Tribunners / Citizen Journalism
Salahkah Aku Bermain dengan Anak Hantu
Isi cerita ini adalah benar pengalaman pribadi dan tidak takhayul atau dibuat-buat. Kejadian ini ketika saya berusia 8 tahun, kelas 2 SD dan oleh karena "sakit" itu, tidak masuk sekolah selama seminggu.
Isi cerita ini adalah benar pengalaman pribadi dan tidak takhayul atau dibuat-buat. Kejadian ini ketika saya berusia 8 tahun, kelas 2 SD dan oleh karena "sakit" itu, tidak masuk sekolah selama seminggu.
Di dekat kampungku terdapat jembatan penghubung dua desa yaitu Karang Gondang dan Karang Gedhe di kabupaten Boyolali Jawa Tengah. Berukuran lebar sekitar 3 meter dan panjang 12an meter yang melintas sungai Gandul.
Sungai di bawah jembatan itu hanya mengalir jika musim hujan dan sering datang air bah warna coklat tua bila daerah di bukit atau hulu diguyur hujan. Dan aliran sungai itu akan mati tiga hari usai banjir.
Di dekat jembatan tersebut terdapat pepohonan liar di lereng jurang atau kali kering itu. Satu diantara pohon itu terdapat segerombol pohon kolang kaling yang sudah beranak pinak.
Pelepah kolang kaling itu hingga menjorok ke atas jembatan karena saking besarnya. Dan anehnya, segerombolan pohon kolang kaling di tepi jurang dekat jembatan itu merupakan satu-satunya di dua kampung itu. Pernah ditebang habis oleh pemilik lahan di dekatnya namun tumbuh subur lagi hingga akhirnya dibiarkan berkembang.
Ketika saya masih kelas dua SD, pernah sakit keras. Tiga hari berturut-turut tak sadarkan diri dan hanya terbaring di dipan. Ibu saya dan saudara saya menunggui dengan cemas karena, menurut mereka, mata saya mendelik seperti anak step.
Tapi apa yang ditakutkan oleh keluarga ternyata berbeda dengan yang saya alami. Jika fisik saya terbaring lemas di dipan dengan mata mendelik terus dan nafas pelan, justru saya bahagia.
Karena saya bisa bermain dengan anak-anak jin (hantu) di pepohonan kolang kaling di pinggir sungai itu. Saya main ayunan dengan anak jin penuh gembira. Bergelantungan di pelepah kolang kaling tanpa takut jatuh ke jurang yang di bawahnya banyak bebatuan gunung.
Tubuhku melayang dan tertawa kejar kejaran dengan anak anak jin itu, seingat saya ada tiga kakak beradik yang tak jauh usianya. Mereka hampir sebaya dengan usia saya waktu itu sekitar 8 tahun.
Saya berpakaian lengkap tapi anak anak hantu itu hanya mengenakan cawat dan kaos dalam dari kain. Tapi kami semua merasa tak ada jarak dan tidak membedakan pakaian. Hanya saja, saya tidak tau apa yang mereka makan. Dan anehnya saat itu saya tidak merasa lapar. Mereka ada ibunya yang mengawasi kami bermain.
Hari-hariku bahagia, tidak terasa kalau tiga hari sudah berlalu main bersama anak anak jin itu. Tapi kebahagiaanku itu terasa terputus karena tiba-tiba aku merasa ibuku memanggilku dengan paksa.
Ibuku teriak-teriak dari bawah pohon kolang kaling sambil matanya melototi tiga anak jin itu. Sehingga saya bersedia pulang ke rumah dengan dibimbing dan digendong ibu. Jarak rumah dengan pepohonan "angker" itu sekitar 1,5 kilometer.
Begitu sampai di rumah, tiba-tiba saya 'siuman' dan mataku terpejam agak lama kemudian membuka sedikit. Aku menatap wajah ibuku yang meneteskan air mata jatuh ke mata kananku. Kulihat mulutnya komat kamit baca doa, yang saat itu saya tidak tau apa yang dibaca.
Saya merasa lemas, lapar, tangan kaki tak bisa bergerak hanya mata dan mulut yang sedikit memberi harapan kepada keluarga. Menurut ibuku, saat itu bibirku pecah-pecah dan kering, keringat dingin keluar dan mataku mulai normal, tidak mendelik lagi.
Saat itu saya ingin bertanya, mengapa disuruh pulang, kan saya lagi asyik main dengan "teman-teman". Apakah salah jika saya bermain dengan mereka. Bolehkah besok saya main dengan mereka lagi. Mereka baik dan tidak nakal.
Tapi kata-kata itu tak terucap dan hanya menatap wajah ibuku yang mulai tampak senyum dan berulang kali kedua tangan ibuku mengusap wajahku dan wajahnya. Dan saya kembali ke dunia nyata. Ibuku mengelus jidat dan rambutku berulang-ulang terasa sejuk memberiku semangat hidup. (bersambung)
Tribuners adalah platform jurnalisme warga. Untuk berkontribusi, anda bisa mengirimkan karya dalam bentuk berita, opini, esai, maupun kolom ke email redaksi@tribunnews.com
Konten menjadi tanggungjawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi tribunnews.com.