Breaking News:

Tribunners / Citizen Journalism

Muktamar NU

Muktamar NU, dari Gegeran ke Ger-geran

Tradisi ger-geran ini menggambarkan tentang bagaimana menjalani hidup, sekaligus menerjemahkan spirit agama

Editor: Husein Sanusi
Istimewa
KH. Imam Jazuli, Lc. MA, alumni Pondok Pesantren Lirboyo, Kediri; Alumni Universitas Al-Azhar, Mesir, Dept. Theology and Philosophy; Alumni Universiti Kebangsaan Malaysia, Dept. Politic and Strategy; Alumni Universiti Malaya, Dept. International Strategic and Defence Studies; Pengasuh Pondok Pesantren Bina Insan Mulia, Cirebon; Wakil Ketua Pimpinan Pusat Rabithah Ma’ahid Islamiyah (Asosiasi Pondok Pesantren se-Indonesia); Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Periode 2010-2015. 

Muktamar NU, dari Gegeran ke Ger-geran

Oleh: KH. Imam Jazuli, Lc. MA

TRIBUNNEWS.COM - Muktamar NU yang dimulai dengan gejolak diprediksi berakhir dengan "happy ending". Tidak mungkin figur-figur kyai besar seperti calon-calon terkuat, misalnya Kyai Said dan Gus Yahya, memberikan teladan buruk, misal mengesankan pada publik ambisi harus tercapai, apapun risikonya. Mustahil asumsi publik bahwa kyai-kyai dan ormas NU sudah kehilangan marwah mereka, terafirmasi.

Keyakinan kita bahwa polemik dan dinamika jelang Muktamar akan berakhir "happy ending", salah satunya, terinspirasi dari status FB Cak Imin "Muktamar NU serunya, biasanya dari gegeran ke ger-geran. Wait and see, sambil ngopi " dan tulisan Dr. KH. Ahmad Fahrur Rozi (Khadim Pondok Pesantren Annur 1 Bululawang Malang sekaligus Wakil Ketua PWNU Jawa Timur) berjudul "Dinamika Muktamar Para Kiai". Yang jelas memberikan sinyal bahwa Jam'iyyah Nahdlatul Ulama memiliki tradisi kuat mengolah perbedaan, mengubah gegeran (konflik) menjadi ger-geran (canda tawa bersama).

Mengapa bisa begitu? Ada banyak alasan. Pertama, tradisi ger-geran (canda) ini bukan semata tradisi, tetapi juga masih terbukti efektif menjadi bagian metode berdakwah. Bisa dilihat dari kyai-kyai NU saat berdakwah, baik di tengah masyarakat maupun di atas panggung. Kadang bagi orang yang tidak paham, kontens keagamaan yang disampaikan jauh lebih sedikit dari guyonan dan hiburannya. Tradisi dan metode berdakwah yang bahagia macam ini tumbuh subur di Nusantara, khususnya di kalangan Kyai NU.

Tradisi ger-geran ini menggambarkan tentang bagaimana menjalani hidup, sekaligus menerjemahkan spirit agama bahwa "hidup hanyalah permainan dan denda gurau". Karena hidup hanya Senda Gurau maka tidak perlu ada yang betul-betul perlu dimasukkan ke hati. Karena itu pula, seperti catatan KH. Ahmad Fahrur Rozi, pada setiap pagelaran muktamar pasti ada Gegeran, tetapi selalu berujung ger-geran, rujuk dan ishlah; misalnya Abul Hasan rujuk dengan Gus Dur (1994); Hasyim Muzadi rujuk dengan Gus Dur (2004); kubu Gus Solah ishlah dengan kubu Kyai Sa'id (2015).

Kedua, ger-geran ini bukan saja warisan tradisi yang sudah mendarah daging sejak masa silam, tetapi lebih sebagai kebutuhan di masa depan. Bangsa kita hari ini sudah sangat pintar, kaya informasi, kritis dalam analisa mereka. Intinya, generasi milenial kita adalah generasi yang berpengetahuan luas. Tetapi, bukankah kita semua sudah tahu, makhluk Tuhan paling berilmu tinggi itu bukan manusia, melainkan iblis? Bukankah manusia pertama Adam as dimuliakan Allah, bahkan malaikat disuruh bersujud padanya, adalah karena ketakwaan, bukan ilmu? Dan ketika ketakwaan itu sempat hilang, Adam terusir dari surga?

Dalam atmosfer kontemporer, di mana generasi mudanya mendambakan keteladanan, maka gegeran terus-menerus tanpa ger-geran adalah membuat mereka jengah. Belakangan di media massa tersebar artikel-artikel yang mengatasnamakan Forum Muda Nahdliyyin Indonesia (FMNI). Kalau risalah-risalah yang diterbitkannya kita baca dengan serius, maka kesan pertama yang muncul di hati kita adalah kemunculan generasi baru Nahdliyyin, anak-anak muda Nahdliyyin, yang jengah melihat perilaku senior-senior mereka di NU. Para anak muda ini mengusulkan agar ada ishlah, musyawarah dan mengedepankan kepentingan marwah organisasi.

Tentu saja, beberapa kyai yang lebih senior merasa tersinggung dengan beberapa kalimat yang dibuat oleh FMNI, karena aspek senioritas mereka merasa tersentil, tersinggung, dan berpikir kenapa tiba-tiba anak-anak muda ini "lancang" dan berani memberikan masukan-masukan dan saran pada yang senior. Persoalan ini tentu saja sama-sama benar dari dua sisi. Kemunculan kritik-kritik FMNI adalah konsekuensi langsung dari Gegeran Jelang Muktamar 34 ini. Jika kaum muda menngkritik keras maka tidak bisa sepenuhnya disalahkan. Sebab, Gegeran tanpa Ger-geran memang membosankan.

Ger-geran bukan lagi tradisi, tetapi kebutuhan yang niscaya. Para calon terkuat yang sudah terbaca oleh publik sebagai orang yang penuh ambisi kekuasaan, mereka boleh terus gegeran sampai muktamar 34 ini berjalan. Tetapi, paca calon ketua umum (caketum) ini juga harus memikirkan cara ger-geran, agar dinamika internal ini berakhir "happy ending". Jika para caketum ini tidak mampu mencari cara dan solusi untuk "happy ending", tentu saja akan gelisah. Bagaimana tidak gelisah, sementara di sisi lain, kita semua sangat kagum pada kedewasaan para elite politisi, yang mampu mendamaikan Jokowi dan Prabowo pasca Pilpres 2019. Jika politisi saja bisa ishlah dan rujuk, kenapa Kyai NU tidak?!

Halaman
12

Tribunners merupakan jurnalisme warga, dimana warga bisa mengirimkan hasil dari aktivitas jurnalistiknya ke Tribunnews, dengan mendaftar terlebih dahulu atau dikirim ke email redaksi@tribunnews.com

KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2022 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved