Breaking News:

Tribunners / Citizen Journalism

Catatan KH. Said Aqil Siroj: Bertauhid di Zaman Ujian

Iman dan tauhid pun juga begitu. Iman turun-naik. Hati mudah bolak-balik. Sebab, watak alamiah hidup adalah perubahan.

Tribunnews.com/Dennis Destryawan
Ketum PBNU Said Aqil Siradj 

Bertauhid di Zaman Ujian

Oleh: Prof. Dr. KH. Said Aqil Siroj, MA. ( Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama -PBNU-)

TRIBUNNEWS.COM - Manusia terdiri dari jiwa dan raga. Sebagaimana raga yang selalu berubah-ubah, jiwa juga. Raga bisa sakit, bisa sehat. Dari muda jadi tua. Cerdas cemerlang tiba-tiba pikun dan pelupa.

Iman dan tauhid pun juga begitu. Iman turun-naik. Hati mudah bolak-balik. Sebab, watak alamiah hidup adalah perubahan. Boleh jadi hari ini seseorang beriman, besok belum tentu; hari ini bermaksiat, besok mungkin sudah bertaubat.

Apalagi di zaman mihan, yang penuh cobaan dan ujian, seperti sekarang, beriman dan bertauhid bagaikan menggenggam bara api. Bila tidak waspada diri, perubahan sedikit pun, semisal merebaknya virus corona, bisa saja membuat iman tauhid sirna. Hilang kepercayaan pada kuasa dan kehendak Tuhan.

Padahal, perbedaan orang beriman dan tidak beriman juga sangat tipis. Orang beriman melihat keterlibatan Tuhan di balik setiap peristiwa dan perubahan. Sedangkan orang tidak beriman terjebak dalam realitas materiil yang lahiriah semata. Mereka tidak percaya pada Tuhan.

Imam Junaid Baghdadi memaknai tauhid sebagai “makna tadhmahillu fihi al-rusumu wa tandariju fihi al-‘ulumu, wa yakunu Allahu ta’ala kama lam yazal”; sebuah makna atau pengertian yang mampu menekuk segala rupa dan merangkum segala pengetahuan, dan Allah ada selama-lamanya.
Pengertian tauhid ini juga disebut ma’rifat, yakni mengenal Allah dengan benar. Dengan ma'rifat semacam itu, realitas yang beragam dilipat dan Allah Yang Maha Absolut tanpa dan tanpa akhir.

Imam Junaid berkata, “ketahuilah, ibadah kepada Allah yang pertama adalah ma’rifat tentang-Nya. Pokok utama ma’rifat Allah adalah mentauhidkan-Nya.”

Ketika wabah menelan ribuan nyawa, sebagian pulih dan sebagian wafat, tenaga medis dan ulama berjuang dengan cara masing-masing, orang bertauhid punya satu pengetahuan: Allah di balik segalanya. Sehingga tidak perlu cemas berlebihan dan takut berlebihan. Kondisi psikosomatik begitu merusak kesehatan juga iman dan tauhid.

Tauhid paling murni adalah Tauhid Dzat, yakni menafikan sifat-sifat maupun Asma Allah. Manusia mentauhidkan Allah dengan Allah sendiri. Namun begitu, pengalaman tauhid Dzat ini tidak mudah didapat, kecuali oleh orang yang dibimbing langsung oleh Allah.

Halaman
123
Berita Populer
Editor: Husein Sanusi
Tribunners merupakan jurnalisme warga, dimana warga bisa mengirimkan hasil dari aktivitas jurnalistiknya ke Tribunnews, dengan mendaftar terlebih dahulu atau dikirim ke email redaksi@tribunnews.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved