Tribunners / Citizen Journalism

Laut Natuna Diklaim China

China Berspekulasi di Laut Natuna Utara

Respons TNI menghadang dan menghalau kapal pencuri ikan asal China di Laut Natuna memang cukup dibatasi pada konteks penegakan hukum pidana perikanan.

China Berspekulasi di Laut Natuna Utara
TRIBUN/SETPRES/AGUS SUPARTO
Presiden Joko Widodo (Jokowi) saat meninjau kesiapan kapal perang Usman Harun di Puslabuh TNI AL d Selat Lampa, Natuna, Rabu (8/1/2020). Selain itu Jokowi juga mengadakan silaturahmi dengan para nelayan di Sentra Kelautan Perikanan Terpadu (SKPT) Selat Lampa Natuna. TRIBUNNEWS/SETPRES/AGUS SUPARTO 

Oleh Bambang Soesatyo, Ketua MPR RI, Kepala Badan Bela Negara FKPPI
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA-Respons TNI menghadang dan menghalau kapal pencuri ikan asal China di Laut Natuna memang cukup dibatasi pada konteks penegakan hukum pidana perikanan.

Baca: POPULER: Pengamat Sayangkan Kedatangan Jokowi ke Natuna, Harusnya Cukup Dua Pejabat Ini

Baca: Cerita Nelayan yang Pernah Perang Botol dengan Kapal Taiwan di Natuna: Keamanan Harus Dijaga

Kalau China coba mengeskalasi persoalan menjadi konflik pemilikan atau penguasaan wilayah perairan Natuna, masyarakat Indonesia tak perlu emosional menanggapi klaim sepihak itu.

Karena wilayah perairan Natuna sebagai teritori Indonesia sudah final, seturut Konvensi Perserikatan Bangsa-Bangsa tentang Hukum Laut alias United Nations Convention on the Law of the Sea (UNCLOS) 1982 yang mulai berlaku sejak 1994.

Baca: Klaim Sepihak China atas Laut Natuna, Moeldoko: Kapal Pencuri Ikan Tak Bisa Langsung Ditenggelamkan

Tidak hanya itu. Klaim China atas perairan Natuna bahkan sudah dimentahkan atau ditolak pengadilan. Seperti diketahui, Pengadilan Arbitrase Internasional tentang Laut China Selatan pada 2016 memutuskan bahwa klaim China tentang sembilan garis putus-putus di Perairan Natuna sebagai batas teritorial laut China tidak mempunyai dasar historis.

Kemudian, bukan cerita baru kalau Beijing menolak atau menentang keputusan Arbitrase Internasional itu. China akan terus merongrong keputusan Arbitrase Internasional itu dengan aksi atau tindakan provokatif di Laut Natuna, sekarang ini dan juga seperti tahun-tahun terdahulu.

Baca: Bakamla Sebut Kapal Indonesia Tak Miliki Senjata, Najwa: Bagaimana Mau Mepet Kalau Cuma Keris?

Provokasi China di Perairan Natuna tampak nyata pada pekan kedua Desember 2019 itu. Puluhan kapal ikan mereka yang masuk perairan Natuna dikawal pasukan penjaga pantai (Coast Guard) plus kapal perang fregat. Dalam konteks kepentingan nasional, Indonesia boleh menuduh China melindungi nelayan mereka mencuri di Perairan Natuna.

Ketua MPR RI Bambang Soesatyo
Ketua MPR RI Bambang Soesatyo (TRIBUN/DANY PERMANA)

Nelayan, coast guard dan kapal perang China nyata-nyata melanggar exclusive economic zone (ZEE) Indonesia serta melakukan kegiatan IUUF (Illegal, Unreported, and Unregulated Fishing).

Baca: Natuna Diserbu Kapal Laut China, Kepala Bakamla: Tidak Masalah Walaupun Tidak Bersenjata

Hingga Minggu (5/1), kapal-kapal China itu masih bertahan di Laut Natuna. TNI tetap persuasif dengan memperingatkan bahwa mereka sudah menerobos sekaligus menangkap ikan secara ilegal di Laut Natuna.

Modus yang sama juga dilakukan China pada Maret 2016. Kapal ikan mereka masuk dengan cara ilegal ke Perairan Natuna. Tujuannya tak lain mencuri ikan. Upaya penangkapan kapal itu lagi-lagi dihalang-halangi oleh kapal Coast Guard China. Jadi, semacam rencana bersama mencuri ikan yang diketahui dan melibatkan organ resmi Pemerintah China.

China juga angkat bicara menentang inisiatif Indonesia merubah nama Laut China Selatan menjadi Laut Natuna Utara pada Juli 2017, ketika Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman meluncurkan peta baru Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Baca: Natuna Diserbu Kapal Laut China, Kepala Bakamla: Tidak Masalah Walaupun Tidak Bersenjata

Halaman
1234
Editor: Rachmat Hidayat
Tribunners merupakan jurnalisme warga, dimana warga bisa mengirimkan hasil dari aktivitas jurnalistiknya ke Tribunnews, dengan mendaftar terlebih dahulu atau dikirim ke email redaksi@tribunnews.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved