Kamis, 16 April 2026

Tribunners / Citizen Journalism

Pemilihan Paus Baru

Konklaf 2025, Paus Baru di Tengah Krisis Dunia

Meski dikenal progresif, Fransiskus tetap konservatif dalam hal iman dan liturgi dan ini jadi basis pedoman dalam menanggapi situasi sosial dunia

|
Editor: Eko Sutriyanto
Tangkap Layar Youtube Vatican News
PIPA KONKLAF DIPASANG - Para pekerja di Vatikan pada hari Jumat waktu setempat (2/5/2025) diketahui telah memasang sebuah cerobong di atap Kapel Sistine untuk prosesi konklaf. 

Oleh Yophiandi Kurniawan, Ketua Bidang Komunikasi Antar-Lembaga  Paguyuban Wartawan Katolik Indonesia

"Setiap masa melahirkan Paus-nya sendiri. Yang peka pada aspek sosial namun teguh pada ajaran Kristus dan tradisi Gereja"

TRIBUNNERS - Masyarakat disuguhi adanya dua Konklaf, pekan ini. Satu film arahan karya Edward Berger, “Conclave”. Satu lagi Konklaf betulan di Kapel Sistina, Vatikan.

Memanfaatkan momentum Konklaf, film ini kembali diputar di bioskop di Indonesia, setelah turun layar bioskop pada Maret lalu. Konklaf versi film Hollywood menceritakan intrik dalam pemilihan Paus. Termasuk latar belakang para kardinal yang jadi calon Paus pengganti. Latar belakang yang sebagian besar tak terpuji. Ambisius, menyalahgunakan wewenang, sampai pencabulan, itulah latar sebagian para kardinal yang dijagokan. 

Penyuka film dan doyan teori konspirasi tentu gembira karena bisa mencocoklogikan film dengan kenyataan saat ini di Vatikan. Apalagi sosok Paus yang meninggal dalam film karakternya mirip dengan Fransiskus. Progresif dan mempesona awam dalam sikap sosialnya. 

Sebuah kebetulan, karena Fransiskus pun melakukan hal-hal yang progresif dalam kebiasaan dan pola pikir umat Katolik. Fransiskus mengarahkan Gereja banyak pada aspek sosial yang tanggap pada zaman.

Meski dikenal progresif, Fransiskus tetap konservatif dalam hal iman dan liturgi. Basis ini jadi pedoman kuatnya dalam menanggapi situasi sosial dunia dan juga politik dunia yang sedang tidak baik-baik saja. Satu pepatah Latin yang dipegang Fransiskus, “Fortiter in re, suaviter in modo" kurang lebih, tegas dalam prinsip, lembut dalam cara.

Saking progresifnya, bahkan masyarakat non Katolik ikut melihat “sepak terjang” Fransiskus. Laudato Si, adalah imbauannya yang pertama dalam bentuk Ensiklik. Intinya mengimbau—kalau bukan mewajibkan—umat Katolik merawat lingkungan dan bertanggung jawab pada kelestarian alam. 

Baca juga: Vatikan akan Memutus Sinyal Ponsel Selama Konklaf Pemilihan Paus

Tapi, Ensiklik Laudato Si yang dikeluarkan pada 2015, bukan yang pertama. Justru yang pertama kali diungkapkannya adalah sebuah teguran keras. Pada 2013, Paus mengecam mereka yang punya budaya mengambil banyak makanan dan tidak menghabiskannya. Malah membuang sisa makanannya. “Budaya membuang makanan membuat kita kehilangan sensitivitas.

Kebiasaan ini menjijikkan di saat banyak orang dan keluarga di dunia masih kelaparan dan kekurangan gizi. Membuang makanan tak ubahnya mencuri makanan dari meja orang miskin dan kelaparan," kata Paus Fransiskus di Hari Lingkungan Hidup Sedunia pada 2013—tahun di mana dia, Jorge Bergoglio diangkat menjadi Paus.

Hal  menakjubkan, teguran keras ini tak diucapkannya dengan berapi-api atau mimik gusar. Tapi mimik yang meneduhkan dan intonasi yang biasa saja, layaknya bicara.

Banyak pesan Paus yang juga keras sebetulnya. Termasuk urusan kekerasan di Gaza. Hingga Januari 2025, Paus Fransiskus memberi sinyal yang kesekian kali memihak Gaza. Sang pemimpin tertinggi umat Katolik menelpon para pastor, termasuk Pastor Gabriele Romanelli, gembalanya di Gaza. 

Selain bertanya keadaannya, Paus memintanya untuk berhati-hati menjaga diri di tengah situasi yang tak menentu dalam konflik Hamas dengan Israel. Menurut Pastor Gabriele, Paus menelepon tiap hari sekitar 15 menit, untuk menanyakan kabar mereka.

Tapi, untuk urusan politik perang ini, Kardinal Pietro Parolin, Menteri Sekretaris Negara menjelaskan, tak cuma Israel-Palestina. Dalam perbincangan dengan Paguyuban Wartawan Katolik Indonesia pada November 2022, Monsinyur Parolin menjelaskan dengan gamblang apa-apa saja yang menjadi perhatian Vatikan. Yakni termasuk Rusia-Ukraina, dan sejumlah kekerasan lain di dunia, serta kemiskinan dan penyebabnya. Tak cuma memperhatikan, Kardinal Parolin juga menjelaskan upaya Vatikan untuk menghentikannya.

Tak terlewat juga, Paus Fransiskus menyebut  salah satu pemicu kekerasan yang melahirkan penderitaan, adalah keserakahan pada sumber daya alam dan ambisi berkuasa. Hal yang bisa jadi dianggap “sindiran” bagi masyarakat di Indonesia, saat hadir di Istana Negara, dan Masjid Istiqlal.

Tribuners adalah platform jurnalisme warga. Untuk berkontribusi, anda bisa mengirimkan karya dalam bentuk berita, opini, esai, maupun kolom ke email redaksi@tribunnews.com

Konten menjadi tanggungjawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi tribunnews.com.

Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved