Jumat, 29 Agustus 2025

Tribunners / Citizen Journalism

Pangkostrad Mohamad Hasan dan Pangdam Jaya Rafael, Dua Jenderal Menulis Sejarah di Bibir Ciliwung

Saat sertijab Dan Grup 2 Solo dari Kolonel Richard Tampubolon ke Kolonel Rafael, saya hadir di Solo sambil menikmati kuliner tengkleng.

|
Editor: Dewi Agustina
Istimewa
Di bibir Sungai Ciliwung, Cijantung Jakarta Timur, Minggu (25/8/2024) pagi dua jenderal duduk bersama. Mereka adalah Letnan Jenderal TNI Mohamad Hasan dan Mayor Jenderal TNI Rafael Granada Baay. Dua jenderal yang sama-sama memegang tongkat panglima. 

Hasan masih ingat, perintah tugas pengamanan dari Doni saat kerusuhan Mei 1998.

Hasan dan kompinya ditugaskan ke kawasan Universitas Atmajaya Semanggi. Doni sendiri berada sekitar Kelapa Gading Jakarta Utara.

Doni Monardo wafat 3 Desember 2023.

“Dari beliau kami mendapat banyak ilmu kepemimpinan, gemblengan keprajuritan, dan cinta lingkungan hidup. Semua yang pernah digembleng almarhum, pasti cinta alam, cinta lingkungan. Karena itu, saya dan Rafael sepakat bikin syukuran 17 Agustus di tepi Ciliwung sambil melakukan aksi sosial. Semoga beliau tersenyum di surga,” papar Hasan, mengenang Doni Monardo.

Sedangkan, Mayjen I Gusti Putu Danny Nugraha Karya adalah teman seangkatan Hasan dan Rafael (1993).

“Kami dan almarhum Putu Danny sering ngopi di sini bersama teman-teman lain,” ujar Hasan.

Putu Danny wafat di medan tugas Papua pada 25 April 2021. Ia menjadi perwira Kopassus hampir sepanjang kariernya.

Danny kerap memimpin dan berbaur dengan bawahannya di lapangan secara langsung, bukan di pusat komando.

Saat wafat, pangkatnya Brigjen. Setelah wafat, ia secara anumerta menjadi mayor jenderal atas jasanya.

Novel Sejarah

Baiklah, sebelum melanjutkan kisah bersih bersih Ciliwung, saya teringat sebuah novel bertajuk “Di Tepi Kali Bekasi” yang terbit pertama tahun 1951.

Pengarangnya, Pramoedya Ananta Toer. Mengisahkan heroiknya para pejuang yang terhimpun dalam laskar maupun tentara rakyat berlatar belakang Karawang - Bekasi tahun 1945.

Isinya, kronika pertempuran melawan Sekutu, demi mempertahankan kemerdekaan.

Tak sedikit pejuang yang gugur, baik secara gagah ataupun secara konyol. Tokoh pemuda dalam novel tersebut bernama "Farid".

Dalam sekuel lain, ada puisi Chairil Anwar berjudul “Karawang – Bekasi”.

Halaman
1234

Tribuners adalah platform jurnalisme warga. Untuk berkontribusi, anda bisa mengirimkan karya dalam bentuk berita, opini, esai, maupun kolom ke email redaksi@tribunnews.com

Konten menjadi tanggungjawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi tribunnews.com.

Berita Terkait

Berita Terkini

© 2025 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
About Us Help Privacy Policy Terms of Use Contact Us Pedoman Media Siber Redaksi Info iklan