Selasa, 9 Juni 2026

Lokal Asri

Alam Indonesia dalam Tradisi Yogyakarta, dari Mata Air hingga Merapi

Alam Indonesia dijaga lewat doa, ritual, dan tradisi. Yogyakarta punya caranya sendiri menjaga keseimbangan hidup.

Tayang:
Shutterstock
TRADISI DAN ALAM - Ilustrasi warga mengikuti arak-arakan gunungan berisi hasil bumi dalam tradisi Yogyakarta yang merefleksikan cara masyarakat menjaga relasi dengan alam Indonesia melalui ritual adat dan budaya lokal. 

TRIBUNNEWS.COM - Yogyakarta dikenal sebagai pusat budaya Jawa yang hidup. Bukan hanya di dalam tembok Keraton, tapi juga di sawah, mata air, lereng gunung, hingga ruang terbuka tempat masyarakat menjaga relasi dengan alam

Di Yogyakarta, alam tidak sekadar latar kehidupan. Gunung, air, dan hasil bumi diperlakukan sebagai bagian dari sistem hidup yang harus dihormati. Nilai itu hadir lewat berbagai upacara adat yang masih dijalankan hingga kini. 

Tradisi yang Menjaga Relasi Manusia dan Alam

Berikut lima upacara tradisi di Yogyakarta yang menunjukkan bagaimana budaya lokal tumbuh berdampingan dengan alam Indonesia. 

1. Grebeg Maulud, Ucapan Syukur atas Kemakmuran Alam 

Grebeg Maulud merupakan salah satu upacara adat paling ikonik di Yogyakarta yang digelar oleh Keraton Yogyakarta untuk memperingati kelahiran Nabi Muhammad SAW. Tradisi ini sekaligus menjadi simbol rasa syukur atas limpahan hasil bumi yang diberikan alam kepada masyarakat. 

Prosesi Grebeg Maulud ditandai dengan arak-arakan gunungan yang berisi beragam hasil pertanian, mulai dari sayur, buah, beras, hingga ketan. Gunungan tersebut diarak dari Keraton menuju pelataran Masjid Gedhe Kauman, lalu didoakan sebelum akhirnya dibagikan kepada masyarakat. Warga yang mendapatkan bagian gunungan meyakini hasil bumi tersebut membawa berkah dan rezeki. 

Melansir Kompas.com, gunungan dalam Grebeg Maulud melambangkan kemakmuran dan sedekah raja kepada rakyat. Hasil bumi yang disusun menyerupai gunung menjadi pengingat bahwa kesejahteraan manusia sangat bergantung pada alam yang terjaga. 

Tradisi Grebeg Maulud juga memiliki akar sejarah sebagai media penyebaran ajaran Islam di Jawa. Upacara ini pertama kali digagas sebagai sarana dakwah, dengan memadukan nilai religius dan budaya lokal agar mudah diterima masyarakat. 

Lebih dari sekadar perayaan, Grebeg Maulud mencerminkan hubungan harmonis antara manusia, alam, dan Tuhan. Nilai gotong royong, berbagi, serta penghormatan terhadap hasil bumi menjadi pesan utama yang terus diwariskan dari generasi ke generasi di Yogyakarta. 

2. Nawu Sendang, Menjaga Sumber Kehidupan 

Nawu Sendang adalah tradisi membersihkan mata air yang masih dijalankan di sejumlah wilayah Yogyakarta, seperti Kotagede, Sleman, Bantul, hingga Kulon Progo. Dalam bahasa Jawa, nawu sendang berarti menguras sendang atau sumber air, yang dilakukan sebagai bentuk rasa syukur sekaligus kepedulian terhadap sumber kehidupan. 

Tradisi ini dijalankan secara gotong royong oleh warga bersama abdi dalem Keraton. Sendang dikuras, dibersihkan dari endapan lumpur dan sampah, lalu dilanjutkan dengan doa bersama. Prosesi tersebut menegaskan air sebagai elemen penting yang harus dihormati dan dijaga keberlangsungannya. 

Melansir TribunJogja.com, tradisi Nawu Sendang Seliran di Kotagede diyakini sudah ada sejak masa Kerajaan Mataram Islam. Ritual ini menjadi simbol bersatunya keraton dan masyarakat dalam merawat warisan alam sekaligus sejarah. 

Nawu Sendang bukan sekadar ritual simbolik. Praktik ini memiliki fungsi ekologis yang nyata, menjaga kualitas mata air agar tetap bersih, jernih, dan layak digunakan untuk kebutuhan sehari-hari. Nilai pelestarian inilah yang membuat Nawu Sendang relevan hingga kini, sebagai pengingat bahwa keberlanjutan hidup bergantung pada cara manusia memperlakukan alam. 

Baca juga: Rekomendasi Kuliner Ayam Nusantara yang Terinspirasi dari Kekayaan Alam Indonesia

3. Saparan Bekakak, Ritual Gunung Gamping yang Menjaga Keseimbangan 

Saparan Bekakak merupakan tradisi adat tahunan yang digelar masyarakat Ambarketawang, Gamping, Sleman, setiap bulan Sapar dalam kalender Jawa. Upacara ini berakar pada sejarah Gunung Gamping, kawasan yang sejak lama menjadi ruang hidup sekaligus sumber penghidupan warga setempat. 

Tradisi ini lahir dari kisah kesetiaan Ki Wirasuta dan istrinya, abdi dalem Sri Sultan Hamengku Buwono I, yang diyakini mengorbankan diri demi keselamatan para penambang batu kapur. Peristiwa tersebut kemudian dikenang melalui Saparan Bekakak sebagai bentuk penghormatan atas pengabdian dan pengorbanan mereka. 

Puncak upacara ditandai dengan kirab sepasang boneka bekakak berbentuk pengantin yang terbuat dari tepung ketan berisi gula merah. Boneka ini melambangkan manusia dan diarak keliling desa sebelum diserahkan di kawasan Gunung Gamping, disertai doa bersama sebagai simbol tolak bala dan permohonan keselamatan. 

Saparan Bekakak mencerminkan kesadaran masyarakat bahwa gunung tidak hanya dipandang sebagai sumber material, tetapi juga ruang alam yang memiliki batas dan risiko. Melalui tradisi ini, warga menjaga harmoni antara manusia, budaya, dan alam, sekaligus mewariskan pesan hidup selaras dengan lingkungan kepada generasi berikutnya. 

4. Wiwitan, Jejak Syukur Petani pada Alam 

Wiwitan merupakan tradisi agraris yang dilakukan petani Jawa sebelum panen padi dimulai. Di Yogyakarta, ritual ini masih dijumpai di wilayah Bantul dan Kulon Progo sebagai penanda dimulainya masa panen sekaligus wujud syukur atas padi yang tumbuh dengan baik. 

Prosesi Wiwitan digelar langsung di sawah dan dipimpin oleh sesepuh atau tokoh adat. Petani membawa sesaji dari hasil bumi seperti nasi gurih, ayam ingkung, jajanan pasar, dan hasil kebun. Doa bersama dipanjatkan sebelum beberapa batang padi dipotong menggunakan ani-ani sebagai simbol panen awal. Padi diperlakukan dengan hormat karena dipercaya sebagai sumber kehidupan, bukan sekadar komoditas pertanian. 

Dalam tradisi Jawa, Wiwitan juga berkaitan dengan penghormatan kepada Dewi Sri, simbol kesuburan dan padi. Nilai ini menegaskan relasi setara antar manusia dan alam. Bumi dipandang sebagai sedulur sikep, saudara yang harus dijaga agar tetap memberi kehidupan secara berkelanjutan. 

Usai ritual, makanan dibagikan dan disantap bersama sebagai bentuk kebersamaan dan gotong royong. Wiwitan tidak hanya menjaga ikatan sosial petani, tetapi juga mewariskan kearifan lokal tentang cara hidup selaras dengan alam, menghormati siklus tanam, dan menjaga ketahanan pangan dari generasi ke generasi.  

5. Labuhan Merapi, Harmoni Manusia dan Alam 

Labuhan Merapi merupakan upacara adat Keraton Yogyakarta yang digelar setiap 30 Rajab di lereng Gunung Merapi. Tradisi ini menjadi wujud syukur sekaligus doa keselamatan, mengingat Merapi memiliki peran penting dalam sejarah, kehidupan, dan spiritual masyarakat Yogyakarta sejak masa Mataram. 

Prosesi Labuhan dilakukan dengan membawa ubo rampe berupa pakaian, makanan, dan perlengkapan simbolik dari Keraton menuju Pos Sri Manganti di kawasan Taman Nasional Gunung Merapi. Sesaji tersebut didoakan dan diserahkan melalui juru kunci sebagai bagian dari hajad dalem Keraton. Ritual ini dijalankan secara khidmat dan hanya oleh pihak yang ditunjuk, menegaskan kesakralan tradisi. 

Makna Labuhan Merapi tidak berhenti pada ritual spiritual. Tradisi ini mencerminkan kesadaran manusia untuk hidup berdampingan dengan kekuatan alam. Konsep Hamemayu Hayuning Bawono menempatkan gunung dan laut sebagai penyangga keseimbangan, sehingga manusia dituntut bersikap rendah hati, menjaga alam, dan tidak melampaui batas. 

Nilai ekologis Labuhan Merapi juga terlihat dari berbagai pantangan yang mengiringinya, seperti larangan merusak hutan dan membawa pulang apa pun dari kawasan ritual. Aturan ini secara tidak langsung menjaga kelestarian lingkungan Merapi. Labuhan Merapi pun menjadi contoh bagaimana tradisi lokal berfungsi sebagai penanda relasi harmonis antara budaya, manusia, dan alam Indonesia. 

Warisan Budaya, Pesan Pelestarian Alam 

Kelima upacara adat ini menunjukkan bahwa masyarakat Yogyakarta sejak lama memiliki kesadaran ekologis yang tumbuh dari budaya. Alam dihormati melalui doa, ritual, dan praktik nyata yang diwariskan lintas generasi. 

Melalui tradisi lokal, nilai menjaga gunung, air, dan hasil bumi disampaikan secara turun-temurun melalui praktik hidup sehari-hari. Alam dipahami sebagai sumber kehidupan yang harus dihormati, dijaga, dan diwariskan dalam kondisi lestari. 

Lewat Lokal Asri, Tribunnews dan Tribun Network mengajak kamu mengenal kembali tradisi-tradisi lokal yang menjaga harmoni manusia dan alam Indonesia. Merawat alam bisa dimulai dari memahami budaya yang tumbuh bersama. 

Baca juga: 5 Makanan Ekstrem dari Alam Indonesia, Unik dengan Nilai Budaya Tinggi

Sesuai Minatmu
Sumber: Tribunnews.com

Artikel ini merupakan bagian dari inisiatif Lokal Asri yang berfokus pada lokalisasi nilai-nilai tujuan pembangunan berkelanjutan. Pelajari selengkapnya!

Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved