Tribunners / Citizen Journalism
Menyulam Benang Kebangsaan NU dan FPI
Perjumpaan antara NU-FPI bagaikan butiran gula pasir dan serbuk bubuk kopi. Sehingga perpaduan amar ma'ruf dan nahi munkar
Tetapi, lihatlah bagaimana Pangeran Diponegoro menjadi "pemberontak" pada tatanan Jawa yang sudah kongkalikong dengan kolonialisme Belanda.
Lihatlah pula bagaimana kaum santri dan kiyai melahirkan Resolusi Jihad. Dalam konteks ini, jalan dakwah nahi munkar diperlukan.
Kolaborasi NU-FPI adalah kolaborasi furu'iyah, sebab pada level ushuliyah kedua ormas itu adalah Ahlus Sunah wal Jamaah.
NU tidak bisa melakukan perlawanan keras terhadap musuhnya, karena prinsip dasar NU adalah tawasut, tasamuh, tawazun, dan i'tidal.
Namun, FPI sangat mungkin melakukan konter yang agak keras, terlebih dalam membantu NU menghadapi kaum-kaum kapitalis, pemodal besar, pengusaha berjiwa serigala, yang hanya mau menghisap hasil kerja keras kaum buruh, rakyat miskin desa dan kota, para penyeleweng kekuasaan dan pelanggar hukum.
FPI selama ini melakukan kekerasan karena melihat pemerintah absen dari kepentingan rakyat. FPI dapat menjadi "banom" non-struktural bagi PBNU.
Kolaborasi NU-FPI di sisi lain mencerminkan dua watak ilahiah yang kasatmata kontra produktif namun secara substansial adalah satu.
Kita bisa lihat sifat ilahiah "adh-Dharr (Pembawa Bencana)" dan "An-nafi' (Pembawa Manfaat)". Allah Swt. memiliki dua sifat ini pada diri-Nya, sehingga sangatlah logis bila Allah merahmati hamba-hamba-Nya dan sekaligus menghukum dengan azab pedih bagi musuh-musuh-Nya. Sebab, hamba dan musuh Allah adalah objek dari sifat-Nya.
Ketika penyakit sosial, korupsi, penindasan rakyat miskin, penyelewengan kekuasaan dan hukum keadilan, merebaknya kemaksiatan, hancurnya tatanan moral sosial, dan apa pun yang membahayakan masyarakat oleh sebab perilaku penguasa (penguasa politik maupun pemodal-kapitalis), maka FPI hadir.
Kehadiran FPI selama ini hanya tatkala pemerintah abai dan absen dari kepentingan umat. FPI hadir ketika keberatannya tidak di dengar, dan sementara pemerintah terjebak oleh lingkaran elitenya yang berseberangan dengan FPI.
Namun begitu, perjumpaan butiran gula dan serbuk bubuk kopi tidak lantas mengubah gula jadi kopi, atau kopi jadi gula.
Kolaborasi NU dan FPI adalah kolaborasi kontrol. NU dalam mengontrol FPI supaya tidak jatuh ke dalam gerakan radikalisme agama, menentang pilar-pilar kebangsaan Indonesia, atau menjadi garis ekstrimis yang membabi buta.
FPI pun dapat mengontrol agar NU tidak jauh jatuh ke dalam ekstrimisme moderat, sampai-sampai mengamini liberalisme ekstrem, sekularisme ekstrim, dan pluralisme ekstrim. FPI dalam mengontrol adanya penyelewengan makna Ahlus Sunah wal Jamaah dalam tubuh NU sendiri.
Tahun 2019 adalah anugerah besar bagi bangsa dan negara Indonesia. Presiden Jokowi adalah simbol anugerah Tuhan yang besar bagi rakyat Indonesia.
Bersatunya Jokowi dan Prabowo harus dimaknai sebagai persatuan putra-putra terbaik bangsa Indonesia. Hanya saja, mereka berdua itu masuk dalam kategori kelas-kelas elite penguasa.
Tribuners adalah platform jurnalisme warga. Untuk berkontribusi, anda bisa mengirimkan karya dalam bentuk berita, opini, esai, maupun kolom ke email redaksi@tribunnews.com
Konten menjadi tanggungjawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi tribunnews.com.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/kh-imam-jazuli_20171226_162041.jpg)