Tribunners / Citizen Journalism

Senandung Sungai Sakit

Jika mata air kita musnahkan, sungai kita cemari, itu artinya kita belum lagi menjadi bangsa beradab.

Senandung Sungai Sakit
Ist/Tribunnews.com
Kepala BNPB Doni Monardo bersama Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan dan Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil. 

Doni saat itu menjabat Wakil Komandan Jenderal (Wadanjen) Kopassus. Mantan Dan Yon 11 Grup 1 Kopassus ini mengajak serta dua anak laki-lakinya, yang di tengah perjalanan tak tahan mencium aroma menyengat dari peternakan babi, kandang kambing, limbah pabrik yang dibuang sembarangan, dan penyumbang pencemaran lain.

“Bukan hanya itu, saya juga melihat tumpukan sampah di sepanjang aliran sungai. Termasuk kasur bekas,” kata Doni mengenang.

Hasil "wisatanya" ia laporkan kepada Danjen Kopassus, ketika itu Mayjen TNI Wisnu Bawa Tenaya. Di era itulah, Kopassus melakukan aksi pembersihan Sungai Ciliwung sepanjang 7 kilometer.

Sebab, di bentang 7 kilometer itu terdapat asrama Kopassus. Tujuannya adalah, dengan sungai bersih, maka rakyat di sekitar sungai juga akan sehat, termasuk anggota Kopassus.

“Program itu kemudian berkembang lebih luas. Termasuk saat pak Jokowi menjabat Gubernur DKI Jakarta. Komunitas Jepang bahkan sempat datang menyaksikan apa yang kami kerjakan untuk Ciliwung. Alhamdulillah, kondisi Ciliwung semakin bagus dan sedikit lebih baik,” ujar Doni Monardo.

Doni mengemukakan contoh serupa di Jawa Barat, yakni Sungai Cikapondoh yang berhulu Citarum dan berhilir di Muara Gembong, Kabupaten Bekasi. Bukan hanya itu, Doni juga mengemukakan contoh sungai di Pantai Padang, Sumatera Barat.

Lalu, Sungai Batang Hari Jambi yang di kanan-kirinya terdapat penambangan emas liar, mirip yang terjadi di kiri-kanan Sungai Sambas di Kalimantan Barat. Kondisi memprihatinkan serupa juga ia jumpai di Kalimantan Barat, Teluk Ambon yang banyak sampah, dan lain-lain.

Suatu hari, bersama Menteri Kelautan dan Perikanan, Susi Pudjiastuti ia mengunjungi Pulau Pombo, Kabupaten Maluku Tengah yang banyak sampah. Padahal, pantai itu sangat indah. Susi bertanya kepada Doni, bagaimana cara membuat pantai itu bersih.

Doni menjawab, bisa. Apalagi luasnya hanya sekitar 3 hektar. Ia menjadi kotor, karena tidak ada yang bertanggung jawab. Karena itu, harus ada yang bertanggung jawab, yakni desa adat.

“Tapi saya minta syarat sama Bu Susi, beri mereka keramba untuk budidaya ikan. Ibu Susi setuju memberi mereka keramba. Sejak dibantu keramba, masyarakat bertanggung jawab mengurusi hilir sungai. Sekarang, pantai itu bersih, dan makin ramai oleh kunjungan wisatawan,” ujar Doni.

Halaman
1234
Editor: Hasanudin Aco
Tribunners merupakan jurnalisme warga, dimana warga bisa mengirimkan hasil dari aktivitas jurnalistiknya ke Tribunnews, dengan mendaftar terlebih dahulu atau dikirim ke email redaksi@tribunnews.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved