Breaking News:

Tribunners / Citizen Journalism

Gus Yaqut dan Sandi, Cermin Politik Harmoni di Era Jokowi

Jokowi berusaha membangun harmoni di tengah kecamuk suasana berbangsa dan bernegara yang akhir-akhir ini sangat dirasakan.

Istimewa
KH. Imam Jazuli, Lc. MA, Pengasuh Pondok Pesantren Bina Insan Mulia, Cirebon. 

Gus Yaqut dan sandi, cermin Politik Harmoni di Era Jokowi

Oleh: KH. Imam Jazuli, Lc., M.A*

TRIBUNNEWS.COM - Orang bilang, Indonesia contoh terbaik kehidupan berbangsa dan bernegara yang harmoni. Setelah merangkul rival terberatnya, Prabowo Subianto, di awal kepemipinan, Jokowi kini menempatkan Sandiaga Uno di jajaran kementerian. Sebuah akhir yang sempurna.

Tidak cukup itu, setelah sebelumnya sempat jatuh ke tangan orang bukan represetasi Nahdliyin, Jokowi mengangkat KH. Yaqut Cholil Qoumas di posisi Kementerian Agama (Kemenag). Sudah barang tentu keluarga besar Nahdlatul Ulama (NU) bangga dan merasa terakomodir, bahkan perasaan di "tinggal jokowi" itu berangsur reda.

Politik untuk membangun harmoni di tengah kecamuk kehidupan berbangsa, terlebih paska kedatangan Muhammad Rizieq Shihab (MRS) dari Arab Saudi, sangatlah tepat. Stabilitas dan soliditas nasional dibutuhkan oleh presiden di tengah ironi ekonomi bangsa akibat pandemi Covid-19.

Bergabungnya Prabowo Subianto, Sandiaga Uno, dan kembalinya kursi Kemenag ke pangkuan NU, adalah kabar buruk bagi kelompok “pengacau” radikal. Sudah jamak diketahui umum, kelompok sempalan Islam, Front Pembela Islam (FPI), membela paslon Prabowo-Uno di Pilpres 2019.

Tidak hanya itu, politik harmoni yang Jokowi mainkan, dengan merangkul Prabowo-Sandi, dapat mengandung dua makna. Pertama, 68.6 juta atau 44.50% suara pendukung Prabowo-Sandi bagaikan anak ayam kehilangan induknya. Dua figur utama mereka sudah berada di lingkaran kekuasaan.

Kedua, pancingan awal Jokowi kepada separuh rakyat Indonesia agar kembali bersatu padu, seperti tokoh-tokoh mereka sendiri, Prabowo-Sandi. Sekarang, terlebih pada masa pandemi, bukan saaatnya lagi berbicara perbedaan dan perpecahan, melainkan soliditas dan harmoni nasional.

Negara dalam keadaan sulit. Ekonomi harus segera pulih. Rakyat pun mesti dipastikan sehat nan produktif. Karenanya, konflik berlarut-larut yang terpolarisasi sejak Pilpres 2019 idealnya segera diakhiri. Presiden Jokowi melihat pentingnya harmoni anak bangsa, mengesampingkan visi-misi kelompok, mengedepankan kepentingan nasional.

Konflik politik umumnya semakin membara bila dikompori dengan isu-isu berbalut keagamaan. Jokowi mengerti, ormas yang konsisten mengangkat isu moderatisme antara lain NU. Gus Yaqut, Ketua Umum GP Ansor, dinilai cukup representatif dari dua sisi. Pertama, secara ideologi, paham Islam rahmatan lil alamin dan wasathiyah sebagai tameng paham radikalisme.

Halaman
12
Editor: Husein Sanusi
Tribunners merupakan jurnalisme warga, dimana warga bisa mengirimkan hasil dari aktivitas jurnalistiknya ke Tribunnews, dengan mendaftar terlebih dahulu atau dikirim ke email redaksi@tribunnews.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved