Tribunners / Citizen Journalism

Harlah NU ke-94, Momentum Reinterpretasi Khittah PKB=NU / NU=PKB

Setelah NU berusia hampir satu abad, banyak prestasi yang ditorehkan untuk bangsa ini. Pertama, NU turut serta dan aktif dalam usaha kemerdekaan

Harlah NU ke-94, Momentum Reinterpretasi Khittah PKB=NU / NU=PKB
Istimewa
KH. Imam Jazuli, Lc. MA, Alumni Pondok Pesantren Lirboyo, Kediri; Alumni Universitas Al-Azhar, Mesir, Dept. Theology and Philosophy; Alumni Universiti Kebangsaan Malaysia, Dept. Politic and Strategy; Alumni Universiti Malaya, Dept. International Strategic and Defence Studies; Pengasuh Pondok Pesantren Bina Insan Mulia, Cirebon; Wakil Ketua Pimpinan Pusat Rabithah Ma’ahid Islamiyah (Asosiasi Pondok Pesantren se-Indonesia); Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Periode 2010-2015. 

Harlah NU Ke-94

MOMENTUM REINTERPESTASI KHITTAH PKB=NU/NU=PKB

Oleh KH. Imam Jazuli, Lc., MA

Nahdlatul Ulama (NU) merupakan organisasi Islam terbesar di Indonesia, bahkan mungkin di dunia. Hari ini, 31 Januari 2020, adalah hari ulang tahun pendiriannya yang ke-94 tahun. Sebelum 31 Januari 1926, nama NU oleh KH. Hasyim Asy’ari disebut kumpulan para ulama; Jam’iyyah Ulama.

Setelah NU berusia hampir satu abad, banyak prestasi yang ditorehkan untuk bangsa ini. Pertama, NU turut serta dan aktif dalam usaha kemerdekaan dan mempertahankannya. Resolusi Jihad NU 22 Oktober 1945 yang mendorong perjuangan fi sabilillah di Surabaya dan sekitarnya adalah salah satu bukti kontribusi nyatanya.

Kedua, NU terlibat dan turut mencerdaskan anak bangsa. Pendidikan ala NU yang dulu identik dengan pesantren tradisional, yang kolot dan anti kemajuan, sekarang berubah menjadi pesantren-pesantren berbasis sekolah yang berprestasi. Dampak dari pendidikan ini tidak saja membuat kader NU mahir dalam penguasaan kitab kuning, tapi juga tak ketinggalan dengan sains (ilmu pengetahuan), sehingga jarak NU dan Muhammadiyah dalam pendidikan formal tidak terlalu jauh.

Belakangan, NU juga gencar mendirikan perguruan tinggi UNU (Universitas Nahdlatul Ulama) di sejumlah wilayah seperti Jakarta, Surabaya, Yogyakarta, Cirebon, dan lain sebagainya. Tentu ini membuat kader NU bisa diandalkan untuk menghadapi tantangan global. Selain itu, belakangan, kader NU begitu banyak melanjutkan pendidikan tingginya di dalam maupun di luar negeri.

Ketiga, di bidang sosial. Tak dipungkiri, NU telah berhasil mendirikan beberapa rumah sakit di beberapa wilayah. Bahkan, rumah sakit NU yang didirikan di Kabupaten Kulonprogo dengan cara yang luar biasa, yaitu dari kumpulan uang koin (recehan) para Nahdliyyin.

Keempat, di bidang ekonomi. Lahirnya Koperasi NU, Minimarket NU, Badan Usaha Mikro NU, BMT dan lebih-lebih keberadaan LAZIZ NU sudah dirasakan manfaatnya oleh segenap masyarakat, khususnya Nahdliyyin. Belakangan, salah satu prestasi LAZIZ NU (NU Care) adalah membebaskan salah satu tenaga kerja wanita yang ada di Arab Saudi, dengan menyediakan uang tebusan dengan jumlah fantastis. Uang itu lagi-lagi dihimpun dari jejaring koin jam’iyyah NU.

Pencapaian-pencapaian tersebut bukan tanpa masalah. Salah satu masalah serius adalah banyak kader NU kesulitan menembus posisi strategis dalam pemerintah untuk menderma-baktikan SDM-nya. Apalagi belakangan, ada kesan kebijakan pemerintah, regulasinya belum berpihak kepada NU, terutama soal permodalan. Karenanya dibutuhkan grand design besar untuk berkontribusi di segala bidang.

Halaman
123
Editor: Husein Sanusi
Tribunners merupakan jurnalisme warga, dimana warga bisa mengirimkan hasil dari aktivitas jurnalistiknya ke Tribunnews, dengan mendaftar terlebih dahulu atau dikirim ke email redaksi@tribunnews.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved