Breaking News:

Tribunners / Citizen Journalism

Pemerintah Perhatikan Petani Saat Terjadi Gejolak Harga Karet

Masa kejayaan petani karet bisa dikatakan di tahun 2011, bagaimana tidak kondisi dimana harga karet berada di puncak tertinggi.

zoom-inlihat foto Pemerintah Perhatikan Petani Saat Terjadi Gejolak Harga Karet
Kompas Jateng/RADITYA MAHENDRA YASA
Pekerja merawat pohon karet di Kecamatan Singorojo, Kabupaten Kendal, Jawa Tengah, Senin (4/6/2012). Dari data Badan Litbang Pertanian sasaran jangka panjang agrobisnis karet tahun 2025 adalah produksi karet mencapai 34 juta ton yang 25 persen di antaranya untuk industri dalam negeri. (KOMPAS/RADITYA MAHENDRA YASA)

Ditulis oleh: Alias Zulkipli Mahasiswa Pasca Sarjana Institut Pertanian Bogor

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Masa kejayaan petani karet bisa dikatakan di tahun 2011, bagaimana tidak kondisi dimana harga karet berada di puncak tertinggi.

Perkebunan karet mendadak diminita petani, Lahan petani yang tadinya kosong di sulap petani menjadi lahan perkebunan karet. Komoditi sebelumnya bukan tanaman karet mendadak diganti petani dengan tanaman karet.

Petani yang tadinya hanya menjadikan sumber pendapatan sampingan menjadikan sumber pendapatan utama. Ini karena petani menaruh harapan yang sangat besar terhadap komoditi yang satu ini.

Baca: Istri Nelayan Muara Angke Kini Diajari Jualan Abon Lewat Online

Namun, Perubahan harga karet yang cepat dan signifikan menjadikan petani hanya bisa gigit jari, dimana petani yang tadinya merasakan angin segar dan berharap banyak pada komoditi ini mendadak kecewa dan frustasi.

Bagaimana tidak yang tadinya harga mencapai Rp 24.000 – Rp 30.000 per kilogram saat ini hanya Rp 9.000 – 11.000 perkilogram atau turun hampir 1/3-nya untuk karet jenis bulanan.

Banyak pendapat  yang menyatakan kondisi ini akibat adanya gejolak harga dunia dan permintaan karet dunia, diantaranya adanya pergeseran atau perubahan konsumen terhadap karet alam dengan karet sintetik dan rendahnya harga karet sintetik dibandingkan dengan harga karet alam, rantai pasar yang panjang, dan iklim investasi pada sektor pengolahan yang belum memadai dan terakhir isu yang sudah lama yaitu tentang rendahnya harga karet dipengaruhi oleh produksi karet Indonesia yang kalah kualitasnya bersaing dengan Negara-negara produksi karet alam lainnya seperti Thailand, Malaysia, Vietnam.

Melihat dari kualitas, dapatkan dikatakan benar karena komposisi perkebunan karet Indonesia merupakan perkebunan karet dengan karakteristik hampir 81 persen dari total perkebunan karet yang dimiliki di Indonesia merupakan perkebunan karet rakyat.

Hal ini juga akan beriringan dengan kualitas produksi yang dihasilkan petani, artinya banyaknya petani atau yang membudidayakan karet akan menjadikan standar karet yang di produksi petani juga berbeda-beda.

Hal ini lah yang seharusnya di selesaikan, ketika memang masalahnya terletak pada standar kualitas produksi karet yang dihasilkan petani kita.

Halaman
123
Editor: Samuel Febrianto
Tribunners merupakan jurnalisme warga, dimana warga bisa mengirimkan hasil dari aktivitas jurnalistiknya ke Tribunnews, dengan mendaftar terlebih dahulu atau dikirim ke email redaksi@tribunnews.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved