakin canggih dengan pemanfaatan kecerdasan buatan (AI).

“Seperti halnya para pendiri bangsa berjuang untuk kemerdekaan, menjaga kedaulatan digital hari ini membutuhkan kewaspadaan, strategi proaktif, serta pertahanan yang solid dari phishing, ransomware, hingga serangan berbasis AI,” ujar Edwin Lim, Country Director Fortinet Indonesia.

Ancaman Siber Meningkat Tajam

Fenomena Cybercrime-as-a-Service (CaaS) membuat pelaku dengan kemampuan minim dapat menyewa alat serangan canggih.

Survei IDC-Fortinet mencatat 54 persen organisasi di Indonesia mengalami serangan berbasis AI setahun terakhir, dengan lebih dari sepertiga meningkat hingga tiga kali lipat.

Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN) juga mencatat lonjakan signifikan: kasus phishing naik dari 2,4 juta pada 2023 menjadi 26,8 juta di 2024 (melonjak lebih dari 1.000%). Hingga pertengahan 2025, tercatat 5,8 juta aktivitas ransomware dan 9,3 juta serangan Advanced Persistent Threats (APT).

Pilar Ketahanan Siber: Teknologi, Proses, dan Manusia

Edwin Lim menjelaskan, pihaknya menekankan bahwa ketahanan siber hanya bisa terwujud jika dibangun secara menyeluruh melalui tiga aspek utama.

Pertama, dari sisi teknologi, organisasi perlu mengadopsi platform keamanan terpadu yang mampu mengintegrasikan perlindungan pada endpoint, jaringan, cloud, hingga operational technology (OT) dengan dukungan otomatisasi cerdas.

Baca juga: Peluang Pemanfaatan Kecerdasan Buatan di Sektor Industri Dinilai Masih Menjanjikan

Kedua, dari sisi proses, keamanan harus menjadi bagian dari budaya organisasi melalui pemantauan berkelanjutan, kepatuhan pada regulasi, serta penyelarasan dengan tujuan bisnis.

Ketiga, dari sisi manusia, peningkatan kesadaran dan pelatihan berkelanjutan menjadi krusial agar individu tidak mudah tereksploitasi, terutama melalui rekayasa sosial yang kerap menjadi pintu masuk serangan siber.

Halaman
12
Berita Terkait

Berita Terkini

© 2025 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
About Us Help Privacy Policy Terms of Use Contact Us Pedoman Media Siber Redaksi Info iklan