Tribunners / Citizen Journalism
Jamur: Penjaga Sunyi Hutan Indonesia yang Terlupakan
Indonesia, menopang ekosistem lewat miselium dan peran vital yang sering terlupakan.
Sebagai negara megabiodiversitas, Indonesia menyimpan ribuan jenis jamur, dari hutan hujan Sumatra hingga pegunungan Papua. Berdasarkan data Status Keanekaragaman Hayati Indonesia (2017) terdapat 2.273 spesies jamur yang telah diidentifikasi.
Jumlah ini sangat sedikit karena hanya sekitar 1.9 persen dari jamur yang ada di dunia.
Artinya masih ada ribuan spesies yang belum sempat kita kenali, padahal mungkin memiliki manfaat besar.
Belum ada data terbaru yang menampilkan berapa jumlah pasti jamur Indonesia yang telah berhasil diidentifikasi.
Ironisnya, banyak spesies mungkin sudah punah sebelum sempat ditemukan, seiring hilangnya hutan akibat ekspansi perkebunan, tambang, dan pembangunan.
Kehilangan satu kawasan hutan berarti hilangnya seluruh jaringan kehidupan di bawahnya, termasuk jamur endemik yang tak tergantikan.
Sayangnya, meski memiliki peran vital, jamur kerap terabaikan dalam kebijakan nasional. Undang-Undang Nomor 34 Tahun 2024 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati hanya membagi keanekaragaman hayati ke dalam dua kelompok yaitu tumbuhan dan hewan.
Padahal jamur bukan keduanya, melainkan kerajaan tersendiri yang layak mendapat pengakuan. Fokus konservasi kita selama ini lebih banyak diarahkan pada satwa besar seperti harimau, gajah, dan orang utan. Upaya itu tentu penting, tetapi pendekatan yang hanya menyoroti yang terlihat di permukaan membuat kita melupakan fondasi ekosistem yang menopang semuanya.
Negara-negara tetangga sudah lebih maju dan memberikan perhatian lebih pada keberadaan jamur dibandingkan Indonesia.
Vietnam menyusun Law on Biodiversity (No.20/2008/QH12) yang secara eksplisit memasukkan istilah fungi dalam ruang lingkup perlindungan dan penyusunan daftar spesies prioritas.
Singapura telah mencantumkan beberapa spesies fungi ke dalam Singapore Red Data Book sebagai langkah penting dalam mengenali fungi sebagai bagian dari spesies yang perlu dilindungi.
Sementara itu, Malaysia dan Thailand terus memperkuat riset mikologi dan survei keanekaragaman jamur melalui kerjasama antar universitas dan lembaga konservasi.
Indonesia seharusnya bisa mengikuti langkah serupa dengan merevisi kebijakan agar mencakup jamur atau fungi secara eksplisit, mendukung riset yang lebih luas, dan melibatkan masyarakat adat yang selama ini hidup berdampingan dengan jamur dalam upaya dokumentasi dan perlindungan.
Kepedulian terhadap jamur seharusnya tidak hanya menjadi tanggung jawab ilmuwan dan aktivis lingkungan, melainkan urusan semua orang. Hal ini karena jamur hadir dalam kehidupan sehari-hari.
Mulai pada roti yang kita makan, keju yang kita nikmati, obat yang kita konsumsi, hingga tanah tempat sayuran tumbuh. Tanpa mereka, siklus kehidupan di bumi akan terhenti.
Tribuners adalah platform jurnalisme warga. Untuk berkontribusi, anda bisa mengirimkan karya dalam bentuk berita, opini, esai, maupun kolom ke email redaksi@tribunnews.com
Konten menjadi tanggungjawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi tribunnews.com.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/ILUSTRASI-JAMUR-terapi-selandia-baru.jpg)