Tribunners / Citizen Journalism
Pilpres 2019
Ambil Habib Salim Atau Deadlock
Pendaftaran pilpres tinggal empat hari lagi. Jika tidak diperpanjang, PKS makin percaya diri.
Kelompok Habib Salim mengandalkan mesin PKS. Harus diakui, srlain PDIP, hanya PKS yang punya mesin politik yang solid. Tapi, berapa besar jumlah suara PKS dalam prosentase suara nasional? Ini juga mesti jadi analisis tersendiri.
Kelompok yang ingin UAS maju mengandaikan popularitas UAS. Seolah kalau populer itu menang. Almarhum Kiyai Haji Zainuddin MZ sangat populer. Bahkan punya julukan dai sejuta umat. Buat partai? Gak laku.
Popularitas memang penting, tapi untuk sampai pada level elektabilitas, atau dipilih, ada tangga akseptabilitas.
Prosesnya, dikenal, disukai, lalu dipilih. Dikenal, belum tentu dipilih. Bahkan disukai, belum tentu juga dipilih. Dia bagus kalau ceramah. Menyentuh hati. Pas dengan kehidupan sekarang.
Gue banget. Cocok jadi ustaz/mubaligh/da'i/kiyai . Tidak cocok jadi cawapres. Sayang kalau dunia dakwah dia tinggalin hanya untuk nyawapres.
Nah ini contoh disuka, tapi gak dipilih. Semua mesti terukur oleh data survei. Bukan sekedar modal semangat, asumsi dan kira-kira.
Disinilah partai biasanya jeli. Tim Prabowo pasti telah menghitung. Punya kalkulasi politiknya sendiri. Dan sampai tulisan ini diturunkan belum ada info valid Prabowo mau UAS. Sebelumnya, Prabowo nolak cawapres dari PKS. Termasuk Habib Salim. Bisa berubah? Tak ada yang tak bisa berubah
Kelemahan pendukung, relawan dan tim hore pada umumnya adalah punya berlimpah semangat dan ekspektasi (yang kadang-kadang over dosis), tapi tanpa memiliki data pendukung yang memadai. Apalagi kalau sudah bawa-bawa ayat dan hadis.
Seolah Tuhan siap memenangkannya.
Tak jarang, ayat dan hadis yang dikutip tak tepat.
Bicara politik, kutipan ayatnya tentang takdir dan doa. Gak nyambung. Akhirnya ada yang bilang survei Rico Marbun, Eep Syaefullah dan Deny J.A lebih akurat dari pada ayat.
Salah! Ayat selalu akurat.
Tapi ayat yang mana dulu yang dikutip? Pas tidak? Kalau ada ayat gak akurat, bukan ayatnya. Tapi salah ambil ayatnya.
Pendukung seringkali menggunakan variable suka dan tidak suka.
Bukan pertimbangan kalah atau menang. Apalagi jika masuk unsur kekuatan kelompok kepentingan. Makin bias. Lebih bias lagi kalau melibatkan unsur donatur. Keadaan ini seringkali terjadi pada kerumunan yang tidak memiliki kredibilitas politik, tapi diberi ruang untuk menentukan keputusan-keputusan politik. Hasilnya seringkali fatal.
Tribuners adalah platform jurnalisme warga. Untuk berkontribusi, anda bisa mengirimkan karya dalam bentuk berita, opini, esai, maupun kolom ke email redaksi@tribunnews.com
Konten menjadi tanggungjawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi tribunnews.com.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/ketua-umum-partai-gerindra-prabowo-subianto_20180731_203302.jpg)