Kamis, 11 Juni 2026

Tribunners / Citizen Journalism

AEK Memorial II: Luar Biasa & Fenomenal

PARA pemangku dan pelaku equestrian yang tergabung dengan Equestrian Indonesia (Eqina) sepertinya bisa tidur lebih lelap dan nyenyak tadi malam.

Tayang:
Editor: Toni Bramantoro

Oleh Tubagus Adhi

PARA pemangku dan pelaku equestrian yang tergabung dengan Equestrian Indonesia (Eqina) sepertinya bisa tidur lebih lelap dan nyenyak tadi malam. Kelelahan yang mendera dari saat mempersiapkan, dan kemudian menggelar Kejuaraan Mengenang Almarhum AE Kawilarang, sudah pupus. Rasa capek dan letih tergantikan oleh kepuasan batin yang sulit dilukiskan.

Senyum yang terus mengembang di akhir kejuaraan, Minggu (16/6/2013) petang, sudah menjadi petanda baik jika para 'stakeholders' Equestrian Indonesia atau Eqina bisa melewati akhir kejuaraan bergengsi ini dengan tenang, nyaman, dan dalam tidur yang menyenangkan.

Sejak awal, ada kegairahan luar biasa untuk mengikuti seri ke-4 dalam rangkaian kejurnas Eqina 2013 yang dikaitkan dengan perayaan menyambut HUT ke-486 Kota Jakarta sehingga ada kehadiran dari Wagub DKI Basuki Tjahaya Purnama (Ahok) serta jajaran petinggi KONIDA DKI dan fungsionaris olahraga di ibukota.

Dari gelora berkompetisi yang demikian meluap-luap itu, AEK Memorial II mencatat beberapa rekor, terutama jumlah 'entries', atau penampil di seluruh nomor/kelas, yang nyaris menembus angka 410. Total kuda yang 'berlaga' pun terhitung luar biasa, yakni 130, sementara akumulasi dari para 'riders' atau atlet/penunggang adalah 112. Kesemua itu sudah mencakup keikutsertaan beberapa klub/stable baru, terutama dari Jatim, Maluku Utara atau Kalsel yang selama ini lebih dikenal sebagai 'basis' pacuan atau lumbung kuda ternaik.

Kegairahan yang luar biasa dari para pelaku equestrian untuk larut dalam kompetisi di AEK Memorial II ini jelas tidak sia-sia. Kesemuanya mendapatkan atmosfir persaingan yang luar biasa. Sepanjang tiga hari perlombaan, bisa dikatakan bahwa tetap sulit untuk memperkirakan 'rider' atau kuda yang akan menjadi bintang pada setiap nomor, kelas atau kategori yang diikutinya. Di satu sisi, ini tentu sangat menggembirakan dan membanggakan.

Persaingan yang seru, ketat dan diwarnai kejutan-kejutan ini tentunya tak bisa dilepaskan dari kesiapan atau persiapan yang dilakukan masing-masing kompetitor. Siapa yang lebih fokus, terutama mampu untuk menjalin sinergi atau kebersamaan dengan kuda tunggangannya masing-masing, dialah yang lebih berhak menuai prestasi. Dari jajaran 'bintang' yang gagal bersinar pada 'event' ini salah satunya adalah Galih Rasiono, penggagas perkumpulan equestrian Universitas Indonesia (UI).

Setelah berturut-turut tampil mengesankan di tiga seri kejurnas Eqina sebelumnya, yakni AEK Memorial I, Eqina Terbuka, dan Jateng Masters, Galih yang justru 'tinggal' di kawasan Pulo Mas terpuruk. Dia gagal menempati posisi tiga teratas dari 12 'entries' yang diikutinya. Adiknya, Anjasmara Wibisono, justru lebih berhasil.

"Benar-benar bad days buat saya. Rasanya saya sudah cukup fokus. Tapi, ya, sudahlah, anggap saja lagi kurang beruntung," kata Galih, Minggu sore. Perasaan sama melilit hati Rahmat Natsir. 'Rider' senior dan pengajar di Anantya stable ini juga gagal merebut satu pun gelar dari banyak 'entries'. Nasib baik juga justru lebih memayungi adiknya, Rosad Natsir. "Adik saya makin maju, baguslah," ucap Rahmat, mungkin mencoba menghibur diri.

"Tapi, cuaca hari ini juga luar biasa panasnya. Saya kira sedikit banyaknya itu juga mempengaruhi perilaku kuda," sambung Rahmat Natsir. Anomali atau keanehan cuaca memang membayangi gelaran AEK Memorial II ini. Saat masa persiapan, pembuatan 'venues' atau 'course' equestrian di arena pacuan kuda Pulo Mas ini sempat 'terganggu' oleh hujan deras yang berulangkali turun. Akan tetapi, pada akhirnya fakta menunjukkan betapa AEK Memorial II memang 'layak hadir' dan juga 'layak tonton'.

Pada Kamis (13/6/2013) malam saat pertemuan tehnik yang dilanjutkan tumpengan untuk mendoakan kelancaran kejuaraan, kawasan Pulo Mas diguyur hujan deras sehingga puluhan kuda yang berada di kandang-kandangnya terus mengikik panjang-pendek, entah terganggu atau malah senang.

Namun, cuaca sangat cerah keesokan harinya, sehingga seluruh perlombaan tunggang serasi (dressage) bisa diselesaikan tepat waktu. Di hari kedua, Sabtu, selepas siang, awan tebal sudah menggantung di langit-langit. Mendung sudah demikian tebal di belahan barat, dan sepertinya awan hitam tinggal menunggu waktu untuk mencurahkan hujan deras. Kegelisahan dan was was, itu pasti, mendera semua orang di sana, termasuk para administrator lomba. Ditengah suasana kekhawatiran akan hujan deras itu, dari 'desk perlombaan' juri senior Nico Pelealu berucap,

"Tenang saja, Tuhan menyertai ihtiar kita. Sebentar lagi juga cuaca cerah," katanya, setengah serius. Walau demikian, tentu saja karena Kuasa Tuhan semata maka awan hitam dan mendung tebal tak lama kemudian sirna. Pada hari terakhir, Minggu, sejak pagi arena perlombaan didera cuaca panas dan nyaris tanpa angin sehingga udara terasa lembab. Pada aspek lainnya, kontur atau topografi tanah yang berair membuat pengerjaan 'course' di arena pacuan kuda Pulo Mas itu harus dilakukan ektra-keras.

Kalau pun ada insiden, misalnya jatuhnya beberapa 'rider' di salah satu bagian 'course', itu juga mungkin bukan karena ketidaksempurnaannya. Akan tetapi, mungkin juga karena sekadar 'badluck' atau kurang beruntung. Pemilik Universitas Budi Luhur, Kasih Anggoro, contohnya. Di kelas 50-70 cm yang terbilang rendah dan banyak diikuti pemula, Kasih Anggoro pun terjerembab dari kudanya.

Patut diingatkan, arena equestrian AEK Memorial II ini dibangun persis di atas 'venues' dari Kejuaraan Pazzia Grand Prix yang digelar 2010 lampau. FENOMENAL. Sesungguhnya, memang, begitu banyak pujian yang dilontarkan atas kontes AE Kawilarang Memorial II yang digelar di arena equestrian Pulo Mas, selama tiga hari sejak Jumat hingga Minggu itu. Pujian tak hanya terlontar dari para 'stakeholders' Eqina sendiri, baik kalangan pembina, pengurus maupun 'riders'-nya yang fanatik.

Tribuners adalah platform jurnalisme warga. Untuk berkontribusi, anda bisa mengirimkan karya dalam bentuk berita, opini, esai, maupun kolom ke email redaksi@tribunnews.com

Konten menjadi tanggungjawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi tribunnews.com.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved