Tribunners / Citizen Journalism
Guruku Mulia
Guru bukan hanya pengajar, tapi penuntun jiwa. Dari merekalah lahir generasi berilmu, berakhlak, dan cinta pada kedamaian.
Andi Muhammad Jufri
- S1, Ilmu Kelautan dan Perikanan Unhas (1992-1998)
- S2, Manejeman Pembangunan Sosial, Jurusan Sosiologi, Fakultas Ilmu Sosial dan Politik, Universitas Indonesia (2004 -2006)
Bekerja
- Community Development Specialis di Yayasan Nurani Dunia (2006 -2014)
- Tim Leader Pemberdayaan Kegiatan Sinergisitas Antar Kementerian
/Lembaga Program Penanggulangan Terorisme, BNPT (2017 -2024) - Tenaga Ahli Wakil Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, KPPPA (2025 - sekarang)
Domisili
Kelurahan Kelapa Dua, Kecamatan Kelapa Dua, Kabupaten Tangerang, Banten.
TRIBUNNEWS.COM - Guru adalah jembatan dan pintu mendapatkan ilmu sebagai bekal menjalani masa depan anak-anak kita. Guru adalah siapa pun yang dapat memberikan pelajaran kebaikan kepada anak-anak dan kita semua. Ada guru di rumah (orang tua), guru di sekolah, dan guru di lingkungan masyarakat.
Guru kita mulia karena darinya kita mendapatkan ilmu pengetahuan yang luas di berbagai bidang, membimbing dan melatih berbagai ketrampilan yang kita butuhkan, mendidik dan memberikan contoh budi pekerti yang luhur, dan mengarahkan menemukan jati diri dan mengembangkan potensi yang kita miliki.
Kita semua hari ini, profesi apa pun, di level jabatan apa pun, usia berapa pun dan tinggal di mana pun, jasa ketiga guru di atas tak akan terlupakan. Pasti doa selalu terpanjatkan untuk mereka, rasa hormat dan menjaga nama baiknya serta mentaati nasehatnya menjadi perhatian utama kita semua. Bahkan cerita keusilan guru tempo dulu menjadi canda masa kini, yang tak terlupakan.
Memang, segala didikan guru, tidak semua hasil kita dapatkan secepatnya. Tapi, seiring dengan perjalanan hidup, dari pelajar, mahasiswa, bekerja, menikah, memiliki anak, menjadi orang tua, bertetangga, bermasyarakat, berbangsa, dan memasuki usia langsia, menjadi kakek nenek, kita baru menyadari secara bertahap betapa pentingnya segala pendidikan yang telah kita terima selama ini. Mereka, para guru, telah berjasa menjadi pewarna hidup kita.
Guru kita pun, sering dikagetkan ketika sang murid yang dulu dididiknya, telah menjadi sesuatu di masyarakat. Guru pun sering bercanda, bahwa dulu sang murid dan pelajar ini, usil, nakal, rajin dan lain-lain.
Guru pun tidak pernah menyangka, bahwa keringat dan jerih payah mereka, memberi ilmu, mengajar, melatih, berdiri di depan anak-anak yang dicintainya setulusnya, telah mendapat berkah pekerjaan, amanah dan kehidupan yang layak bagi anak didiknya.
Guru kita pun, siapa pun dia, marah dan senyumnya adalah penyubur semangat dan kegembiraan menuntut ilmu. Sebagai manusia biasa, guru pun ada masalah dihadapi. Ada anak yang perlu perhatian di rumah. Ada suami atau istri yang juga harus dilayani.
Ada keluarga yang menjadi tanggung jawab mereka. Tidak semua guru, lancar dalam menjalani hidup. Tetapi, keteguhan hatinya menjalankan pengabdian sebagai pendidik masa depan anak-anak kita, menjadikan mereka "pahlawan tanpa jasa".
Hari ini, kita bersyukur, guru semakin berkembang dan bermutu kualitasnya. Mereka mendapat pendidikan yang berjenjang dan memadai. Pelatihan dan sertifikasi berbagai macam bidang keilmuan dapat diperoleh. Teknologi pendukung mempercepat dan mempermudah proses belajar mengajar.
Sarana dan prasarana pendukung sekolah dan kegiatan belajar mengajar lebih cukup, lebih baik, dan lebih maju. Ganjaran gaji juga lebih tinggi dan dapat memenuhi kebutuhan sehari-hari dan kebutuhan sekunder lainnya.
Namun, tantangan guru datang dari karyanya sendiri. Dari didikan guru, lahir generasi yang memiliki budaya literasi yang tinggi dan didukung berkembangnya teknologi informasi.
Di era hari ini, guru telah berjasa mendidik kita semua budaya literasi digital, literasi hak asasi dan hukum, literasi pendidikan dan pembelajaran, serta literasi berorganisasi dan berjejaring. Keempat modal literasi di atas, telah menjadikan kita semua sebagai orang tua siswa/pelajar dan siswa/pelajar sendiri dan seluruh komponen masyarakat begitu peduli dengan sistem pendidikan di negeri kita.
Mulai dari pembiayaan, kondisi sarana dan prasarana, kurikulum, proses belajar mengajar, sumber daya guru dan manajemen sekolah, tak luput dari pengawasan dan monitoring semua komponen masyarakat.
Saat ini, orang tua, bila menyekolahkan anak, disertai dengan harapan tinggi, semoga anak mereka lancar dan sukses menuntut ilmu. Mereka, para orang tua berharap anak mereka mendapat perlakuan adil dan setara di sekolah. Juga mereka berharap, anak mereka dididik dengan lingkungan belajar yang menggembirakan, penuh keramahan, aman serta terlindungi dari kekerasan.
Harapan orang tua ini, adalah harapan kita semua. Kita sadar, bagaimana lingkungan kekerasan dapat menghasilkan siklus kekerasan.
Namun, Kasus 630 siswa di SMAN I Cimarga, Kabupaten Lebak, Banten, yang protes pihak sekolah dengan aksi mogok sekolah karena kepala sekolah menampar muridnya (10 Oktober 2025), menyadarkan kita semua untuk mengedepankan dialog, pendekatan persuasif, pendekatan kelembutan, kasih sayang, empati, dalam mendidik dan membina siswa kita.
Bila kita menggunakan kekerasan, maka kekerasan akan tertanam dalam benak anak kita. Ketika dewasa, mereka juga akan menyelesaikan masalah dengan pendekatan kekerasan.
Kita tidak heran, bila terjadi kekerasan di rumah, di sekolah, akan menular dan terbawa ke lingkungan kampus, ke lingkungan kerja, ke jalan, ke lingkungan bertetangga dan bermasyakat, bahkan sampai lingkungan berdemokrasi dan berbangsa. Siklus kekerasan ini, akan menghasilkan regenerasi kekerasan secara terus menerus dan berkelanjutan.
Namun, sebaliknya, bila kita melihat kesalahan anak atau siswa kita, baru kemudian mengatasinya dengan menciptakan suasana yang nyaman, membangun kepercayaan, tidak menempatkan mereka pada suasana stigma atau dihakimi, menunjukkan empati dan kasih sayang, maka pendekatan ini akan terkesan kepada anak-anak kita.
Mereka merasa dihargai dan dihormati.Mereka memang salah, berprilaku buruk, namun kesalahan dan prilaku tersebut, telah menjadi titik masuk bagi kita pendidik, mengajarkan sesuatu yang mendasar dalam hidup mereka.
Kita senang mendengar, ada guru mengunjungi rumah siswanya (home visit) ketika siswanya ada masalah. Pendekatan seperti ini, membantu guru menemukan akar masalah dan kemudian dapat memberikan solusi tepat mengatasi masalah anak didik mereka
Anak-anak, siswa dan pelajar, adalah dunia kegembiraan dan penuh energi. Orang tua dan guru, bukan hanya bertugas mengisi kepala mereka dengan ilmu, tetapi juga menyentuh hati mereka dengan penuh kelembutan dan ketulusan.
"Taare Zameen Par (Like Stars on Earth)" film India yang disutradarai Aamir Khan dan rilis 21 Desember 2007, telah memberikan inspirasi kepada kita semua, bagaimana cara kita menangani anak yang "berbeda" dan semua anak itu istimewa cuma kita saja yang harus mengerti dan mencoba untuk mengajarinya dengan cara yang baik.
Kita memang memiliki pekerjaan rumah terkait kekerasan di dunia pendidikan. Berdasarkan data Jaringan Pemantauan Pendidikan Indonesia (JPPI), angka kekerasan di sekolah sejak tahun 2020 hingga 2024 mengalami kenaikan secara signifikan, dari 91 kasus pada tahun 2020 menjadi 573 kasus pada tahun 2024. Lebih dari itu, JPPI mencatat bahwa guru menjadi pelaku kekerasan tertinggi dengan angka mencapai 43,9 persen, disusul oleh kakak kelas, masyarakat, atau pihak lain sebesar 39,8%, sementara siswa yang menjadi pelaku tercatat sebanyak 13%.
Kita prihatin dengan kondisi pendidikan kita seperti ini. Padahal, pendidikan nasional bertujuan untuk mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab (Pasal 3 Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional).
Tujuan ini juga selaras dengan amanat UUD 1945 Pasal 31 ayat (3) yang menyatakan bahwa pendidikan nasional bertujuan meningkatkan keimanan dan ketakwaan serta akhlak mulia dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa.
Kita yakin, banyak guru yang sangat mulia telah mengorbankan waktu, tenaga, pikiran mereka untuk kemajuan pendidikan anak-anak di negeri ini. Kita berharap, mereka dapat terus menularkan semangat dan pengalaman positif mereka, kepada guru-guru kita yang lain.
Bila menemukan guru yang lalai dan bahkan melenceng dari tugas mulianya maka guru yang lainnya, harus pro aktif, bekerja sama dengan kawan guru yang lainnya mengatasi hal tersebut. Jangan sungkan menyampaikan ke atasan, bermusyawarah dengan tokoh pendidik di sekitar lingkungan, berkoordinasi dengan komite sekolah dan pihak terkait lainnya, mengatasi guru yang rentang dan rawan bermasalah. Kita tidak ingin, satu orang guru melakukan perbuatan kekerasan, merusak kemuliaan guru-guru kita yang lain.
Bagi anak-anak kami, murid, siswa dan pelajar, dan juga mahasiswa, teruslah menuntut ilmu, teruslah bersemangat, teruslah berlelah keringat, teruslah membaca buku, teruslah membuka telinga, teruslah berlatih, teruslah berbuat terbaik untuk masa depanmu. Memang, dalam perjalanan kalian dan kita semua, seringkali tidak semulus yang kita kira. Tantangan datang silih berganti, seperti ombak yang tak pernah berhenti mendatangi pantai.
Namun, menyikapinya tidak mesti panik. Mereka yang berjalan di pantai, justru menikmati ombak yang datang menimpa kaki dan badan mereka. Bahkan, ombak yang besar bagi si pelancar, justru menjadi pembangkit berselancar di antara ombak biru yang indah itu.
Satu hal penting kita ingat dan patut dijaga adalah hormati mereka yang telah membantu mengukir hidupmu, baik Guru di rumah (Bapak/Ibu), Guru di sekolah dan Guru di lingkungan kita. Mereka para guru, telah secara tulus menularkan ilmu mereka, melatih dan mendidik kita semua. Bila ada salah, maafkan mereka. Mereka juga manusia biasa. Bila mereka melewati batas atau mengajarkan sesuatu, adalah tugas kita dan semua pihak meluruskan.
Bagi masyarakat, perlu terus mengawal guru-guru kita, mendukung mereka, melakukan terbaik untuk anak-anak, demi generasi masa depan negeri. Kritik buat mereka, adalah bumbu melezatkan suasana lingkungan pendidikan kita. Jadilah mata, telinga, mulut, kaki dan tangan bagi guru dan anak didiknya dalam menciptakan lingkungan pendidikan yang inovatif, kreatif dan ramah.
Oleh karena itu, bagi penuntut ilmu, perlu terus belajar dan mengedepankan pendekatan "triangulasi" (perbandingan informasi dan data) dari berbagai guru agar ilmu yang didapatkan dapat lebih ramah dan bermanfaat. Kita menyayangkan bila ada lingkungan pendidikan, justru menciptakan generasi kekerasan, generasi yang menularkan kebencian, generasi yang radikal, generasi yang tidak ramah, generasi yang merasa diri paling benar, generasi sombong, generasi cuet tak peduli, generasi instan, generasi serakah, generasi perusak negeri.
Bila ada masalah, semua pihak perlu mengedepankan pendekatan damai, pendekatan dialog, pendekatan triangulasi atau "tabayyun". Tabayyun Istilah ini sering digunakan dalam Islam untuk mencari kejelasan atau memastikan kebenaran sebelum mengambil keputusan dan mendorong sikap agar tidak tergesa-gesa menyebarkan berita, apalagi jika dari sumber yang tidak dapat dipercaya, demi menghindari fitnah dan kesalahan.
Kita belajar pada kasus penanyangan program "Xpose Uncensored" di Trans7 (13 Oktober 2025), yang memicu kontroversi hubungan antara santri dan kiai di Pondok Pesantren Lirboyo, Kediri, dengan narasi yang dianggap merendahkan martabat pesantren.
Media adalah salah satu mata dan telinga publik. Namun, sekali lagi, prinsip triangulasi dan tabayyun perlu dilakukan. Apalagi pendidikan di lingkungan pesantren, bukan hanya sekedar menuntut ilmu umum. Hubungan antara guru (kyai) dan murid (santri ) melampaui hubungan guru-murid biasa, melainkan menjadi ikatan spiritual dan moral di mana kyai berfungsi sebagai ayah, pembimbing, dan teladan spiritual. Pendidikan Ilmu agama dilakukan secara bersanad dan bimbingan spritual dan tradisi wirid (amalan tertentu) dilakukan dalam rangka menciptakan ikatan spritual yang kuat, kesholehan dan akhlak mulia para santri secara berkelanjutan.
Murid (santri) mengabdi kepada guru (kyai) sebagai wujud khidmah (pelayanan) yang didasari keyakinan akan keberkahan, mendapatkan ridho dan doa orang sholeh, dan sarana mendidik jiwa dan membentuk karakter rendah hati (tawadhu), sabar dan ikhlas.
Oleh karena itu, "ilmu diperoleh dengan belajar, keberkahan ilmu diperoleh dengan khidmah" adalah slogan sangat populer di pesantren. Mereka tidak hanya berpikir di batas dunia yang material, tapi mereka mengajarkan "terang" dari kegelapan materialistik, sehingga "terang" juga nantinya ketika gelap datang setelah mata tertutup.
Walaupun begitu mulianya guru (Kyai) kita, Pendeta, Bhiksu, dan Guru Spritual lainnya, kita mengapresiasi kepada guru-guru yang mulia ini, mau menerima, bergaul, terbuka dengan kritik, mau berdiskusi, bersahaja, dan mengayomi. Kita berdoa, semoga Allah SWT, Tuhan Yang Maha Esa, selalu memberikan perlindungan, keberkahan kesehatan, kesejahteraan dan keistiqamahan kepada guru kita semua, Aamiin.
Selain di lingkungan pendidikan umum, kita juga perlu meningkatkan kewaspadaan terkait lingkungan pendidikan berbasis agama di sekolah agama dan di lingkungan masyarakat. Kita menemukan, selalu ada oknum, yang merusak dan mendegdradasi kemulian guru (Ustadz, Kyai, Pendeta, Bhiksu dan Guru Spritual pembimbing rohani lainnya).
Para oknum berkedok agama, tidak takut lagi dengan "malaikat" yang selalu mengawasinya, mencatat apa yang dilakukannya. Kesadaran spritual menipis dan bahkan tercabut.
Pada situasi seperti itu, mereka memanipulasi kedudukan guru yang sangat mulia itu dengan "topeng" kepalsuan dengan tujuan memenuhi kepentingan pribadi dan memuaskan nafsunya. Oknum guru bertopeng kesucian spritual, kini merebak di lingkungan masyarakat. Lebih parahnya, oknum guru spritual ini seringkali memakan korban tidak tunggal.
Pada konteks seperti ini, prinsip berpikir rasional perlu ditanamkan kepada seluruh anak didik dan kita semua. Bahwa "guru ditaati ketika mengajar yang benar, kalau salah, murid dapat meninggalkan mereka. Guru ditaati jika memiliki integritas dan keteladanan atas apa yang diajarkan, dibicarakan, dan diperbuat. Bila tidak konsisten antara perkataan dan perbuatan, jauhi dan jangan jadikan tauladan".
Semua pihak berhak mengawasi dan berani bersuara atas kebenaran serta melaporkan kepada pihak terkait. Terutama, bagi anak-anak didik (murid, siswa, pelajar/santri , mahasiswa ), bila ada situasi rawan kekerasan dan bahkan mendapatkan kekerasan segera lapor.
Negara, melalui Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak telah menyediakan saluran pelaporan utama yaitu SAPA 129 (Sahabat Perempuan dan Anak). Layanan khusus untuk kekerasan terhadap perempuan dan anak dari Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KemenPPPA), ini dapat diakses melalui Telepon: 129, WhatsApp: 08111-129-129 dan Online: Tersedia formulir pengaduan di situs web : SAPA 129 https://laporsapa129.kemenpppa.go.id/
Kepolisian Republik Indonesia juga menyediakan Call Center /Hotline : 110, untuk melaporkan berbagai tindak pidana, termasuk kekerasan. Polisi juga memiliki platform online seperti Dumas Presisi (dumaspresisi.polri.go.id) untuk pengaduan masyarakat.
Kementerian Agama juga telah merilis TelePontren sebagai layanan aduan dan komunikasi berbasis chat dan call center dengan nomor resmi 082226661854. Layanan ini bertujuan untuk menyediakan saluran yang aman dan rahasia untuk melaporkan kasus perundungan dan kekerasan di lingkungan pendidikan keagamaan (diniyah, pesantren) dan pendidikan keagamaan Islam lainnya.
Kemudian juga Kementerian Komunikasi dan Digital telah menyiapkan Platform pelaporan online : siaplaporkan.id. Platform ini dapat diakses melalui website, WhatsApp, dan SMS. Untuk pelaporan melalui WhatsApp : 0811-9620-0340
Semoga responsifitas, partisipasi aktif dan sinergi seluruh elemen negeri, akan dapat menciptakan lingkungan pendidikan yang ramah, generasi masa depan yang damai, dan negeri yang harmoni, jauh dari kekerasan. Aamiin
Tribuners adalah platform jurnalisme warga. Untuk berkontribusi, anda bisa mengirimkan karya dalam bentuk berita, opini, esai, maupun kolom ke email redaksi@tribunnews.com
Konten menjadi tanggungjawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi tribunnews.com.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/Andi-Muhammad-Jufri-sdf.jpg)
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.