Tribunners / Citizen Journalism
Transformasi Pesantren Ala KH Wahid Hasyim dan Masa Depannya
BULAN Ramadan setiap tahun selalu menyuguhkan fenomena unik dan antik di dalam pesantren.
Oleh: KH Abdussalam Shohib
BULAN Ramadan setiap tahun selalu menyuguhkan fenomena unik dan antik di dalam pesantren. Tidak tergerus waktu; kiai, santri, dan alumni semua berburu ngaji posoan (pengajian khusus bulan Ramadan) dengan sistem bandongan.
Inilah salah satu warisan tradisi pendidikan pesantren yang telah berjalan berabad-abad. Bandongan tetap hidup di tengah laju pesantren yang makin modern.
Akar Sejarah dan Perlawanan
Pesantren menjadi lembaga pendidikan tertua di Nusantara sejak abad ke-15 Masehi. Ia mewariskan sistem pendidikan, ideologi, filosofi, dan tradisi yang mengakar di dalam kehidupan masyarakat. Dalam sejarahnya, pesantren tidak pernah dijajah oleh sistem kolonial. Sebaliknya, ia menjadi perintis dan basis perlawanan masyarakat terhadap penjajahan.
Sejarah juga mencatat bahwa sebagian besar tokoh besar Nusantara ditempa dan dipengaruhi oleh kehidupan pesantren. Termasuk para tokoh di masa pergerakan nasional, masa merebut dan mempertahankan kemerdekaan Indonesia, hingga saat menghadapi pemberontakan PKI. Fakta ini dapat diidentifikasi dari perjalanan bangsa dari Sabang hingga Merauke.
Dalam konteks tersebut, kontribusi pesantren tidak hanya fenomenal, tetapi juga monumental yang memiliki dimensi di tingkat komunal, bangsa, dan negara. Pesantren tidak hanya menyebarkan ajaran Islam universal ke seluruh Nusantara, tetapi telah menyatu dengan denyut nadi masyarakat beserta rasa nasionalisme melalui hubungan timbal balik dalam merespons perubahan sosial yang dinamis.
Sesuai dasar kehidupannya, pesantren menjadi lembaga ta’lim wa ta’allum li tafaqquh fi al-din (belajar mengajar untuk mendalami ilmu agama) dan tarbiyah (mendidik kepribadian muslim yang mulia). Semua dilakukan sesuai tradisi pengajaran dan pendidikan santri secara turun-temurun berdasarkan sanad guru dan pendahulunya.
Transformasi Pesantren Berbasis Tradisi
KH Abdul Wahid Hasyim (Gus Wahid), putra Hadratussyeikh KH M. Hasyim Asy’ari—pendiri Pesantren Salafiyah Syafi’iyyah Tebuireng, Jombang—adalah sosok ulama muda yang mendobrak tradisi pengajaran di pesantren. Berdasarkan keluasan ilmu, pengalaman, dan wawasan global, Gus Wahid melakukan terobosan-terobosan dalam sistem pembelajaran pesantren.
Ia berangkat dari fakta bahwa meski kontribusi pesantren luar biasa, di sisi lain model persekolahan yang diselenggarakan melalui kebijakan "Politik Etis" Hindia Belanda telah menghasilkan tokoh pergerakan dan teknokrat sebagai pamong praja di pemerintahan.
Ada kesenjangan kualitas antara lulusan pesantren berbasis agama dan sekolah umum di tengah pergerakan nasional. Kala itu, terdapat kebutuhan literasi tambahan untuk meningkatkan kecakapan komunitas pesantren dalam memahami dan mengelola situasi di tengah pergolakan melawan kolonialisme.
Dalam kesadaran Gus Wahid, lulusan pesantren tidak semuanya harus menjadi ulama, ustadz, atau pendakwah. Tanggung jawab sosial di luar pesantren harus diisi oleh mereka yang cakap sekaligus memiliki kepribadian pesantren. Karenanya, santri tidak hanya harus menguasai ilmu agama berbasis kitab kuning, tetapi juga ilmu pengetahuan yang dibutuhkan dalam bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.
Pada titik ini, Gus Wahid muda—setelah menyelesaikan pendidikan di Makkah dan menyerap dinamika sosial-politik di Jazirah Arab—pada tahun 1934 mengusulkan kepada ayahandanya untuk merombak sistem pembelajaran di Pesantren Tebuireng. Ia mengusulkan transisi dari tradisi sorogan dan bandongan menjadi sistem klasikal dengan tambahan kurikulum ala sekolah Barat yang saat itu dinilai tabu.
Lompatan besar yang terkesan tiba-tiba ini mengagetkan sistem tradisional di Tebuireng. Mbah Hasyim Asy’ari tidak langsung setuju, namun beliau bijak dengan memberi izin kepada Wahid Hasyim untuk mendirikan madrasah sendiri bernama "Nidzamiyah" yang terpisah dari sistem pengajaran mapan di Tebuireng.
Bersama sahabatnya, Kiai M. Ilyas, Gus Wahid menerapkan 70 persen kurikulum berisi materi pelajaran umum, termasuk bahasa Inggris. Metode bandongan diganti dengan metode tutorial yang sistematis untuk menciptakan pembelajaran yang konstruktif, kreatif, dan menyenangkan di dalam kelas.
Pengetahuan modern seperti ilmu politik, matematika, ekonomi, ilmu bumi, biologi, kebudayaan, dan sejarah menjadi materi pelajaran. Siswa didorong untuk belajar mandiri, optimis, dan diberikan ruang untuk merdeka dalam menggapai impian tanpa rasa takut salah.
Sumber: Tribunnews.com
Tribuners adalah platform jurnalisme warga. Untuk berkontribusi, anda bisa mengirimkan karya dalam bentuk berita, opini, esai, maupun kolom ke email redaksi@tribunnews.com
Konten menjadi tanggungjawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi tribunnews.com.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/KH-Abdussalam-Shohib.jpg)