Tribunners / Citizen Journalism
Indonesia Masuk Ranking Aman, Kabur Bukan Pilihan
Dunia menilai Indonesia sebagai satu negara paling aman jika Perang Dunia III pecah. Indonesia dinilai unggul karena sejumlah faktor..
Negara-negara besar saat ini juga menggeser orientasi pertahanannya ke arah yang mengintegrasikan kemampuan tempur dan daya dukung sipil.
Presiden Prabowo, dalam hal ini, ingin membawa Indonesia selaras dengan arus global, tapi tetap dengan karakter kemandirian nasional yang kuat.
Namun, strategi betapa pun baiknya, hanya akan efektif jika mendapat dukungan kolektif.
Kita tidak bisa membiarkan inisiatif kebijakan ini terus-menerus diganggu oleh skeptisisme berlebihan yang berakar pada trauma atau ketidakpercayaan lama.
Sebaliknya, kita juga tidak boleh silau oleh simbol dan jargon tanpa mengawal substansi dan tata kelola yang akuntabel.
Di sinilah pentingnya kepercayaan sebagai modal dasar ketahanan nasional.
Kepercayaan publik terhadap institusi, terhadap arah kebijakan, dan terhadap kemampuan negara untuk hadir di saat genting.
Ketahanan bukan sekadar soal sistem, tapi juga soal psikologi dan moral bangsa.
Untuk itu, peran masyarakat sipil, media, dan komunitas intelektual menjadi sangat penting, bukan untuk sekadar mengkritik atau memuji, tetapi untuk mengawal dan menyempurnakan.
Kesiapan nasional tidak tumbuh dari narasi tunggal, tapi dari kolaborasi multipihak yang berjalan seirama.
Dari Penilaian Global ke Ketangguhan Nyata
Penilaian dari dunia internasional terhadap Indonesia sebagai negara yang relatif aman memang tidak seharusnya membuat kita berpuas diri.
Justru itu menjadi titik tolak untuk memantapkan diri dan bersungguh-sungguh membangun sistem yang tangguh, adaptif, dan siap menghadapi krisis nyata dalam segala bentuknya.
Menjadi aman menurut indeks luar adalah persepsi.
Tapi menjadi siap, tangguh, dan berdaya tahan adalah pilihan, yang hanya bisa diwujudkan melalui visi besar, eksekusi yang konsisten, dan dukungan sosial yang kuat.
Visi Presiden Prabowo untuk menjadikan Indonesia sebagai negara yang membela, bukan mengintai adalah bagian dari paradigma baru pertahanan nasional.
Tribuners adalah platform jurnalisme warga. Untuk berkontribusi, anda bisa mengirimkan karya dalam bentuk berita, opini, esai, maupun kolom ke email redaksi@tribunnews.com
Konten menjadi tanggungjawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi tribunnews.com.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/Pengamat-militer-Institute-for-Security-and-Strategic-Studies-ISESS-Khairul-Fahmi.jpg)