Breaking News:

Tribunners / Citizen Journalism

Waktunya Melapangkan Masa Depan NU di Tangan Generasi Muda

Membawa NU ke masa depan dengan medan juang yang kompleks, sungguh membutuhkan sosok pemimpin kuat.

Editor: Husein Sanusi
Istimewa
KH. Imam Jazuli, Lc. MA, alumni Pondok Pesantren Lirboyo, Kediri; Alumni Universitas Al-Azhar, Mesir, Dept. Theology and Philosophy; Alumni Universiti Kebangsaan Malaysia, Dept. Politic and Strategy; Alumni Universiti Malaya, Dept. International Strategic and Defence Studies; Pengasuh Pondok Pesantren Bina Insan Mulia, Cirebon; Wakil Ketua Pimpinan Pusat Rabithah Ma’ahid Islamiyah (Asosiasi Pondok Pesantren se-Indonesia); Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Periode 2010-2015. 

WAKTUNYA, MELAPANGKAN MASA DEPAN NU DI TANGAN GENERASI MUDA

Oleh: KH. Imam Jazuli, Lc. MA*

TRIBUNNEWS.COM - Era milenial penuh dengan tantangan, menuntut semua orang melakukan penyesuaian. Tidak terkecuali Jam’iah Nahdlatul Ulama, ormas besar yang pengaruhnya sekarang mendunia. Berbagai cabang istimewa dibuka di beberapa negara maju, bahkan ada Nahdlatul Ulama Afghanistan yang terinspirasi walau tidak secara struktural ada di bawah naungan NU Indonesia.

Kini cabang istimewa NU ini telah menghiasi 137 negara di dunia. Wakil Ketua Tanfidzhiah PCNU Kab. Banjar, Khairullah Zain, pernah mengataka: "para Waliyullah pendiri NU sudah tahu bahwa kelak NU akan mendunia. Buktinya, lambang NU yang dibuat KH. Ridwan Abdullah berbentuk bola dunia," (Banua.co, 21/12/2020).

Negara-negara superpower seperti Amerika Serikat, Ingris, Jerman, Perancis, Rusia, dan Tiongkok China, semuanya sudah menyaksikan kehadiran Jam'iyahh Nahdlatul Ulama. Negara-negara adidaya ini, sebagai aktor dan agen sentral ‘penggerak’ sejarah peradaban dunia, sedang menantikan kontribusi NU.

Untuk dasar itulah, Sekretaris Jenderal PBNU, Dr. KH. Helmy Faishal Zaini, mengatakan bahwa PCINU adalah duta-duta perdamaian internasional, yang dapat menempatkan dirinya dalam konteks percaturan global, serta berperan sebagai bagian dari solusi permasalahan global (uninus.ac.id).

Membawa NU ke masa depan dengan medan juang yang kompleks, sungguh membutuhkan sosok pemimpin yang kuat. Sosok pemimpin yang karismatik; bukan saja karena penguasaan ilmu keagamaannya yang luas dan perilakunya yang berbudi luhur. Lebih dari itu, ia juga memiliki energi yang berlimpah dan jaringan pergaulan berskala global.

Tantangan NU ke depan bukan semata-mata urusan ideologi keagamaan trans-nasional, yang memang selalu merecoki ketertiban dan keamanan setiap negara. Ada banyak ranah perjuangan lain yang membutuhkan dan menantikan peran dan kontribusi NU.

Dari sekian banyak kemungkinan tantangan masa depan, hal paling fundamental adalah kemampuan cabang-cabang istimewa NU ini membumi dengan dinamika sosial, kultural, politik, ekonomi, dan sains-teknologi di masing-masing negara. Seperti pepatah, “di mana kaki berpijak, di sana langit di junjung”. Dalam konteks inilah, NU bukan saja menjadi solusi bagi masalah dunia melainkan juga solusi bagi masing-masing negara tempatnya berada.

Untuk mengkordinir cabang-cabang istimewa di seluruh dunia itu, NU butuh pemimpin muda yang energik. Memiliki kekuatan spiritual, intelektual, dan fisikal yang berlimpah. Hal itu bisa kita jumpai pada pribadi generasi-generasi muda Nahdliyyin. Di samping kualitas spiritual dan intelektual, tetapi kualitas fisik juga penting.

Halaman
123

Tribunners merupakan jurnalisme warga, dimana warga bisa mengirimkan hasil dari aktivitas jurnalistiknya ke Tribunnews, dengan mendaftar terlebih dahulu atau dikirim ke email redaksi@tribunnews.com

KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2021 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved