Tribunners / Citizen Journalism

KH Imam Jazuli: Jangan Ada Khilafah Di Antara Kita

Sebagai ideologi, intelektual dan ulama internasional pun ada yang mengamini dan ada yang menentang.

KH Imam Jazuli: Jangan Ada Khilafah Di Antara Kita
Istimewa
KH. Imam Jazuli, Lc. MA, Alumnus Univeraitas al Azhar Mesir, Pengasuh Pondok Pesantren Bina Insan Mulia, Wakil Ketua Rabithah ma'ahid Islamiyah- asosiasi pondok pesantren se Indonesia- Pengurus Besar Nahdlatul ulama (PBNU) periode 2010-2015. 

                                                             JANGAN ADA KHILAFAH DI ANTARA KITA

Oleh: KH. Imam Jazuli, Lc., M.A*

Status Hizbut Tahrir (HT) memang rumit diurai. Sebagai organisasi politik transnasional, banyak negara menolaknya, tapi juga banyak yang menerima. Sebagai ideologi, intelektual dan ulama internasional pun ada yang mengamini dan ada yang menentang. Kontroversi mereka dilatarbelakangi oleh ketakutan pada dampak jika Khilafah betul-betul bangkit.

Negara-negara Timur Tengah, Eropa dan Asia yang melarang rata-rata terancam oleh aksi teror HT, seperti Suriah, Arab Saudi, Turki, Mesir, Pakistan, Pakistan, Afganistan, Spanyol, Rusia, Jerman, Tajikistan, Uzbekistan, Kirgistan, Bangladesh, Tiongkok, Malaysia, dan Indonesia.

Sedangkan negara-negara yang yang menerima dan melegalkan HT dengan tangan terbuka mendapatkan untung darinya, atau setidaknya tidak merasa terganggu. Di antaranya, Lebanon, Yaman, Uni Emirat Arab, Inggris, Denmark, Australia, dan lainnya.  

Di kalangan ulama, penolakan terhadap HT lebih pada adanya kegaduhan sosial dan keterancaman negara olehnya HT. Misalnya, ulama-ulama Timur Tengah, seperti al-Azhar, melihat ideologi HT sebagai Islam radikal. Islam versi HT dipandang oleh mereka sebagai biang keladi dari semua bentuk adu domba, fitnah, dan pemecah belah persatuan umat muslim. Bagi ulama al-Azhar, misalnya, Islam yang rahmah lil alamin telah diselewengkan, sehingga menjadi Islam yang penuh teror (irhabiyah).

Dalam rangka melawan Islam intoleran tersebut, Grand Syeikh al-Azhar, Dr. Ahmad Thayyib (2015), mengatakan agar umat Islam memperkuat aspek pendidikan. Seluruh negara Islam di dunia harus memperkuat program pendidikan, guna menjauhkan generasi muda dari pemahaman Islam yang diselewengkan. Islam radikal dan ideologi takfiri yang melekat pada HT. Hal itu tidak saja sesat melainkan juga potensi memecah belah persatuan umat muslim sendiri.

Pandangan Dr. Ahmad Thayyib disampaikan pada Muktamar al-Islam wa Muharabah al-Irhabiyah di Makkah al-Mukarramah. Dia mengajak semua umat muslim menolak ideologi khilafah yang menganggap semua negara di muka bumi ini sebagai darul kufr (negara kafir) dan darul harbi (negara layak perang). Ideologi radikal semacam ini bukan saja musuh Islam, tetapi musuh bersama umat manusia.

Penyelewenangan makna Islam oleh HT dimulai oleh Taqiyuddin an-Nabhani. Syeikh Musthafa Zahran (2019), pakar kajian Islam klasik dan modern dari Universitas al-Azhar, berpendapat bahwa HT tidak punya konsep utuh, hanya mengambil semboyan sana-sini yang terdapat di dalam khazanah-khazanah kitab klasik Islam, kemudian ia mencocok-cocokkannya sesuai dengan selera dan kepentingan kelompok mereka sendiri.

Tuduhan HT sebagai organisasi teroris memang beralasan. Pada tahun 2001, majalah Al-Wa’i yang dikelola HT terang-terangan menyerukan semangat perang. Dalam artikel berjudul How to Become a Shakhid tertulis, “singkirkan kepala suku yang tidak peduli pada syariat Allah, kirim pejuang untuk berjihad, usir orang-orang Yahudi! Mungkin diperlukan pengorbanan, penderitaan, perang di jalan jihad, dan mati sebagai syahid.”

Halaman
12
Editor: Husein Sanusi
Tribunners merupakan jurnalisme warga, dimana warga bisa mengirimkan hasil dari aktivitas jurnalistiknya ke Tribunnews, dengan mendaftar terlebih dahulu atau dikirim ke email redaksi@tribunnews.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved