Tribunners / Citizen Journalism

Menakar 70 tahun Hubungan Diplomatik Indonesia dengan Rusia

Walaupun mayoritas beragama Kristen Ortodox, sekitar 14% atau sekitar 24 juta penduduknya adalah penganut agama Islam, mungkin yang terbesar

Menakar 70 tahun Hubungan Diplomatik Indonesia dengan Rusia
TRIBUN/DANY PERMANA
Newspaper Director, Regional News Directorate, KG Media Febby Mahendra Putra (kiri) memberikan cinderamata kepada Duta Besar Republik Indonesia untuk Federasi Rusia merangkap Republik Belarus M Wahid Supriyadi (kanan) usai berbincang bersama awak Tribunnews.com di Redaksi Tribun Network, Jakarta, Selasa (15/10/2019). TRIBUNNEWS/DANY PERMANA 

Oleh M. Wahid Supriyadi
Duta Besar Republik Indonesia untuk Federasi Rusia merangkap Republik Belarus
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA- Banyak pihak di Indonesia yang tidak mengetahui bahwa Rusia adalah sebuah negara multi-kultural yang terdiri dari sekitar 120 suku bangsa (mereka menyebut nationalities) dengan berbagai ragam bahasa dan budaya.

Walaupun mayoritas beragama Kristen Ortodox, sekitar 14% atau sekitar 24 juta penduduknya adalah penganut agama Islam, mungkin yang terbesar di daratan Eropa. Beberapa negara bagian seperti Tatarstan, Dagestan, Chechnya dan Bashkortostan mayoritas penduduknya beragama Islam.

Baca: Akhir Juli 2020, KBRI Kembali Gelar Festival Indonesia ke-5 di Moskow

Sejak runtuhnya Uni Soviet, sekitar 8.000 masjid telah didirikan dan menjadikan Islam sebagai agama yang paling pesat pertumbuhannya di Rusia.

Ada cerita menarik. Pada tahun 988, Prince Vladimir yang juga dikenal sebagai Grand Prince of Kiev and All Russia, sebelum menentukan Kristen Ortodox sebagai agama negara, beliau telah mempertimbangkan Islam dan Judaisme sebagai pembanding.

Baca: Rusia Konfirmasi 2 WNA Asal China Terinfeksi Virus Corona, Kasus Infeksi Bertambah Jadi 9.937

Islam kemudian tidak diterima karena melarang minum alkohol, sementara Judaisme karena dinilai tidak berhasil mendorong kaum Yahudi mengambil tanah kelahirannya. Islam ketika itu banyak dianut oleh masyakat di Volga Bulgars (saat ini negara bagian Tatarstan).

Islam sendiri sebenarnya sudah masuk Rusia sekitar 10 tahun setelah Nabi wafat. Pada tahun 734 dimasa kekhalifahan Ummayah, telah didirikan sebuah masjid yang disebut Masjid Juma di kota tua Derbent, masuk wilayah Dagestan saat ini. Masjid itu masih berdiri kokoh sampai sekarang walau pernah diterpa gempa bumi yang hebat.

Nah pada 3 Februari 2020 ini genap 70 tahun hubungan diplomatik Indonesia Rusia yang dimulai tahun 1950. Dalam kurun waktu 70 tahun hubungan kedua negara mengalami pasang surut. Di era kepresidenan Soekarno, atau Orde Lama, hubungan Jakarta dan Moskow sangat dekat dan bahkan sangat “mesra”.

Baca: Dua WNA Rusia Bikin Home Industri Penanaman Pohon Ganja di Jimbaran

Kedua kepala negara sering bertemu dan saling kunjung. Presiden Soekarno sendiri telah berkunjung sebanyak 4 kali ke Uni Soviet yaitu tahun 1956, 1959, 1961, dan 1964. Sementara pemimpin Uni Soviet yaitu Kliment Voroshilov dan Nikita Khruschev mengunjungi Indonesia masing-masing tahun 1957 dan 1960.

Uni Soviet ketika itu banyak membantu Indonesia, baik di sektor infrastruktur, keuangan, penyiapan kader-kader bangsa melalui bidang pendidikan, maupun teknik militer. Salah satu peran penting Uni Soviet lainnya adalah dukungannya dalam proses kembalinya Irian Barat ke pangkuan Ibu Pertiwi tahun 1963.

Di era Orde Baru, Moskow seakan jauh dari “radar” Indonesia. Akan tetapi, terdapat beragam upaya untuk mendekatkan hubungan kedua negara. Pada bulan Juli 1986, ketika berpidato di Vladivostok, pemimpin Uni Soviet Mikhail Gorbachev menyebut Indonesia salah satu di antara negara-negara dimana Uni Soviet siap memperluas hubungan.

Halaman
123
Editor: Rachmat Hidayat
Tribunners merupakan jurnalisme warga, dimana warga bisa mengirimkan hasil dari aktivitas jurnalistiknya ke Tribunnews, dengan mendaftar terlebih dahulu atau dikirim ke email redaksi@tribunnews.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved