Rabu, 10 Juni 2026

Blog Tribunners

Anak-anak dan Masa Depan Sepakbola Indonesia

Tampaknya timnas senior akan jadi korban selanjtnya tim Sea Games 2011 terkecuali mengikuti jejak Diego Mitchel

Tayang:
Penulis: dominggus arnold mampioper
Editor: Widiyabuana Slay

TRIBUNNEWS.COM - Meski kehadiran Bob Hippy dan tim teknis mendapat tantangan dari Persipuramania tetapi akhirnya membuka coaching clinic bagi 40 pelatih Papua di Kota Jayapura. Bob Hippy baru saja pulang dari Jayapura, Kamis(19/1/2012) dan langsung mengikuti rapat eksekutif PSSI di Jakarta.

Dari wawancara penulis dengan Bob Hippy di Lapangan Sepakbola Emsyk, Rabu(18/1/2012) ternyata PSSI era Djohar Arifin lebih menitikberatkan pada pembinaan usia dini. Baginya pembinaan usia dini berarti berbicara tentang masa depan sepak bola di Indonesia.

Bob Hippy tak menyangkal kalau kompetisi bagi usia muda di tingkat lokal sangat kurang dilakukan sehingga di Papua akan ada dua kota satelit sepakbola usia dini yakni di Jayapura, Provinsi Papua dan Manokwari, Provinsi Papua Barat.

Akademi Sepak Bola Emsyk di Kota Jayapura termasuk salah satu akademi yang punya lapangan sendiri, sekretaiat, asrama dan ruang pertemuan dipilih menjadi salah satu pusat pendidikan sepakbola di Jayapura. Bahkan Bob Hippy mengaku akan mengajak Timo Schunenman, Direktur Pembinaan Usia Dini PSSI untuk berkunjung dan melihat langsung fasilitas di Lapangan Emsyk Kota Jayapura.

Bob Hippy menegaskan jangan lagi mengulangi kesalahan masa lalu sepakbola di Indonesia yang melupakan pembinaan usia muda 12. Soalnya tiang sepakbola harus diawali sejak anak-anak, percuma kalau di atas umur 15 atau 17 tahun tidak akan berhasil.

Karena fondasi dan tiang dari sepakbola harus melatih anak-anak di bawah usia 12. Bahkan di Australia pembinaan usia dini dimulai usia tujuh tahun mulai dari skill dan taktik. Kalau di Jepang pelatihan bagi anak-anak usia dini telah dilakukan 40 tahun lalu. Lupakan kisruh di level atas dan marilah benahi pembinaan usia dini karena pemain bisa berkembang lebih baik kalu dibina sejak U12.

Ketertinggalan Indonesia dalam membina pemain usia dini bisa terlihat dari hasil sepakbola sekarang di mana timnas Indonesia ketika berhadapan dengan kesebelasan sekelas Jepang maupun Korea tak bisa berbuat banyak. Apalagi berhadapan dengan kesebelasan dari Timur Tengah seperti Iran, Saudi Arabia.”Kemampuan tim senior sudah mentog dan tak bisa lagi berkembang,”tutur Bob Hippy seraya menambahkan dulu kalau bermain lawan Jepang , timnas Indonesia masih kuat dan bisa berjaya. “Sekarang sulit untuk mengulangi kejayaan masa lalu karena mengabaikan pembinaan usia dini,”Eksekutif PSSI penanggungjawab timnas dan usia dini.

Karena itu lanjut dia coaching clinic bagi pelatih sepakbola di Papua adalah dalam rangka menyeragamkan materi dan standar kepelatihan bagi pelatih usia dini di Indonesia. Alberth Penturi pelatih profesional berlisensi A Eropah asal Belanda keturunan Maluku menegaskan melatih anak-anak berarti masa depan sepakbola di Indonesia.

Jadi jelaslah kalau klub-klub pemasok pemain timnas senior dan U23 terutama dari klub-klub ISL tak bisa berharap banyak karena tanpaknya klub senior akan jadi korban. Begitupula materi pemain timnas U23 Sea Games di Jakarta akan pula kehilangan kesempatan terkecuali mengikuti jejak Diego Mitchel demi berkarier di Timnas Indonesia.

Kini PSSI lebih berkonsentrasi ke timnas U17 karena pemain ini akan ikut dalam kejuaraan Piala Dunia U17. Sedangkan pemain U12 akan ikut kompetisi di Jepang.

Bagi Benny Pepuho, Direktur Akademi Sepakbola Akademi Emsyk, kunjungan Bob Hippy dan kawan-kawan ke Lapangan Sepakbola Emsyk adalah sebuah anugerah dan berkat karena bisa melakukan komunikasi langsung dengan orang-orang PSSI.
”Bob Hippy telah berjanji akan selalu mengontak kami di Jayapura untuk merekomendasikan pemain-pemain usia dini,”tutur Pepuho seraya menambahkan saat ini Ortis Urpon salah seorang pemain jebolan Akademi Sepakbola Emsyk ikut perkuat Timnas U17.

Tribuners adalah platform jurnalisme warga. Untuk berkontribusi, anda bisa mengirimkan karya dalam bentuk berita, opini, esai, maupun kolom ke email redaksi@tribunnews.com

Konten menjadi tanggungjawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi tribunnews.com.

Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved