Rabu, 3 Juni 2026

Tribunners / Citizen Journalism

Rupiah yang Digerakkan Sentimen

Sepanjang paruh pertama 2026, layar perdagangan rupiah menampilkan drama yang menjemukan: melemah, sedikit bernapas, lalu kembali tersungkur

Tayang:
Editor: Dodi Esvandi
HO/IST
Rijadh Djatu Winardi, Direktur Ekonomi Evident Institute 

Oleh: Rijadh Djatu Winardi
Direktur Ekonomi Evident Institute

Sepanjang paruh pertama 2026, layar perdagangan rupiah menampilkan drama yang menjemukan: melemah, sedikit bernapas, lalu kembali tersungkur ke level yang lebih rendah. 

Volatilitas ini bukan lagi sekadar riak sesekali, melainkan sudah membentuk pola pelemahan yang konsisten.

Pada Mei 2026, mata uang garuda telantar di kisaran Rp17.700 hingga Rp17.900 per dolar AS. 

Dalam dua belas bulan terakhir, rupiah sudah kebobolan sekitar 9 persen. Sialnya, setiap kali rupiah menembus level psikologis baru, kepanikan pasar langsung pecah dan menjadi bahan bakar bagi pelemahan berikutnya.

Pertanyaannya: mengapa pelemahan ini berlangsung tanpa rem yang berarti?

Jawaban klise yang sering kita dengar adalah karena keperkasaan dolar AS. 

Sayangnya, argumen itu patah oleh data. Indeks dolar (DXY) justru sedang mereda dari posisi tertingginya. 

Ketika mata uang global lain mulai mendapat ruang bernapas, rupiah justru bergerak melawan arah. 

Ini indikasi kuat bahwa api yang membakar rupiah berasal dari dalam rumah sendiri, bukan dari luar.

Secara fundamental, ekonomi Indonesia sebenarnya tidak sedang dalam kondisi krisis. 

Kita tidak sedang mengulang nestapa 1998 saat utang luar negeri swasta meledak tanpa lindung nilai, atau tahun 2013 ketika defisit transaksi berjalan menganga di atas 3 persen PDB.

Meskipun defisit transaksi berjalan kuartal I-2026 melebar ke US$4 miliar (1,1 persen PDB), angka ini masih jauh di bawah ambang lampu kuning. 

Cadangan devisa kita tebal, inflasi jinak, dan perbankan tetap sehat. Rumah kita, pada dasarnya, sedang baik-baik saja.

Namun, yang terjadi di pasar adalah aksi "cuci gudang" massal. 

Sesuai Minatmu
Sumber: Tribunnews.com

Tribuners adalah platform jurnalisme warga. Untuk berkontribusi, anda bisa mengirimkan karya dalam bentuk berita, opini, esai, maupun kolom ke email redaksi@tribunnews.com

Konten menjadi tanggungjawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi tribunnews.com.

Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved