Blog Tribunners
Petugas Retribusi di Bandara Haluoleo Kendari Korupsi Uang Penumpang
Mengambil uang terang-terangan tanpa rasa bersalah itulah yang dilakukan oleh seorang
TRIBUNNEWS.COM - Mengambil uang terang-terangan tanpa rasa bersalah itulah yang dilakukan oleh seorang oknum yang bekerja di bagian pembayaran retribusi di Bandara Haluoleo, Kendari. Tanpa malu-malu, perempuan berperawakan sedang itu tidak mengembalikan uang kembalian sesuai tarif yang tertera dengan jelas di bagian papan pengumuman.
Saya bersama dengan seorang teman bernama Andi Widyawati Arief berkunjung ke Kendari, Sulawesi Tenggara, selama dua hari untuk menghadiri pernikahan seorang teman lama. Senin (18/2/2013), dengan pesawat Lion Air dengan nomor penerbangan JT-729 saya kembali ke Jakarta dan teman saya bertolak ke Makassar, Sulsel, menggunakan pesawat Merpati Airlines.
Kejadian tak mengenakkan sudah dimulai ketika sejumlah porter memaksa-maksa untuk mengikat barang bawaan kami yang sebenarnya tidak perlu. Karena tak dipedulikan dan mungkin karena merasa kesal, porter itu menunjuk ke arah lain yang meminta saya membayar airport tax di tempat tersebut. Untunglah saya tak menurutinya karena itu berarti saya harus keluar dari barisan antrean untuk airport tax dan masuk ke antrean pembayaran retribusi untuk Pemerintah Provinsi Sulawesi Tenggara karena menggunakan Bandara Haluoleo. Padahal sama saja, itu berarti saya harus memulai lagi antrean pada bagian belakang dan itu sudah membuang waktu saya. Karena saya tak pedulikan, porter itu kemudian kabur sambil tertawa-tawa dengan beberapa orang temannya.
Saya dan teman saya sempat heran karena kami harus membayar dua kali untuk masuk ke ruang tunggu. Saat pembayaran pertama di bagian airport tax, saya memberikan uang sebesar Rp 20 ribu dan dikembalikan sebesar Rp 9 ribu. Petugas ini mengembalikan uang sesuai jumlahnya karena airport tax sebesar Rp 11 ribu.
Lalu, saya diarahkan ke bagian pembayaran retribusi untuk membayar sebesar Rp 24 ribu. Ketika saya memberikan uang sebesar Rp 30 ribu, yang kembali malah hanya Rp 5 ribu saja. Ini berarti petugas di bagian retribusi sudah mengambil Rp 1.000 dari penumpang di luar biaya yang seharusnya dibayar. Setelah memberikan uang itu, ia pura-pura sibuk melayani penumpang lain. Karena waktu boarding semakin dekat, saya tak ingin berdebat dan kemudian bertemu teman di tangga menuju ruang tunggu.
Ternyata, bukan cuma saya saja yang mengalami nasib yang sama. Petugas itu pun tak memberikan uang kembalian yang seharusnya kepada teman saya sebesar Rp 1.000. Bayangkan, jika ada 100 penumpang yang mengalami nasib yang sama seperti kami setiap hari, berapa uang yang dikorupsi si oknum ini dari penumpang dalam sebulan? Jika memang tak memiliki uang kembalian, seharusnya memberikan note, agar memberikan uang pas.Bukan jumlah uangnya masalah, namun bayangkan saja jika ada ratusan penumpang yang uangnya dikorupsi oleh oknum seperti ini maka hitung saja jumlah uang yang tak halal masuk ke kantong pribadinya.
Jika orang-orang seperti ini tak dibenahi maka citra Kendari sebagai kota yang kaya budaya dan juga terkenal dengan Wakatobi-nya akan tinggal kenangan saja. Pesan saya kepada Pemerintah Provinsi Sulawesi Tenggara, ambil sikap seperti yang dilakukan pasangan Jokowi-Ahok dalam memberantas oknum nakal seperti ini.
*Penulis adalah jurnalis dan tinggal di Jakarta
Tribuners adalah platform jurnalisme warga. Untuk berkontribusi, anda bisa mengirimkan karya dalam bentuk berita, opini, esai, maupun kolom ke email redaksi@tribunnews.com
Konten menjadi tanggungjawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi tribunnews.com.