Breaking News:

Tribunners / Citizen Journalism

Gali Pendidikan Karakter dan Nilai Anti Korupsi Lewat Naskah Kuno Nusantara

Salah satu bentuk kearifan lokal berupa pemikiran dan gagasan tentang sikap, perilaku bermasyarakat bisa kita jumpai pada naskah Amanat Galunggung.

Editor: Choirul Arifin
TRIBUN JABAR/GANI KURNIAWAN
NASKAH KUNO - Petugas Seksi Perlindungan, Dedi Mulyadi memperlihatkan naskah kuno yang bertuliskan bahasa Arab pegon di Museum Sri Baduga, Jalan Peta, Kota Bandung, Kamis (20/4/2017). Naskah kuno dalam bentuk buku berbahan kertas daluang yang berjumlah empat buah itu berisi doa-doa tauhid. Peninggalan bersejarah tersebut ditemukan di kawasan Cirebon dan kini menjadi koleksi terbaru Museum Sri Baduga. Belum teridentifikasi tahun berapa naskah tersebut dibuat. (TRIBUN JABAR/GANI KURNIAWAN) 

Di dalamnya disebutkan mengenai perilaku apa saja yang harus dilakukan, dan apa saja yang tidak boleh dilakukan demi mencapai kehidupan yang mulia sebagai manusia.

Jika kita gali lebih dalam, pada naskah tersebut dinyatakan bahwa salah satu perbuatan yang dilarang untuk dilakukan adalah berebut kedudukan, berebut penghasilan, dan berebut hadiah.

Jika kita telaah lebih jauh, pada masa sekarang nasihat tersebut sebenarnya masih relevan, sebab apa yang disebutkan dalam naskah tersebut, mejadi indikasi tindak pidana korupsi jika kita komparasi dengan keadaan pada masa kini.

Definisi korupsi secara gamblang telah dijelaskan dalam 13 buah pasal yang dimuat dalam UU No. 31 Tahun 1999 jo. UU No. 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi.

Adapun jenis tindak pidana korupsi dapat dikelompokan dalam beberapa kategori, yaitu merugikan keuangan negara, suap-menyuap, penggelapan dalam jabatan, pemerasan, perbuatan curang, benturan kepentingan dalam pengadaan, dan gratifikasi.

Komisi Pemberantasan Korupsi bersama dengan para pakar telah melakukan kajian dan identifikasi mengenai nilai-nilai dasar anti korupsi yang menghasilkan sembilan nilai anti korupsi, yaitu jujur, peduli, mandiri, disiplin, tanggung jawab, kerja keras, sederhana, berani, dan adil.

Nilai-nilai tersebut kemudian juga dituangkan dalam Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 87 Tahun 2017 tentang Penguatan Pendidikan Karakter, yang menyatakan bahwa Penguatan Pendidikan Karakter dilaksanakan dengan menerapkan nilai-nilai Pancasila.

Nilai-nilai Pancasila itu meliputi nilai-nilai religius, jujur, toleran, disiplin, bekerja keras, kreatif, mandiri, demokratis, rasa ingin tahu, semangat kebangsaan, cinta tanah air, menghargai prestasi, komunikatif, cinta damai, gemar membaca, peduli lingkungan, peduli sosial, dan bertanggungjawab.

Hal tersebut pada dasarnya selaras dengan ajaran yang tertuang dalam Naskah Amanat Galunggung, yang didalamnya memuat nasihat yang berbunyi:

“Jangan bentrok karena berselisih maksud, jangan saling berkeras, hendaknya rukun dalam tingkah laku dan tujuan. Ikuti, jangan hanya berkeras pada keinginan diri sendiri saja.

Jangan membunuh yang tidak berdosa, jangan merampas hak orang lain, jangan menyakiti yang tidak bersalah, jangan saling mencurigai. Berkeras kepada keinginan sendiri, tidak mendengar nasihat ibu dan bapak, tidak mengindahkan ajaran patikrama, itulah contoh orang yang keras kepala.

Bagi kita semua, tua dan muda, jangan berkata dengan berteriak, jangan berkata menyindir, menjelekkan sesama orang, dan berkata mengada-ada.

Perlu diketahui bahwa yang menghuni neraka adalah arwah pemalas, keras kepala, pandir, pemenung, pemalu, mudah tersinggung, lamban, kurang semangat, gemar tiduran, lengah, tidak tertib, mudah lupa, tidak punya keberanian, mudah kecewa, keterlaluan, sok jagoan, mudah mengeluh, malas, tidak bersungguh-sungguh, pembantah, selalu berdusta, bersungut-sungut, menggerutu, mudah bosan, segan mengalah, ambisius, mudah terpengaruh, mudah percaya omongan orang, tidak teguh memegang amanat, sulit, rumit mengesalkan, aib dan nista.

Orang pemalas tetapi banyak keinginan yang tidak tersedia dirumahnya lalu meminta belas kasihan pada orang lain. Bila tidak diberi maka kesal hatinya.

Orang pemalas seperti air di daun talas, plin plan namanya. Kesemrawutan dunia ini karena salah tindak para orang terkemuka, penguasa, para cerdik pandai, orang kaya, semuanya salah bertindak termasuk para raja di seluruh dunia”.

Berdasarkan isi dari naskah tersebut, dapat diketahui bahwa pendidikan karakter sebenarnya bukanlah hal yang baru.

Bangsa Indonesia sudah sejak lama mengenal sistem pendidikan karakter yang diawali dengan nasihat tutur yang diberikan secara turun temurun dari generasi ke generasi.

Salah satunya seperti yang tertuang dalan naskah Amanat Galunggung tersebut, secara tersirat amanat yang terkandung dalam naskah tersebut memuat komponen yang hampir sama dengan nilai-nilai pendidikan yang dimuat dalam nilai-nilai dasar anti korupsi yang dirumuskan oleh KPK dan juga nilai-nilai yang tertuang dalam Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 87 Tahun 2017 tentang Penguatan Pendidikan Karakter.

Sehingga jelas, usaha untuk memahami dan menggali kearifan lokal menjadi penting sebagai upaya untuk memetakan pemahaman mengenai konsep dasar dalam berperilaku dan berpikir secara komprehensif sebagai pijakan dalam menghadapi berbagai tantangan dan perubahan sosiokultural.

Pendidikan karakter yang didasarkan atas kearifan lokal menjadi penting karena didalamnya terdapat proses pengembangan diri, internalisasi, dan penghayatan terhadap nilai-nilai dalam pergaulan di masyarakat.

Pola interaksi yang dilakukan akan mampu memberikan corak atau warna tertentu yang menjadi ciri khas terutama bagi negara yang multikultural seperti Indonesia.

Sehingga hal tersebut dapat dijadikan sebagai kekuatan yang transformasional guna meningkatkan kualitas dan daya saing sumber daya manusianya.

Ervina Nurjanah1
Ervina Nurjanah

*Ervina Nurjanah, lahir di Kota Tasikmalaya tanggal 19 Januari 1994. Penulis merupakan alumnus  program studi S1 Ilmu Perpustakaan, Fakultas Ilmu Komunikasi, Universitas Padjadjaran dan meraih gelar sarjana pada tahun 2017.

Saat ini Ervina Nurjanah merupakan Pustakawan Ahli Pertama yang ditempatkan pada unit kerja Pusat Bibliografi dan Pengolahan Bahan Perpustakaan, di Perpustakaan Nasional Republik Indonesia sejak Februari 2019.

Tribunners merupakan jurnalisme warga, dimana warga bisa mengirimkan hasil dari aktivitas jurnalistiknya ke Tribunnews, dengan mendaftar terlebih dahulu atau dikirim ke email redaksi@tribunnews.com

KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved