Rabu, 6 Mei 2026

Tribunners / Citizen Journalism

Prabowo di KTT BRICS 2025 Penting bagi Masa Depan Indonesia

Kehadiran Presiden Prabowo Subianto di KTT BRICS 2025 di Rio de Janeiro menjadi momen penting bagi Indonesia untuk memetakan posisinya.

Tayang:
Dok Pribadi/HO
KTT BRICS - Achmad Firdaus H. Mahasiwa Doktor Hubungan Internasional dari University People’s Friendship of Russia. 

Oleh: Achmad Firdaus H.
Mahasiwa Doktor Hubungan Internasional dari University People’s Friendship of Russia

TRIBUNNERS - Kehadiran Presiden Prabowo Subianto di KTT BRICS 2025 di Rio de Janeiro menjadi momen penting bagi Indonesia untuk memetakan posisinya dalam peta geopolitik dan ekonomi global yang sedang berubah.

Dalam forum yang kini beranggotakan kekuatan ekonomi baru seperti China, India, Rusia, Arab Saudi, dan Uni Emirat Arab ini, Indonesia berkesempatan memperluas jaringan diplomasi sekaligus mengamankan kepentingan nasional di tengah ketidakpastian dunia.

BRICS yang telah bertransformasi menjadi BRICS+ kini mewakili 45 persen populasi dunia dan menguasai sepertiga perekonomian global. Bagi Indonesia, forum ini menawarkan tiga peluang utama: Pertama, akses ke pasar yang lebih luas. 

Dengan masuknya negara-negara Timur Tengah ke dalam BRICS+, Indonesia bisa memperluas ekspor komoditas andalannya seperti minyak sawit, nikel, dan produk manufaktur ke pasar yang selama ini kurang terjamah.

Kedua, alternatif pendanaan pembangunan. New Development Bank (NDB) milik BRICS bisa menjadi sumber pembiayaan infrastruktur dan proyek strategis seperti Ibu Kota Nusantara (IKN) serta transisi energi, mengurangi ketergantungan pada lembaga keuangan Barat.

 

Ketiga, perlindungan dari gejolak sistem keuangan global. Inisiatif BRICS dalam transaksi mata uang lokal sejalan dengan upaya Bank Indonesia mengurangi ketergantungan pada dolar AS, terutama di tengah ancaman kebijakan proteksionisme Amerika Serikat jika Donald Trump terpilih kembali.

Namun, keikutsertaan Indonesia dalam BRICS tidak tanpa risiko. Persaingan antara China dan India dalam kelompok ini bisa mempersulit terciptanya konsensus yang menguntungkan semua anggota.

Selain itu, kedekatan dengan BRICS berpotensi memicu ketegangan dengan Amerika Serikat dan sekutunya, yang selama ini menjadi mitra strategis Indonesia.

Pemerintah perlu memastikan bahwa pendekatan terhadap BRICS tidak dianggap sebagai pergeseran aliansi, melainkan sebagai perluasan jaringan kerja sama yang seimbang.

Diplomasi Indonesia harus tetap berpegang pada prinsip "bebas aktif", memanfaatkan BRICS untuk kepentingan ekonomi tanpa terlibat dalam persaingan geopolitik antara blok Barat dan Timur.

Strategi terbaik bagi Indonesia adalah memposisikan diri sebagai "mitra kerja sama selektif" BRICS.

Fokus pada kerja sama teknis di bidang perdagangan, investasi, dan transfer teknologi, sambil menghindari ikatan politik yang mengikat.

Beberapa langkah konkret yang bisa diambil yaitu, Indonesia harus emperdalam kerja sama bilateral dengan anggota BRICS+ tertentu seperti Arab Saudi dan UAE di sektor halal economy dan investasi energi dan mengeksplorasi pembiayaan proyek infrastruktur melalui NDB ( National Development Bank ) dengan syarat yang menguntungkan serta memperkuat transaksi mata uang lokal dengan mitra dagang utama di BRICS.

Tribuners adalah platform jurnalisme warga. Untuk berkontribusi, anda bisa mengirimkan karya dalam bentuk berita, opini, esai, maupun kolom ke email redaksi@tribunnews.com

Konten menjadi tanggungjawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi tribunnews.com.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved