Minggu, 31 Agustus 2025

Dari Phishing hingga Ransomware, Indonesia Perlu Strategi Proaktif Hadapi Ancaman Siber

Untuk memperkuat ekosistem siber nasional, Fortinet menjalankan NSE Training Institute dan program Academic Partner.

Editor: Erik S
Tribunnews.com/HO
ARTIFICIAL INTELLIGENCE - Ilustrasi Survei IDC-Fortinet mencatat 54% organisasi di Indonesia mengalami serangan berbasis AI setahun terakhir, dengan lebih dari sepertiga meningkat hingga tiga kali lipat. 

Kekurangan tenaga ahli juga menjadi masalah serius.

Laporan 2024 Fortinet Global Cybersecurity Skills Gap mencatat 92% organisasi di Indonesia mengalami kebocoran data dalam setahun terakhir, mayoritas karena minimnya profesional keamanan siber.

Sebanyak 80% responden menilai kekurangan talenta meningkatkan risiko serangan, dengan hampir separuh perusahaan mengalami kerugian lebih dari Rp15,5 miliar.

“Tenaga kerja yang terlatih dan melek siber adalah garis pertahanan pertama. Mereka melengkapi teknologi dan proses, sehingga organisasi lebih siap menghadapi ancaman,” jelas Edwin.

Kolaborasi Lintas Sektor

Untuk memperkuat ekosistem siber nasional, Fortinet menjalankan NSE Training Institute dan program Academic Partner.

Targetnya, melatih satu juta profesional keamanan siber secara global pada 2026, termasuk melalui kerja sama dengan UGM, ITS, dan Universitas Multimedia Nusantara.

Edwin menegaskan, investasi pada keamanan siber bukan sekadar isu teknologi, melainkan tugas patriotik dalam melindungi data, infrastruktur, dan masyarakat.

“Indonesia yang aman secara digital adalah Indonesia yang benar-benar merdeka. Menjaganya adalah tanggung jawab kita bersama,” katanya.


 

Berita Terkait

Berita Terkini

© 2025 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
About Us Help Privacy Policy Terms of Use Contact Us Pedoman Media Siber Redaksi Info iklan