Tribunners / Citizen Journalism

Ulasan KH Imam Jazuli Tentang Sejarah Dan Strategi Gerakan Khilafah Nusantara

Momentum politik yang layak ditunggangi saat itu adalah karakter rezim Orde Baru yang represif. masjid beralih menjadi ajang organisir tujuan-tujuan

Ulasan KH Imam Jazuli Tentang Sejarah Dan Strategi Gerakan Khilafah Nusantara
Istimewa
KH. Imam Jazuli, Lc. MA, Alumnus Univeraitas al Azhar Mesir, Pengasuh Pondok Pesantren Bina Insan Mulia, Wakil Ketua Rabithah ma'ahid Islamiyah- asosiasi pondok pesantren se Indonesia- Pengurus Besar Nahdlatul ulama (PBNU) periode 2010-2015. 

Oleh KH. Imam Jazuli, Lc. MA.*

Ide mendirikan kembali kekhalifahan Turki Usmani dimulai dari Palestina oleh Taqiyuddin an-Nabhani (1953). Namun, ide Hizbut Tahrir itu terus dikembangkan ke kawasan lebih luas, seperti Ingris, Amerika, Australia, Jerman, dan Asia Tenggara, termasuk Indonesia. Gerakan Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) beroperasi di bawah kibaran semangat mendirikan “Khilafah Nusantara”.

Sejarah dan pendirian HTI tidak bisa lepas dari kontrol pemimpin Hizbut Tahrir di Australia. Mama Abdullah bin Nuh dan Abdurrahaman al-Baghdadi adalah tokoh Hizbut Tahrir Australia menjadi otak utama HTI. Al-Baghdadi datang ke Indonesia, mendirikan pondok pesantren di kota Bogor, dan merekrut mahasiswa-mahasiswa dari kampus Institut Pertanian Bogor. Kedatnagan al-Baghdadi ke Bogor tahun 1982 tidak lepas dari peran penting Abdullah bin Nuh yang mengundangnya untuk mengisi kajian di pesantren al-Ghazali tersebut (Agus Salim, 2005).

Momentum politik yang layak ditunggangi saat itu adalah karakter rezim Orde Baru yang represif. Mahasiswa-mahasiswa IPB tertarik dengan nalar HTI yang disebarkan oleh al-Baghdadi dari satu masjid ke masjid lainnya. Sehingga Badan Kerohanian Islam Mahasiswa (BKIM) pada kampus IPB menjadi ‘kuda tunggangan’ yang diperah habis-habisan demi mendapatkan anggota baru. Tahun 1987-an, Lembaga Dakwah Kampus (LDK) terbentuk untuk mengembangkan sayap HTI di berbagai kampus, baik di Bogor, Surabaya, dan Makassar.

Nalar mahasiswa yang kudet pada waktu itu semakin terpesona dengan HTI. Mereka melihat struktur dan keanggotaan organisasi raksasa yang transnasional. Sebab, HT menganggap seluruh negara cabang sebagai al-wilayah, provinsi-provinsi yang berada di bawah satu naungan pusat. Di atas semua wilayah ini ada apa yang disebut pemimpin wilayah (mu’tamad al-wilayah), yang memimpin para naqib yang bertugas di wilayah-wilayah lokal (Grey Seal, 1966). Namun, Naqib HTI betul-betul disembunyikan dan tidak bisa terlacak.

Strategi HTI sebagai bagian dari gerakan internasional memang lihai, licin, dan licik dalam melakukan mobilisasi dan rekrutmen anggota. Ismail Yusanto (2008) mengatakan bahwa sangatlah penting melakukan edukasi tentang pentingnya khilafah. Banyak strategi yang dipakai dalam rangka menanamkan kesadaran pentingnya khilafah, seperti menyediakan media informasi baik online maupun cetak, menyelenggerakan program-program intelektual seperti seminar, diskusi, dan konferensi, termasuk ikut serta melakukan demonstrasi publik.

Karena jalur ilmiah yang ditempuh HTI, awal-awal sasaran tembak mereka adalah kalangan profesional dan mahasiswa. Yakni, entitas-entitas yang bisa diajak berpikir kritis, menerima ide besar yang trans-nasional, dan tidak terkungkung oleh fanatisme buta. Kaum perempuan yang diklaim mudah terpengaruhi merupakan kelompok yang jadi sasaran tembak rekrutmen mereka. HT Pusat maupun HTI sama-sama meyakini betapa pentingnya mencari dukungan dari orang-orang kuat lokal, baik secara finansial maupun intelektual.

Gerakan intelektual menjadi ciri khas awal-awal kebangkitan HTI. Karenanya, publikasi menjadi bagian inti yang tidak terpisahkan darinya. Buletin al-Islam menjadi medium mingguan yang bisa dibaca anggota untuk mengetahui perkembangan terbaru. Selain buletin, tiap bulan HTI menerbitkan jurnal al-Wa’ie.

Ribuan eksemplar terbitan al-Wa’ie terjual habis, dan ini menunjukkan betapa menariknya ide khilafah pada waktu itu (al-Wa’ie, No. 91, 2008). Sejak tahun 2005, HTI mulai menerjemahkan artikel-artikel HT Ingris untuk memberikan informasi seputar perkembangan umat muslim di negara-negara tetangga, seperti Thailand, Burma, dan Singapore (Majalah Khilafah, No. 6, 2006). Dengan semua ini, anggota HTI tidak ragu dan semakin mantap secara intelektual.

Tahun 2007, penggunaan internet mulai popular di tengah-tengah masyarakat Indonesia. HTI turut serta menggunakan fasilitas teknologi yang tersedia untuk menyebarkan jejaring online mereka. Laman website htttp://www.hizbut-tahrir.or.id/ dibuat untuk melaporkan segala perkembangan yang terkait umat muslim, negara Islam, peristiwa internasional lain yang berkaitan dengan ideologi mereka. Ibarat kata, anggota tidak diberi celah untuk ragu secara intelektual, guna mereka bisa diajak turun aksi suatu saat nanti dibutuhkan.

Karena dicitrakan sebagai gerakan pendidikan dan intelektual, pada awal-awal kebangkitan HTI banyak orang tidak sadar akan bahaya latennya. Hal itu bisa terlihat ketika HTI menggelar banyak seminar ilmiah dan konferensi, dengan mengundang para pakar dari berbagai bidang disiplin ilmu, termasuk intelektual muslim liberal, oknum kementerian, akademisi, tokoh publik, dan lainnya. Beberapa tokoh yang bisa disebut Abu Bakar Ba’asyir (ulama), Sidney Jones (pakar kajian terorisme), dan Siti Fadhilah Supari (Menteri Kesehatan). Tujuan HTI disembunyikan, tapi aroma untuk mencari dukungan ilmiah tercium keras.

Sebut saja ketika Republika (02/4/2005) melaporkan demonstrasi massa yang diorganisir HTI mengangkat kritik kebijakan menaikkan harga minyak. Saat itu tidak ada yang sadar bahwa isu sekular dapat saja ditunggangi demi spirit ide khilafah. Di balik isu-isu sekuler, yang sama sekali tidak bersentuhan dengan agama, ideologi khilafah bisa menungganginya. Kemudian perlahan-lahan HTI menggeser temanya, yakni mengorganisir massa demonstran untuk menunjukkan solidaritas sosial atas penderitaan umat muslim di dunia.

Hal yang paling miris sejak HTI bercokol di bumi Nusantajra, fungsi masjid beralih menjadi ajang organisir tujuan-tujuan politik praktis. HTI memanfaatkan masjid-masjid untuk menyebarkan propaganda mereka. Pola ini sudah ditengarai terjadi sejak tahun 1980-an (Agus Salim, 2005). Namun, perlu dicatat, masjid-masjid yang dominan dimanfaatkan adalah yang dekat dengan kampus dan menjadi perangkap untuk target utama mereka, yakni mahasiswa dan profesional. Dewan Kerja Masjid (DKM) menjadi kaki tangan HTI yang paling efektif. Khatbah-khatbah di hari jum’at pun tak lepas dari bidikan HTI untuk melakukan propaganda. Melalui media masjid, Pesantren Kilat, Pondok Ramadhan, perayaan Maulid Nabi, dan even-even besar agama Islam perlahan tapi pasti mulai beraroma ideologis-politis. Tidak sepenuhnya steril untuk tujuan penguatan akidah dan akhlak umat muslim.[]

*alumni Universitas al-Azhar, Mesir; Alumnus Universitas Kebangsaan Malaysia Departemen Politik dan Pertahanan; Pengasuh Pondok Pesantren Bina Insan Mulia; Wakil Ketua Rabithah Ma’ahid Islamiyah; Pengurus Besar Nahdlatul Ulama Periode 2010-2015.

Editor: Husein Sanusi
Tribunners merupakan jurnalisme warga, dimana warga bisa mengirimkan hasil dari aktivitas jurnalistiknya ke Tribunnews, dengan mendaftar terlebih dahulu atau dikirim ke email redaksi@tribunnews.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved