Tribunners / Citizen Journalism
Kiai Junaedi, Kiai Rock n Roll dari Rengasdengklok
KH Junaedi Al-Baghdad, kiai nyentrik asal Rengasdengklok
Begitu tiba di panggung, yang tak kalah megah dan spektakulernya dengan panggung sebuah konser yang sudah dipenuhi puluhan orang yang biasanya tamu-tamu istimewa Abah, dia mengatakan kostum yang dipakainya saat itu memang baru. Lalu dengan mengibas-ngibaskan bagian pinggir jubahnya ia coba memamerkannya. Ia pun tergelak sambil geleng-geleng kepala. Ia mengaku tak tahu juga kenapa malam itu berpenampilan seperti itu yang disambut tawa hadirin.
"Kayak penyanyi dangdut, ya!" katanya.
Ia jauh dari kesan jaim seorang ulama besar atau kiai di hadapan jemaahnya. Namun kesederhanaannya sebagai seorang kiai tak kalah dengan ulama-ulama lainnya di tanah air.
Jemaah yang memadati halaman rumah sekaligus Ponpes Al Baghdadi itu tidak hanya warga Rengasdengklok, tapi berbagai penjuru negeri. Di buku catatan pengasuh atau penjaga ponpes, tertulis jemaah yang datang berasal dari Bali, Brebes, Bangka Belitung, Lampung, bahkan dari Makassar pun ada.
"Saya sudah tujuh tahun jadi jemaahnya Abah. Waktu dulu tempatnya masih di Cibitung, Bekasi. Saya dari Brebes. Sejak Jumat saya di sini," ujar Mujib (42).
Jemaah dari berbagai daerah ini rela menginap untuk bisa sekadar mengikuti majelis zikir tersebut. Mereka tidak merasa khawatir karena semua, terutama makan, disediakan gratis oleh pengelola ponpes.
Zikir manakib bukanlah pembacaan biografi Syeikh Abdul Qodir Al-Jaelani RA, melainkan membaca zikir atau amalan tertentu. Jemaah juga diajak untuk bertawasul dan mencintai Syeikh AQJ sambil mengharapkan berkah dan karamahnya. Juga mengharapkan syafaat Rasullullah saw, serta memohon rida dan izin Allah swt.
Beragam masalah yang membuat seseorang mengikuti majelis zikir ini, antara lain menderita penyakit menahun, terjerat utang, pengangguran, problem keluarga, sampai kepada keinginan untuk menjadi kepala daerah. Ada juga yang datang dengan tujuan khusus untuk beribadah dan ingin lebih mendekatkan diri kepada Tuhan.
Abah sendiri tidak membedakan status atau problematika yang dihadapi jemaah. Secara bersama-sama, jemaah diajak berzikir dan berdoa. (*)
Sumber: Tribun Jabar
Tribuners adalah platform jurnalisme warga. Untuk berkontribusi, anda bisa mengirimkan karya dalam bentuk berita, opini, esai, maupun kolom ke email redaksi@tribunnews.com
Konten menjadi tanggungjawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi tribunnews.com.