Tribunners / Citizen Journalism

KH. Imam Jazuli : Gus Baha, Mohon Sampaikan Kebenaran dengan Santun dan Ramah!

Sangat mulia niat hati Gus Baha’ ketika memasang “tarif” bahwa dirinya hanya mau mengaji di pesantren-pesantren Jawa Timur seperti Tebu Ireng

KH. Imam Jazuli : Gus Baha, Mohon Sampaikan Kebenaran dengan Santun dan Ramah!
Istimewa
KH. Imam Jazuli, Lc. MA, alumni Pondok Pesantren Lirboyo, Kediri; Alumni Universitas Al-Azhar, Mesir, Dept. Theology and Philosophy; Alumni Universiti Kebangsaan Malaysia, Dept. Politic and Strategy; Alumni Universiti Malaya, Dept. International Strategic and Defence Studies; Pengasuh Pondok Pesantren Bina Insan Mulia, Cirebon; Wakil Ketua Pimpinan Pusat Rabithah Ma’ahid Islamiyah (Asosiasi Pondok Pesantren se-Indonesia); Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Periode 2010-2015. 

Gus Baha’, Sampaikanlah Kebenaran dengan Santun dan ramah!

Oleh: KH. Imam Jazuli, Lc., M.A*

Prinsip Islam mengatakan, “maniz dada ilman walam yazdad hudan lam yazdad minallahi illa bu’dan,” barang siapa bertambah ilmunya, dan tidak bertambah hidayah di hatinya, ia hanya menambah jauh jarak dari Allah (HR. Abu Mansur ad-Dailami).

Seorang da’i muda yang kebetulan kondang dengan ilmu pengetahuannya yang luas, tiba-tiba di luar prediksi membanding-bandingkan kiai Jawa Timur dan kiai Jawa Tengah. Dialah Gus Baha’ sebutan “keartisannya.”

Jika benar pengakuannya, saat keluar dari kantor PWNU Jawa Timur ada orang yang menawari voucer umrah dan ditolaknya gara-gara ia merasa diri sebagai Kiai Jawa Tengah, maka saat itulah dia sedang bermain “framing”, menciptakan isu dikotomi kiai Jawa Timur versus Jawa Tengah. Sejak kapan kiai-kiai dibentur-benturkan dengan pola perilaku sosial-religi mereka semacam itu?

Sangat mulia niat hati Gus Baha’ ketika memasang “tarif” bahwa dirinya hanya mau mengaji di pesantren-pesantren Jawa Timur seperti Tebu Ireng, Pondok Syaikhona Kholil, Pondok Termas, jika “dibayar” dengan naskah karya asli para kiai. Spiritnya untuk mengajak santri berpikir filologis dan mencintai pemikiran ulama Nusantara patut dicontoh.

Tetapi, apakah layak muncul ucapan dari lidah figur publik semacam itu sebuah pernyataan yang berbunyi: “naskah masyaikh kita ada di luar negeri, cucunya ga punya. Saya punya naskah Syeikh Mahfudz. Akhirnya, para cucunya ngaji ke sini”? Sejak kapan seorang kiai membuka “cacat” kiai lain sekalipun itu perkara kebenaran?

Apakah Gus Baha’ sedang mengamalkan bunyi hadits: “sampaikanlah kebenaran walaupun itu menyakitkan?” (HR. Ahmad, 5/159)? Menurut Syeikh Syu’aib Al-Arnauth hadits ini memang shahih dan sanadnya hasan. Tetapi, apakah masih tersisa hati nurani pada diri Gus Baha’ yang kemudian ceplas-ceplos mengatakan, “Sirojut Thalibin dicetak di Yaman, namun kita tahu nasibnya di Jampes!”?

Kita yang memakai hati nurani dan menjaga adab pada kiai semakin kesulitan mencari sisi positif dari ucapan Gus Baha’ itu, terlebih saat mengatakan: “Kiai-kiai NU sudah alim. Ngerti hukum secara tafsil, kok malah hobi bicara yang mujmal. Ini kan sudah mau pinter, disuruh goblok lagi.” Pertanyaannya, layakkah seorang penceramah berkebudayaan NU melempar asumsi pada perilaku kiainya sendiri yang mengarah pada kegoblokan?

Dari segi akhlak, etika, moral, dan tata krama (andap asor), Gus Baha’ harus berminta maaf atas ucapannya yang “berlandaskan ilmu pengetahuan” luas tapi menyakitkan hati banyak orang. Kiai-kiai sepuh NU kita sudah pasti memaafkan dan memaklumi perilaku lancang Gus Baha’, yang merasa NU akan besar dengan caranya yang subjektif tersebut. Kiai-kiai sepuh jauh lebih paham cara membesarkan warga Nahdliyyin dan jam’iyyah NU itu sendiri, sekalipun tidak ikut opini Baha’.

Halaman
12
Editor: Husein Sanusi
Tribunners merupakan jurnalisme warga, dimana warga bisa mengirimkan hasil dari aktivitas jurnalistiknya ke Tribunnews, dengan mendaftar terlebih dahulu atau dikirim ke email redaksi@tribunnews.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved