Minggu, 3 Mei 2026

Tribunners / Citizen Journalism

Menelaah Liminalitas di Ruang Pendidikan Modern

Murid baru melewati fase liminal, ruang transisi identitas & peluang inovasi, penting untuk perkembangan pribadi & sosial mereka

Tayang:
Editor: Glery Lazuardi
Istimewa
GEDUNG SEKOLAH - Odemus Bei Witono menyoroti soal tahun ajaran baru di TK hingga SMA/SMK. 

Odemus Bei Witono

Direktur Perkumpulan Strada dan Pemerhati Pendidikan

TRIBUNNEWS.COM - Dalam pengamatan penulis, setiap tahun ajaran baru, para murid yang masuk jenjang berbeda di warnai dinamika tersendiri, misalnya dari TK masuk SD, SD masuk SMP, dan SMP masuk SMA/SMK. Ada masa transisi di jenjang yang baru. Fase tersebut menarik untuk dibahas.

Pendidikan, pada dasarnya, merupakan sebuah proses transisi. Murid-murid tidak hanya menyerap pengetahuan, tetapi juga melewati tahapan-tahapan yang mengubah mereka dari satu status ke status lainnya. 

Dalam konteks tersebut, konsep liminalitas—periode ambang batas atau "ruang di antara"—menjadi sangat relevan, terutama bagi murid baru. Mereka berada di antara identitas lama (murid SD, misalnya) dan identitas baru (murid SMP), sebuah fase yang penuh dengan ketidakpastian dan potensi transformasi.

Konsep liminalitas sendiri pertama kali diperkenalkan oleh etnolog Prancis Arnold van Gennep (1909) dalam bukunya yang berjudul "Les Rites de Passage" (dalam bahasa Inggris diterjemahkan sebagai "The Rites of Passage"), dan dikembangkan lebih lanjut oleh Victor Turner (1969).

Di era pendidikan modern yang serba cepat dan digital, pengalaman liminalitas ini menjadi semakin kompleks. Jika dulu perkenalan hanya terbatas pada ruang kelas, kini jejaring sosial dan platform daring menjadi arena baru. 

Murid baru dapat menavigasi tidak hanya kurikulum, tetapi juga hierarki sosial yang tak terlihat, baik di dunia nyata maupun virtual. Liminalitas mereka bukan hanya tentang transisi fisik dari gerbang sekolah lama ke sekolah baru, tetapi juga transisi identitas digital.

Sekolah modern memiliki tanggung jawab besar untuk tidak hanya mengenali, tetapi juga mengelola fase liminal ini dengan efektif. Kurikulum yang berfokus pada kecerdasan emosional dan sosial (SEL) dapat menjadi jembatan yang kuat. Dengan mengajarkan empati, kolaborasi, dan resiliensi, sekolah membantu murid-murid menavigasi ketidaknyamanan berada di "ruang di antara."

Selain itu, program orientasi yang dirancang dengan baik tidak boleh hanya sebatas perkenalan fasilitas. Sebaliknya, program ini dapat menghasilkan ruang aman di mana murid baru dapat mengekspresikan kekhawatiran mereka, membangun koneksi, dan mulai membentuk identitas baru mereka tanpa tekanan. Pendekatan ini mengubah liminalitas dari pengalaman yang menakutkan menjadi sebuah kesempatan untuk pertumbuhan pribadi.

Liminalitas bukanlah sebuah kelemahan, melainkan sebuah kekuatan tersembunyi. Di ambang batas inilah, di mana norma-norma lama belum berlaku dan norma-norma baru belum sepenuhnya terbentuk, kreativitas dan inovasi sering kali mekar. 

Para murid baru, yang belum sepenuhnya terikat oleh struktur atau ekspektasi yang ada, memiliki perspektif segar. Mereka cenderung lebih berani untuk bertanya, mengeksplorasi, dan bahkan menantang status quo.

Pendidikan modern perlu memanfaatkan energi liminal ini. Daripada buru-buru mengintegrasikan murid baru ke dalam sistem yang kaku, sekolah harus memberi mereka ruang untuk bereksperimen.

Hal demikian bisa berarti mendorong para murid untuk membentuk kelompok baru, memulai proyek-proyek inovatif, atau sekadar memberi mereka kebebasan dalam mendefinisikan kembali peran di lingkungan baru. 

Dengan demikian, liminalitas tidak hanya menjadi fase transisi, melainkan sebuah inkubator untuk generasi masa depan yang adaptif dan visioner.

Tribuners adalah platform jurnalisme warga. Untuk berkontribusi, anda bisa mengirimkan karya dalam bentuk berita, opini, esai, maupun kolom ke email redaksi@tribunnews.com

Konten menjadi tanggungjawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi tribunnews.com.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved