Tribunners / Citizen Journalism

KH Imam Jazuli; Sang Pendobrak Tradisi

Dekade 90 an dan 2000 adalah degade emas yang siap menelorkan beberapa tokoh yang akan menghiasi panggung nasional.

KH Imam Jazuli; Sang Pendobrak Tradisi
Pesantren Bina Insan Mulia/Istimewa
KH. Imam Jazuli, Lc. MA., (kemeja putih) adalah Alumni Universitas Al-Azhar, Mesir, Dept. Theology and Philosophy; Alumni Universiti Kebangsaan Malaysia, Dept. Politic and Strategy; Alumni Universiti Malaya, Dept. International Strategic and Defence Studies; Pengasuh Pondok Pesantren Bina Insan Mulia, Cirebon; Wakil Ketua Pimpinan Pusat Rabithah Ma’ahid Islamiyah (Asosiasi Pondok Pesantren se-Indonesia); Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Periode 2010-2015. 

KH. Imam Jazuli; Sang Pendobrak Tradisi

Oleh: KH Didik L. Hariri*

Mendengar nama KH. Imam Jazuli atau sering juga dipanggil Kiai Imjaz, ingatan saya seakan kembali pada rentang waktu lampau dan deretan nama yang cemerlang menghiasi pergerakan mahasiswa Indonesia yang sedang menimba ilmu di Universitas Al Azhar, Mesir, pada dekade 1990 an hingga 2000.

Saya menganggap pada dekade tersebut merupakan dekade "golden generation" yang siap menelurkan beberapa tokoh yang akan menghiasi panggung nasional. Terbukti pada milenium ketiga ini muncul nama TGB (alumni Al Azhar, angkatan 91) di kancah politik nasional, siapa yang tak kenal Habiburrahman el Sirazy (alumni Al Azhar, angkatan 94) di bidang sastra Islam dan akhir-akhir ini ada UAS (alumni angkatan 98) di bidang dakwah, begitu juga nama-nama lain yang tidak cukup untuk saya sebutkan di sini.

Meskipun mereka sama-sama menyematkan nilai-nilai wasathiyah (moderasi Islam) akan tetapi setiap sosok mempunyai keunikan karakter dan kelebihan masing-masing.

Dan Kiai Imjaz inilah salah seorang sosok generasi emas dari Al Azhar, Mesir, yang turut menghiasi dinding perjalanan bangsa Indonesia yang mempunyai keunikan dan kelebihan tersendiri dari tokoh-tokoh lainnya.

Meskipun ladang pengabdiannya di dunia pesantren namun perhatiannya terhadap berbagai permasalahan bangsa. Baik permasalahan budaya, intelektualitas bangsa, hingga politik pertahanan NKRI tak luput dari perhatiannya. (Baca: https://www.google.com/amp/s/m.tribunnews.com/amp/regional/2018/12/25/pesantren-advokasi-janda-bina-insan-mulia-luncurkan-program-nyata).

Dengan media pesantren yang dia dirikan, Kiai Imjaz tak henti-hentinya membuat gebrakan yang sementara orang dianggap sebagai gerakan di luar mainstream, seperti revitalisasi pesantren sebagai tonggak peradaban, dia lakukan secara nyata dengan menganugerahkan gelar doktor kehormatan pada beberapa cendekiawan yang mempunyai kontribusi terhadap perbaikan bangsa. (Baca: https://www.google.com/amp/s/m.tribunnews.com/amp/pendidikan/2017/05/24/pertama-dalam-sejarah-pesantren-beri-gelar-doktor-honoris-causa).

Kiai Imjaz pada suatu kesempatan juga pernah mewajibkan santrinya untuk menonton film Ayat-ayat Cinta agar bisa melek peradaban. Begitu pula gebrakan program advokasi para janda yang membutuhkan perlindungan sosial maupun ekonomi.

Bahkan perhatian terhadap bangsa tersebut seakan tak lelahnya Kiai Imjaz mengambil ruang-ruang publik untuk menitipkan aufklarung (pencerahan) terhadap bangsa sesuai kapasitas keilmuan maupun keulamaannya dengan kritik-kritik yang tajam lewat media digital, baik medsos maupun media massa. Hal ini bisa kita searching namanya pada mesin data semisal google.

Halaman
123
Editor: Husein Sanusi
Tribunners merupakan jurnalisme warga, dimana warga bisa mengirimkan hasil dari aktivitas jurnalistiknya ke Tribunnews, dengan mendaftar terlebih dahulu atau dikirim ke email redaksi@tribunnews.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved