Jumat, 23 Januari 2026

Tribunners / Citizen Journalism

Banjir Bandang di Sumatera

Alam Mulai Bicara

Toba adalah kita: suara alam, pertobatan ekologi, dan peringatan keras atas abai menjaga lingkungan.

Editor: Glery Lazuardi
(Ho/Campus League)
MARUAP SIAHAAN - Maruap Siahaan mengajak merenung. Lilin menyala di tepian Danau Toba, simbol pertobatan ekologi dan suara alam yang mulai bicara. 

Maruap Siahaan

Ketua Umum (Ketum) Yayasan Pencinta Danau Toba (YPDT)

Ketua Pembina Batak Center

Tempat/Tanggal Lahir

Siborongborong, 10 Desember 1967

Riwayat Pendidikan 

Universitas Terbuka - UT

Ekonomi Studi Pembangunan

1987 - 1989

Institut Teknologi Bandung - ITB

S1 Farmasi

1986 - 1991

Institut Teknologi Bandung - ITB

Program Apoteker

1991 - 1992

 
Alam Mulai Bicara 

Ibuku alam

Tanah, batu, pasir, air dan hutan kayu

Itu aku.

hewan liar, terbang dan melata, kupu dan serangga

Itu aku. 

 

Ini tempatku

Bersama ibuku alam aku ada

Di hutan ini  

seharusnya aku memang di sini.

 

Ibuku alam punya rasa

Ia bisa gembira, kecewa dan marah 

Ia bisa membedakan suaramu jujur dan atau dusta

Ia bisa tahu langkah pejalan hutan yang  baik atau jahat, 

 

Tetapi ada  mereka yang datang 

bahkan dari seberang

Hiruk pikuk bernyanyi 

dan mabuk dalam tarian 

Dari jelata hingga jelita

Mendengar penguasa 

bersabda umbar janji

seakan pemilik masa depan:

 

"Pegang janjiku! Aku padamu! Aku untukmu!"

 

Tetapi apa yang mereka lakukan?

Rakus dan rusak,

 

Ibuku alam, akan marah

Ia akan ubah jadi sunyi mencekam

Hujan duka meluap 

ratap dan tangis akan melangit

Ari matamu akan menyatu banjir bah

melanda semua segala

 

Ibuku akan murka

Ia adalah angin menusuk

Bagai anak panah dendam kesumat

Tanpa peringatan,

 tanpa pilih siapa pelaku siapa korban

Hujan kebohongan bukanlah berkat

Sebab sungai kejujuran mengubahnya 

menjadi bencana

amuk banjir bandang tanah longsor

 

Ibuku alam memang marah

Sebab kalian abai Perintah  Sang Pencipta yang pertama pada manusia :

 Peliharalah  Taman Eden. (Kej 2;15). Rawatlah alam lingkungan.

 

Engkau akan menggigil dalam sunyimu

Mereka yang kau elukan entah di mana

Di manakah dia yang dielu-elukan bak pahlawan itu?

Di mana dia yang  suaranya lantang menggelegar umbar janji itu?

Entahlah, 

Seribu dalih dan sandiwara tipu-tipu

Mereka pamer tanpa malu-malu

 

Mereka tak punya telinga tak punya hati

Mereka tidak akan mengaku bersalah.

Bahkan menuduh alam yang salah

 

Maka menangislah

Tissu yang dibuat dari bahan kayu

hutan luas yang direbah serata tanah

lalu diangkut ke pabrik

Tak akan sanggup membendung air matamu

 

Ibuku alam, tak pernah berbohong

Batu dan lumpur membawa  kayu jarahan, menambah beban utk memporak porandakan kampung dan rumahmu 

membuktikan kemunafikan mereka

yang janji teriak lantang itu

mereka yang bak pahlawan itu

Peganglah kata-kataku

ini belum selesai

Besok akan lagi, dan lebih lagi

 

Toba Adalah Kita

Kami suarakan ini di Parapat persis 10 tahun lalu.  Tahun 2015 (Acara YPDT) pertobatan ekologi dengan menyalakan 1000 lilin di seluruh kawasan Danau Toba.

Di malam 30 Desember 2015, GCDT (Gerakan Cinta Danau Toba 27-30 Des 2015, Menyalakan lilin di seluruh Kawasan Danau Toba) dan live di Parapat. 

Sekarang banyak berita dan cerita. Katanya ini hanya gejala alam semata. Semua tidak perlu kuatir, karena ini akan berlalu.

Toba yang baik, 

Tao nauli,  aek na tio, mual hangoluan

airnya sudah keruh dan ikan mati

tapi kata mereka yang punya kata-kata,

Itu fenomena biasa

esok matahariakan cerah

Danau Toba akan jernih kembali. 

Tetapi hujan akan berhenti

Kekeringan akan lebih panjang lagi. Keramba akan tetap ada 

Merusak segalanya di tengah danau. Mereka aman dan tidak perlu kuatir,

 panen tetap raya. 

Hutan masih ada, penebang jangan berhenti, tunas masih akan tumbuh. 

Benih masih banyak, tetaplah menebang. 

Tetapi "Seang do tarup ijuk soada langge panoloti, seang do sipaingot so adong na mangoloi."

Jangan ada sesal kalau tahun berikut kaluan hanyut bersama handai taulan di sana. Karena telinga sdh tidak mendengar dan mata sdh tidak melihat.

Terdengar lantang di televisi

Kembali dan pulanglah dari pengungsian. Besok matahari masih terbit. Sembako akan datang, pejabat bak pahlawan bawa segenggam harapan.

Tersedia permen buat anak yang kehilangan ayah dan ibu. Manis anakku, makan lah.

Berhentilah menangis. Masih ada tissu untuk air matamu, diproduksi dari kayu hutan sekelilingmu.

Toba adalah kita

Yang membiarkan tontonan itu 

sementara kayu-kayu masih tetap antri

masuk pabrik untuk dijadikan tissue menghapus air mata kita.

Tao nauli,  aek na tio, mual hangoluan

Sipalambok pusupusu, 

Alai dung hupajojok dompak ho,

Rohanghu pe lamu gondok, 

Ooo, Tao Toba Nauli .

Haruskah aku pergi menjauh?

Tribuners adalah platform jurnalisme warga. Untuk berkontribusi, anda bisa mengirimkan karya dalam bentuk berita, opini, esai, maupun kolom ke email redaksi@tribunnews.com

Konten menjadi tanggungjawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi tribunnews.com.

Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved