Breaking News:

Tribunners / Citizen Journalism

Pembelajaran Bahasa Inggris Berbasis Digital

Pada era revolusi industri 4.0 dan e-learning 5.0 sekarang ini, kompetensi Bahasa Inggris wajib dimiliki oleh semua

Editor: Daryono
Shutterstock
Ilustrasi belajar daring. 

Oleh: Damar Isti Pratiwi, mahasiswa S3 Pendidikan Bahasa Inggris Universitas Negeri Semarang, Dosen Bahasa Inggris Politeknik Perkeretaapian Indonesia Madiun

TRIBUNNEWS.COM - Pada era revolusi industri 4.0 dan e-learning 5.0 sekarang ini, kompetensi Bahasa Inggris wajib dimiliki oleh semua pembelajar untuk mengikuti perkembangan dunia. Bahasa Inggris yang telah menjadi lingua franca (bahasa pengantar) telah dijadikan sebagai Mata Kuliah Umum (MKU) di semua Universitas yang wajib diikuti oleh seluruh mahasiswa.

Namun, indeks kemampuan Bahasa Inggris pada tahun 2020 menunjukkan bahwa kemampuan Bahasa Inggris peserta didik di Indonesia masih tergolong rendah – berada di peringkat ke 74 dunia – jauh tertinggal dari Singapura yang berada di peringkat 10 ataupun Malaysia yang berada di peringkat ke 30. Bahkan Indonesia juga tertinggal diantara 2 negara ASEAN yang lain, yaitu Bangladesh di peringkat 63, dan Vietnam di peringkat 65. Hanya sedikit lebih baik dari Kamboja yang berada di peringkat 84 dan Thailand di peringkat 89.

Berbagai perubahan kurikulum Bahasa Inggris mulai dari audio-lingual method hingga communicative competence yang digunakan sekarang ini ternyata belum mampu meningkatkan kemampuan Bahasa Inggris peserta didik. Pola teachers-centered yang telah berubah menjadi students-centered ternyata juga belum mampu memberikan perubahan yang signifikan terhadap hasil belajar pserta didik di level universitas (Poedjiastutie, 2019).

Sebuah perubahan desain pembelajaran Bahasa Inggris perlu untuk dilakukan terutama di masa pembelajaran daring seperti sekarang ini. Pembelajaran berbasis digital bukan hanya merubah proses pembelajaran luring (face-to-face) menjadi daring (face-to-screen), tetapi perlu adanya perubahan metode dan strategi pembelajaran sehingga dapat sesuai dengan tujuan pembelajaran dan kebutuhan peserta didik.

Integrasi Kelas Digital

Kelas digital atau sering disebut kelas luring (online) sering dimaknai sebagai proses pembelajaran melalui Zoom meeting atau Google meet. Namun, makna kelas digital lebih luas daripada hanya sekedar pertemuan luring melalui platform-platform tertentu. Menurut Pathak dan Manoj (2018) kelas digital merupakan proses pembelajaran yang melibatkan penggunaan teknologi informasi baik secara langsung (synchronous) dan tidak langsung (asynchronous). Pembelajaran secara langsung dapat menggunakan media seperti Zoom meeting atau Google meet dimana pengajar dan peserta didik bertatap muka secara langsung melalui layar kaca, sedangkan pembelajaran tidak langsung dapat dilakukan dengan memberikan penugasan pada platform digital seperti pada Google form, Kahoot!, Socrative, Quizizz, Quizlet, Writeabout, dll.

Pada penyelenggaraan kelas luring yang telah memanfaatkan teknologi informasi, berbagai platform digital tersebut di atas telah terbukti efektif untuk meningkatkan hasil belajar dan motivasi belajar peserta didik di kelas Bahasa Inggris reguler (Mulyadi et al., 2020; Ubaedillah et al., 2021). Pada program intensif Bahasa Inggris, platform digital tersebut juga secara signifikan meningkatkan hasil belajar peserta didik ketika dilaksanakan pada model hybrid learning dengan metode Task-Based Learning (Pratiwi et al., 2021; Ulla & Perales, 2021). Dengan demikian, diperlukan kreativitas dan inovasi dari para pengajar untuk mengintegrasikan platform teknologi informasi ini supaya juga dapat efektif dan efisien pada kelas Bahasa Inggris luring di masa pandemi sekarang ini.

Pemilihan dan pemilahan materi yang berdasarkan tujuan pembelajaran dan kebutuhan siswa melalui needs analysis harus dilakukan sebelum melakukan migrasi kelas luring ke daring. Para pengajar harus bisa menentukan materi untuk kelas synchronous dan asynchronous sehingga peserta didik tetap dapat menangkap esensi materi pembelajaran secara holistik. Penelitian yang melibatkan 957 peserta didik kelas Bahasa Inggris berbasis digital menunjukkan bahwa penggunaan teknologi informasi dapat mendorong peserta didik memiliki autonomous learning dimana mereka dapat menerima tanggung jawab pembelajaran sesuai yang mereka inginkan (Waluyo, 2020). Selain itu, juga dapat meningkatkan hasil belajar secara bertahap.

Kelas digital ini tentunya akan menarik apabila dapat diterapkan di seluruh kelas Bahasa Inggris di semua Perguruan Tinggi di Indonesia. Selain dapat meningkatkan kompetensi Bahasa Inggris secara bertahap, peserta didik yang sadar akan tanggung jawabnya dalam pembelajaran akan termotivasi dalam belajar dan memiliki inisiatif dalam mengembangkan ilmu yang dipelajari. Namun demikian, ada satu catatan penting sebelum penerapan kelas Bahasa Inggris berbasis digital ini dieksekusi. Penyediaan fasilitas pembelajaran untuk menerapkan konsep kelas digital dan kompetensi digital para pengajar juga harus disiapkan. Koneksi internet yang stabil yang dapat mendukung pelaksanaan kelas digital wajib dipenuhi sehingga kelas tidak akan macet di tengah jalan.

Pengoperasian kelas berbasis digital melalui platform SRS (Students Response System) seperti Google form, Kahoot!, Socrative, Quizizz, Quizlet, Writeabout, dll, wajib dikuasai oleh para pengajar supaya tidak terjadi kegaduhan saat program dijalankan di kelas. Pengenalan terhadap platform digital kepada para peserta didik juga penting untuk dilakukan supaya tidak terjadi kesenjangan teknologi informasi. Dengan demikian, penguasaan Bahasa Inggris dapat tercapai untuk mendukung terciptanya SDM Indonesia yang mampu berkompetisi di era global.(*)

Sumber: TribunSolo.com

Tribunners merupakan jurnalisme warga, dimana warga bisa mengirimkan hasil dari aktivitas jurnalistiknya ke Tribunnews, dengan mendaftar terlebih dahulu atau dikirim ke email redaksi@tribunnews.com

KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved