Tribunners / Citizen Journalism

Tentang Polemik Bermain Catur, KH Imam Jazuli Ulas Sejarah dan Hukumnya

Tetapi, apakah ulama hadits ini mengharamkan catur (syathranj)? Tidak! As-Sakhawi mengawali pembahasan kitab Umdah ini dengan membahas asal usul

Tentang Polemik Bermain Catur, KH Imam Jazuli Ulas Sejarah dan Hukumnya
Istimewa
KH Imam Jazuli 

Membedah Hukum Dan Sejarah Main Catur 

Oleh: KH. Imam Jazuli, Lc. MA*

Seorang ulama besar yang ahli fikih, ahli hadits, juga sejarawan tidak mengharamkan catur. Itulah Abul Khair Syamsuddin Muhammad bin Abdurrahman as-Sakhawi as-Syafi’i (w. 1497 M.) dalam kitabnya Umdah al-Muhtaj fi Hukm as-Syuthranji (Qathar: National Library, 2018). Naskah manuskripnya ada di Perpustakaan Inggris dengan kode Or9227.

Imam as-Sakhawi adalah ulama terkemuka dalam mazhab Syafi’iyah. Kitab-kitab hadits yang dikarangnya sangat banyak: al-maqashid al-hasanah fi al-ahadits al-musytahirah, al-akhbar al-mukalalah fi al-ahadits al-musalsalah, al-ghayah fi syarhi al-hidayah fi ilm al-riwayah, syarh asy-syama’il an-nabawiyah li at-tirmidzi, at-tuhfah al-munifah fima waqa’a min haditsi abi Hanifah, fathu al-mughits bi syarhi alfiyati al-hadits, dan al-Qaul al-badi’ fi fadhi as-shalati ala al-habib asy-syafi’i.

Tetapi, apakah ulama hadits ini mengharamkan catur (syathranj)? Tidak! As-Sakhawi mengawali pembahasan kitab Umdah ini dengan membahas asal usul nama permainan catur. Syithranj berasal dari bahasa Persia yang diarabkan dengan mengkasrahkan huruf pertama: Syithranj. Sebagian ulama seperti al-Muhkam, al-Maththarizi, dan al-Jawaliqi, lebih memilih harkat fathah: Syathranj.

Pencipta pertama kali catur, menurut as-Sakhawi, adalah Raja India bernama Lalimit yang bergelar Syihram. Catur menyebar dari India ke Persia, dan Bangsa Arab baru mengenalnya setelah penaklukan negeri-negeri tersebut.

Tetapi, as-Sakhawi mengutip versi lain dari Ka’ab. Menurut Ka’ab, orang pertama yang bermain catur adalah Yusa’ bin Nun dan Kalib bin Yuqana, kemudian dipopulerkan oleh Qarun. Orang-orang Persia belajar dari Yusa’ bin Nun ini. Tentang Yusa’ dan Kalib ini, Allah mengabadikannya dalam al-Quran ayat 23 surat al-Maidah.

Logika adalah ruh permainan catur ini. As-Sakhawi mengkritik tuduhan sentimentil Ibnu Taimiyah terhadap orang Yahudi. Suatu Ibnu Taimiyah berkata pada ar-Rasyid Yusuf bin Abil Bayan, “wahai Rasyid, dusta pertama yang dilakukan oleh orang Yahudi menurut Ibnu Hazm adalah informasi mereka bahwa mereka masuk Mesir pertama kali sejumlah 72 orang di zaman Nabi Yusuf, kemudian keluar dari Mesir di zaman Nabi Musa  bin Imran sejumlah 600.000 orang.”

Ar-Rasyid menjawab: “apakah Ibnu Hazm seorang sahabat?” Ibnu Taimiyah: “bukan!” “Apakah dia tabiin?” “Bukan juga!” ar-Rasyid menjelaskan: “kalau begitu, Ibnu Hazm itu tidak tahu apa-apa. “Kenapa begitu?,” tanya Ibnu Taimiyah. “Karena dua kali dua adalah empat.” “Terus?” “dan kotak pada papan catur itu 64. Jika kau kalikan maka hasilnya akan didapatkan sekian-sekian. Orang Yahudi itu 72 orang, tapi yang belum dihitung adalah kaum perempuan, anak kecil, dan orang-orang lanjut usia!” Ibnu Taimiyah pun bungkam dalam membela pandangan gurunya, Ibnu Hazm.

Di dunia Islam, permainan catur pertama kali diperkenalkan oleh seorang sahabat Nabi saw, yakni Amr bin Ash. As-Sakhawi meriwayatkannya dari Abu Thib Ahmad bin Muhammad al-Mishri, dari al-Muhib Muhammad bin Muhammad Sama’a, dari Ahmad bin Ali, dari Ibrahim bin Khalil, dari Ismail al-Janzawi, syaikhani Abul Hasan al-Aliyan bin Ahmad Manshur dan Ibnu Musallam, dari Ahmad bin Abdul Wahid bin Muhammad bin Ahmad bin Abul Hadid, dari kakeknya, dari Muhammad bin Ja’far bin Sahal, dari Hammad bin Ishaq, saudara Ismail bin Ishaq al-Qadhi, dari Ismail bin Abu Uwais, ia berkata: saya mendengar Anas bin Malik ra berkata: “orang pertama yang membawa kitab dan syathranj adalah Amr bin Ash demi mempelajari ilmu tentang kerajaan.”

Halaman
123
Editor: Husein Sanusi
Tribunners merupakan jurnalisme warga, dimana warga bisa mengirimkan hasil dari aktivitas jurnalistiknya ke Tribunnews, dengan mendaftar terlebih dahulu atau dikirim ke email redaksi@tribunnews.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved