Dari Phishing hingga Ransomware, Indonesia Perlu Strategi Proaktif Hadapi Ancaman Siber
Untuk memperkuat ekosistem siber nasional, Fortinet menjalankan NSE Training Institute dan program Academic Partner.
Penulis:
Hasiolan Eko P Gultom
Editor:
Erik S
Kekurangan tenaga ahli juga menjadi masalah serius.
Laporan 2024 Fortinet Global Cybersecurity Skills Gap mencatat 92% organisasi di Indonesia mengalami kebocoran data dalam setahun terakhir, mayoritas karena minimnya profesional keamanan siber.
Sebanyak 80% responden menilai kekurangan talenta meningkatkan risiko serangan, dengan hampir separuh perusahaan mengalami kerugian lebih dari Rp15,5 miliar.
“Tenaga kerja yang terlatih dan melek siber adalah garis pertahanan pertama. Mereka melengkapi teknologi dan proses, sehingga organisasi lebih siap menghadapi ancaman,” jelas Edwin.
Kolaborasi Lintas Sektor
Untuk memperkuat ekosistem siber nasional, Fortinet menjalankan NSE Training Institute dan program Academic Partner.
Targetnya, melatih satu juta profesional keamanan siber secara global pada 2026, termasuk melalui kerja sama dengan UGM, ITS, dan Universitas Multimedia Nusantara.
Edwin menegaskan, investasi pada keamanan siber bukan sekadar isu teknologi, melainkan tugas patriotik dalam melindungi data, infrastruktur, dan masyarakat.
“Indonesia yang aman secara digital adalah Indonesia yang benar-benar merdeka. Menjaganya adalah tanggung jawab kita bersama,” katanya.
Indonesia Cyber Forum Bahas Isu Keamanan Siber di Sektor Bisnis dan Digital |
![]() |
---|
Penguasaan Sistem Sertifikasi Digital Nasional Dinilai Penting untuk Kedaulatan Siber Indonesia |
![]() |
---|
Ponsel Pintar Oppo Reno 14 Series Resmi Debut di Indonesia, Ini Spesifikasi dan Harganya |
![]() |
---|
Dari Phising hingga Undian Bodong, Kenali Modus Penipuan di Era Digital |
![]() |
---|
Pertandingan Sepak Bola Robot AI Pertama di China, Ada yang Jatuh dan Harus Ditandu 'Medis' |
![]() |
---|
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.