Rabu, 15 April 2026

Tribunners / Citizen Journalism

Pendulum Equestrian Bergerak Ke Arah Yang Tepat: It's Okay, The Show Must Go On

Masih menjadi perdebatan menarik, penampilan menawan Adi Katompo saat melakukan coming from behind untuk menaklukan Raymen Kaunang

Editor: Toni Bramantoro
ist
Jajaran pengurus PP Pordasi, Pengprov Pordasi Jateng, dan EQINA bergambar bersama di sela-sela persaingan Jateng Classic 

Oleh: Tubagus Adhi

Masih menjadi 'perdebatan' menarik, penampilan menawan Adi Katompo saat melakukan 'coming from behind' untuk menaklukan Raymen Kaunang dalam 'head to head' perebutan medali kelas bergengsi 145 cm di 'Arthayasa Spring Dressage & Jumping Competition', Minggu (2/3-2014).

Bisa disebutkan, ratusan penonton yang menyaksikan 'duel maut' itu, termasuk para petinggi klub yang berada di tribun, semuanya memuji Adi Katompo, 'rider' utama APM Equestrian Center, Tangerang. Keunggulannya atas Raymen dinilai sangat sensasional. Hanya karena ketenangan, kepercayaan diri yang tinggi, pengalaman dan kenyamanannya dalam 'berkendara', ia bisa melakukan itu, sehingga capaian waktunya 0,6 dt lebih baik dari 'finishing time' atlet terbaik Pegasus Raymen Kaunang yang sudah 'all-out' dengan Conquistador-nya pada 'clear round' saat 'jump-off' itu.

Raymen finish dengan 57, 70 dt, sementara Adi Katompo 56,62 dt. Bisa jadi faktor 'tunggangan' juga menentukan. Adi 'menumpak' kuda 'warmblood' yang disebut-sebut sebagai salah satu yang termahal di Indonesia. Raymen, 'ice-man' dari Pegasus, sangat legowo menerima kepastiannya sebagai peraih medali perak.

"Wah, kelihatan sekali kalau dia tadi lebih hebat," ujar Raymen, jujur.

Jelas, Raymen juga tak menyesali kekalahannya, karena lawannya memang tampil lebih baik. Adi Katompo sendiri tidak tampak jemawa dengan kemenangannya. 'Rider' senior yang membesut kuda APM Nastello ini tampak 'low profile' ketika menerima ucapan selamat.

"Ah, sekadar lucky saja," serunya berulangkali. Adi boleh saja merendah, tetapi sebagian besar 'rider' dan mereka yang menyaksikan 'head to head'-nya dengan Raymen sah-sah saja kalau tak sependapat.

"Di berkuda, termasuk ketangkasan, bukan faktor lucky yang lebih menentukan. Sinergi dengan pasangan yang lebih utama, dan itu tak bisa dicapai secara instan, namun dengan latihan yang terus menerus dan simultan," kata Bibit Sucipto, penanggung-jawab pembinaan Pegsus Stable, Kinasih, Sukabumi.

INSPIRASI

"Jelas, itu penampilan yang berkelas," komentar Sidiq Priyatma, pemilik Andiga Stable, yang kedua putranya, Galih Rasiono dan Anjasmara Wibisono, masuk anggota tim PON Jateng.

Penampilan memikat Adi Katompo dan Raymen Kaunang juga sangat menginspirasi.

"Setahun lagi saya mesti main di kelas-kelas tinggi seperti itu," ujar Anjas, yang masih tampil di kelas 100 hingga 110 cm.

Secara umum, publik pencinta equestrian sama-sama telah menyaksikan rangkaian persaingan yang mengharu-biru dari gelaran 'Arthayasa Spring Dressage & Jumping Competition' yang dihelat Jumat hingga Minggu itu. Menafikan nomor tunggang serasi karena adanya pengaruh subyektivitas penilaian, persaingan di 'jumping' sangat kasat mata dan penonton bisa menjadi juri bersama.

Di sini pula terlihat perbedaan ketangguhan, kekuatan, penetrasi dan akurasi atau presisi antara kuda-kuda impor (warmblood) dan kuda-kuda lokal. Namun, di atas kesemua itu, faktor sinergi antara rider dan kuda tetaplah yang paling menentukan.

"Mana yang paling betul, kita membeli kuda tinggi besar, atau kuda yang bisa melompat setinggi-tingginya?," kata Sidiq Priyatma, bertanya.

Tribuners adalah platform jurnalisme warga. Untuk berkontribusi, anda bisa mengirimkan karya dalam bentuk berita, opini, esai, maupun kolom ke email redaksi@tribunnews.com

Konten menjadi tanggungjawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi tribunnews.com.

Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved