Minggu, 31 Mei 2026

Tribunners / Citizen Journalism

Majukan Olahrga Ibu bila ingin sukses di Olimpiade

Sebentar lagi, seluruh mata dunia akan menuju ke kota terbesar keempat di dunia, Rio De Janeiro. Kota yang mempunyai sekitar 6,2 juta populasi pendudu

Tayang:
Super Ball/Feri Setiawan
Wakil Ketua Umum KOI, Muddai Madang (keempat kiri) Deputi IV Bidang Olahraga dan Prestasi Kemenpora, Gatot S Dewa Broto (ketiga kiri) Ketua kontingen (CdM) Indonesia, Raja Sapta Oktohari (keempat kanan) bersama atlet berpose bersama saat pelepasan keberangkatan kontingen Indonesia di gedung KOI Jakarta, Rabu (27/7/2016) Rombongan besar kontingen Indonesia, yang akan berlaga di kejuaraan multi event paling bergengsi di dunia yaitu Olimpiade 2016, bertolak menuju Brazil melalui Bandara Internasional Soekarno-Hatta, Tangerang, Banten, Rabu. Super Ball/Feri Setiawan 

Walaupun menempati peringkat kedua di olimpiade london 2012. Kesuksesaan olahraga China telah sangat terakui di dunia.

China menjadi satu-satunya negara asia yang merongsok menjadi bayang-bayang Amerika Serikat dengan menggeser keperkasaan negara- negara semisal Great Britan ataupun Rusia di ajang olimpiade.

Tentu ini merupakan prestasi yang sangat luar biasa. China yang mengandalkan senam indah, renang , tenis meja , angkat besi dan bulutangkis berhasil meraih medali di 20 cabang olahraga yang berbeda.

Bila Amerika Serikat begitu superior di cabang olahraga renang, China sangat superior di cabang olahraga senam.

Pesenam- pesenam berbakat China berhasil tampil perkasa dengan menyabet 12 medali dimana 5 diantaranya adalah medali emas. Namun atlet China tak hanya berjaya di senam.

Tak lain halnya dengan Amerika Serikat, China mendulang emas-nya dari cabang olahraga Renang yang memperoleh 5 emas, 2 perak dan 3 perunggu.

Sementara di cabang atletik, China harus puas dengan satu medali emas. Namun, pundi- pundi medali Tim China pun didukung dengan torehan gemilang atlet mereka di cabang olahraga tenis meja dan bulutangkis yang berhasil menyapu bersih tiap-tiap nomor pertandingan.

Bila Amerika Serikat memboyong 28 medali dari 3 cabang olahraga ibu ini, China hanya mampu memperoleh 11 emas. Namun sekali lagi, China didukung oleh cabang olahraga  tenis dan bulutangkis yang tidak dapat tersaingi oleh Amerika Serikat sehingga dapat membayangi perolehan medali Amerika Serikat.

Lalu bagaimana Indonesia? Tentunya yang selalu menjadi primadona untuk meneruskan tradisi cemas di olimpiade adalah bulutangkis.

Gawatnya, tradisi emas yang dimulai dari era Susi Susanti dan Alan Budi Kusuma di Olimpiade beijing harus tehenti di Olimpiade London 4 tahun lalu ketika satu medali emas tak mampu diboyong ke tanah air oleh pendekar-pendekar Indonesia.

Pendekar- pendekar Indonesia di cabang olahraga bulutangkis tak mampu meneruskan tradisi emas.

Penampilan terjauh para pendekar- pendekar bulutangkis indonesia terjauh yaitu Tanti Ahmad/ Liliyana Nattsir harus terhenti di tangan pebulutangkis Denmark Joachim Fisher/ Christina Pedersen.

Indonesia harus puas dengan prestasi terbaik putra bangsa yang ketika itu perak yang diraih Triyanto dan perunggu dari Eko Yuli Irawan dari cabang angkat besi.

Dengan perolehan satu perak dan satu perunggu, indonesia harus puas berada di posisi 63 di olimpiade london. Lantas apa salah?

Berulang-ulang tentunya kita harus menyoroti pembinaan atlet dan fasilitas olahraga  yang indonesia miliki. Jam terbang yang kurang, fasilitas yang seadanya maupun minimnya dana menjadi masalah klasik yang terus terjadi berulang- ulang setiap tahunnya.

Tribuners adalah platform jurnalisme warga. Untuk berkontribusi, anda bisa mengirimkan karya dalam bentuk berita, opini, esai, maupun kolom ke email redaksi@tribunnews.com

Konten menjadi tanggungjawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi tribunnews.com.

Halaman 2/3
Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved